Taruna OII Ekspor 100 Kg Daun Ketapang ke Australia

Dwi H. · 2 min baca · 2 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Taruna OII Ekspor 100 Kg Daun Ketapang ke Australia

Gambar atau konten salah?

Sebanyak 100 kilogram daun ketapang berhasil dikirim ke Australia oleh para taruna dan taruni Ocean Institute of Indonesia (OII) Kampus Sidoarjo, Jawa Timur. Pengiriman ini terjadi menjelang akhir Oktober 2026. Meski nilai transaksinya masih tergolong kecil, langkah ini menjadi pintu masuk bagi mereka untuk merasakan langsung dunia ekspor.

Daun ketapang dipilih karena punya potensi besar di industri ikan hias dan akuarium. Dengan pengolahan yang tepat, daun ini bisa menjadi produk bernilai tambah. Bukan sekadar daun kering, tapi komoditas yang punya harga jual.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan transformasi sumber daya manusia di sektor kelautan tidak bisa hanya berhenti pada menyiapkan lulusan untuk mengisi lowongan kerja. Lebih dari itu, kompetensi harus dibangun agar mereka bisa berinovasi dan berwirausaha. "Transformasi SDM kelautan dan perikanan tidak cukup hanya menyiapkan lulusan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja. Kita juga perlu membangun kompetensi agar mereka mampu berinovasi, berwirausaha, dan menciptakan nilai tambah dari potensi yang berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan. Pengalaman ini merupakan salah satu langkah untuk membentuk SDM yang adaptif dan berdaya saing," ujar Sakti dalam keterangan tertulis pada Senin, 02 November 2026.

Pernyataan itu disampaikan dalam siaran resmi di Jakarta sehari sebelumnya, Minggu, 01 November 2026.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa ekspor ini adalah hasil dari pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PBL). Program ini dijalankan oleh mahasiswa Program Studi Agribisnis Perikanan OII Kampus Sidoarjo. Mereka bekerja sama dengan CV Al Mina Berkah.

Prosesnya dimulai dari mengirim sampel sebanyak dua kilogram ke calon pembeli di Australia. Pada September 2026, permintaan lanjutan datang. Jumlahnya melonjak menjadi 100 kilogram dengan nilai transaksi 15 dolar AS per kilogram.

Para taruna dan taruni terlibat dalam seluruh rangkaian bisnis. Mereka mengidentifikasi calon pembeli, melakukan korespondensi perdagangan internasional, menyeleksi bahan baku, menjaga mutu, hingga menyiapkan produk untuk pasar luar negeri. Semua dilakukan sendiri.

"Nilai transaksi awal mungkin belum besar, tetapi yang lebih penting adalah terbukanya akses ke pasar internasional dan pengalaman taruna menjalani proses ekspor secara langsung. Dari sini, mereka belajar bahwa peluang usaha dapat dibangun dari potensi lokal, selama ada pengetahuan, kreativitas, kualitas produk, dan kemauan untuk membaca kebutuhan pasar," tutur Nyoman.

Pengalaman ini bukan sekadar cerita sukses kecil. Ini mencerminkan arah baru pendidikan vokasi kelautan dan perikanan. Satuan pendidikan kini tidak hanya mencetak tenaga kerja, tapi juga wirausahawan. Mereka didorong untuk menciptakan peluang ekonomi sendiri, bukan sekadar menunggu lowongan kerja.

Melalui pembelajaran berbasis praktik dan kemitraan dengan pelaku usaha, para taruna mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana potensi lokal bisa diubah menjadi produk yang diminati pasar global. Daun ketapang yang mungkin selama ini dianggap remeh, ternyata bisa menjadi komoditas ekspor. Kuncinya ada pada pengetahuan, kreativitas, dan kemauan untuk membaca kebutuhan pasar.

daun ketapangeksporAustraliatarunaOII Sidoarjowirausahanilai tambah

Komentar

Memuat komentar...