Tri Hari Suci Medan: Uskup Kornelius Adakan Pembasuhan Kaki

Rizki W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Tri Hari Suci Medan: Uskup Kornelius Adakan Pembasuhan Kaki

Gambar atau konten salah?

Di Medan, umat Katolik menandai akhir Prapaskah dengan Tri Hari Suci, rangkaian tiga hari paling suci dalam kalender gereja. Pada 02 April 2026, gereja Santa Maria Tanpa Noda—yang berfungsi sebagai katedral Medan—menjadi tempat berkumpulnya ribuan jemaat.

Tri Hari Suci terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci atau Malam Paskah. Selama tiga hari ini, umat mengingat misteri penebusan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Rangkaian dimulai dengan misa petang Kamis Putih, mencapai puncak pada malam Paskah, lalu berakhir pada ibadah sore Minggu Paskah, menandai kemenangan atas dosa dan kematian.

Di hari Kamis Putih, gedung gereja penuh, aula dan halaman depan dipenuhi jemaat yang mengenakan pakaian serba putih. Misa dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap. Misa dimulai dengan nyanyian dan doa, lalu diikuti oleh ritual pembasuhan kaki.

Uskup Kornelius membasuh 12 kaki umat satu per satu, simbol bahwa mereka adalah murid-murid Yesus. Ia menekankan makna perjamuan malam terakhir dan perintah Yesus untuk melayani. “Yesus telah melayani, berlutut dan membuktikan dengan kasih. Saudara-saudari terkasih, apa yang dilakukan Yesus pada malam terakhir sungguh seperti petir menyambar,” ucapnya.

Dalam khotbahnya, Uskup Kornelius menegaskan bahwa menjadi orang besar bukan berarti dilayani, melainkan melayani dengan kasih. Ia menambahkan, “Sungguh mengejutkan, membekas dalam diri kita, menjadi besar bukan dilayani tapi melayani dan menghormati.” Ia mengajak jemaat untuk mengikuti teladan Yesus, menuruti perintah, dan menghormati sesama.

Setelah misa, umat melaksanakan Tuguran, ibadat berjaga-jaga dan berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Tuguran berlangsung dari jam 10.00 hingga tengah malam, lalu dilanjutkan hingga subuh. Tradisi ini mengajak umat untuk menemani Yesus berdoa di Taman Getsemani sebelum penangkapannya.

Makna lain yang diingat adalah perintah Yesus untuk melanjutkan perjamuan sebagai kenangan akan Dia. Tuguran, atau Adorasi, merupakan bentuk penghormatan setelah misa, di mana jemaat berdoa di tempat yang dianggap sakral.

Warna liturgi putih pada Kamis Putih melambangkan kemuliaan, sukacita, dan cinta kasih. Warna ini menegaskan semangat kebersamaan dan harapan yang dibawa oleh perjamuan terakhir.

Melalui rangkaian Tri Hari Suci, umat Medan menegaskan kembali nilai pelayanan, kerendahan hati, dan kasih yang diajarkan Yesus. Momen ini menjadi ajakan bagi semua jemaat untuk hidup dalam kasih, melayani, dan menghormati sesama, sesuai teladan yang ditetapkan dalam perjamuan terakhir.

Tri Hari SuciKamis PutihJumat AgungSanta Maria Tanpa NodaUskup Kornelius SipayungTuguranPerjamuan Terakhir

Komentar

Memuat komentar...