US Berikan Dana Darurat 9 Miliar USD untuk AI Intelijen
Gambar atau konten salah?
22 Mei 2024 – Gedung Putih mengumumkan persetujuan dana darurat sebesar USD 9 miliar (sekitar Rp 143 triliun) untuk memperkuat kecerdasan buatan (AI) di lembaga intelijen Amerika Serikat.
Uang ini akan dialokasikan khusus untuk membeli chip AI canggih dan membangun infrastruktur khusus di lingkungan rahasia pemerintah. Badan seperti CIA dan NSA kini dapat menyiapkan model AI mutakhir yang setara dengan perusahaan teknologi komersial, namun tetap beroperasi di balik tembok keamanan yang ketat.
Sejak lama, lembaga intelijen menghadapi kendala pasokan semikonduktor canggih. Hal ini membuat penerapan model AI terbaru di sistem rahasia menjadi sulit. Dana USD 9 miliar difokuskan untuk menutup celah tersebut.
Mayoritas pendanaan ditujukan untuk mendukung chip super Grace Blackwell milik Nvidia. Chip ini tidak bisa dipasang di server biasa; ia membutuhkan lingkungan khusus, termasuk:
- Data center dengan kapasitas suplai daya listrik yang sangat besar.
- Sistem pendingin cair (liquid cooling) tingkat lanjut untuk mencegah overheating.
Inisiatif pengajuan dana rahasia ini pertama kali diungkap oleh jurnalis The New York Times, Dustin Volz dan Julian E. Barnes, berdasarkan keterangan dari berbagai sumber pejabat dan mantan pejabat AS.
Kekhawatiran utama di balik alokasi mendadak ini jelas: lembaga intelijen tidak ingin tertinggal. Mereka takut tidak hanya disalahkan oleh musuh dan pesaing asing, tetapi juga tertinggal dari kemampuan laboratorium AI komersial yang menggunakan perangkat keras publik.
AI generatif kini menjadi kunci untuk memproses volume data intelijen yang sangat besar. Data mentah meliputi citra satelit, hasil sadapan komunikasi, hingga intelijen sumber terbuka (open-source). Jumlahnya telah melampaui batas kemampuan analisis manusia secara manual.
Pengeluaran dana ini mencerminkan strategi pemerintahan era Trump untuk menutup kesenjangan teknologi sebelum menjadi kelemahan fatal bagi keamanan nasional AS.
Dengan investasi ini, lembaga intelijen AS dapat mempercepat adopsi model AI mutakhir, menutup ketergantungan pada pasokan semikonduktor terbatas, dan memastikan bahwa mereka tetap kompetitif dalam mengolah data intelijen yang terus berkembang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
