IHSG Menguat 1,10%, Asing Borong Saham Rp1,22 Triliun

Teguh A. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Menguat 1,10%, Asing Borong Saham Rp1,22 Triliun

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada Kamis, 16 Juli 2026. Indeks naik 1,10% ke posisi 6.108,21. Saham-saham seperti ASII, BMRI, dan BBCA menjadi pendorong utama kenaikan. Sementara itu, UNTR, VKTR, dan AMRT justru menjadi pemberat laju indeks.

Investor asing masih menunjukkan minat yang besar terhadap pasar saham Indonesia. Data mencatat, mereka melakukan pembelian bersih senilai Rp283,41 miliar di pasar reguler. Angka ini membengkak menjadi sekitar Rp1,22 triliun jika seluruh pasar diperhitungkan. Aliran dana ini sebagian besar terserap di sektor perbankan dan komoditas. Termasuk di dalamnya, ada transaksi negosiasi terkait pengambilalihan saham PKPK yang nilainya lebih dari Rp1 triliun.

ETF EIDO ikut menguat 1,33%, dan indeks MSCI Indonesia naik 1,55%. Semua sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup hijau. Sektor teknologi menjadi pemimpin dengan kenaikan 1,94%. Namun, situasi berbeda terjadi di Amerika Serikat. Bursa saham AS justru melemah. Dow Jones turun 0,20% ke 52.552. S&P 500 terkoreksi 0,51% ke 7.533. Nasdaq turun paling dalam, yaitu 1,47% ke posisi 25.881.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)

TBIG punya rencana baru. Perusahaan ingin memperluas bisnisnya dengan menambahkan layanan Network Access Point (NAP). Layanan ini akan dijalankan melalui anak usahanya, PT Tower Bersama. Langkah ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem infrastruktur digital perusahaan, yang selama ini dikenal dengan bisnis penyewaan menara telekomunikasi.

Karena anak usaha tersebut menyumbang lebih dari 20% pendapatan konsolidasi, rencana ini masuk kategori transaksi material. Artinya, TBIG harus mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 24 Agustus 2026.

Layanan NAP nantinya akan fokus sebagai penyedia wholesale IP transit. Target pelanggannya adalah ISP Tier 2-3 dan pelanggan korporasi. Untuk menjalankan layanan ini, TBIG akan memanfaatkan infrastruktur yang sudah dimiliki grup. Ada jaringan serat optik sepanjang lebih dari 60.000 kilometer, ribuan menara telekomunikasi, dan pusat data.

Untuk mewujudkan rencana ini, TBIG menyiapkan investasi awal sekitar Rp47,40 miliar. Seluruh dana tersebut berasal dari kas internal perusahaan. Dengan skema pendanaan seperti ini, perusahaan menyatakan tidak ada perubahan struktur permodalan. Tidak ada pula penambahan pinjaman baru. Berdasarkan studi kelayakan independen, proyek ini memiliki estimasi IRR sebesar 18,65%. NPV-nya positif Rp37,83 miliar. Profitability Index mencapai 1,86 kali. Estimasi periode pengembalian investasi sekitar 7 tahun 4 bulan.

PT Pinago Utama Tbk (PNGO)

PNGO kini memasuki periode penawaran tender wajib atau Mandatory Tender Offer (MTO). Tender ini dilakukan oleh pengendali baru perusahaan, yaitu AEP Nusantara Holdings Limited.

Penawaran berlaku untuk maksimal 13,59 juta saham milik publik. Jumlah itu setara dengan sekitar 1,74% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga yang ditawarkan adalah Rp3.584 per saham. Jika seluruh saham tersebut dibeli, nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp48,69 miliar.

Periode MTO berlangsung mulai 16 Juli 2026 hingga 14 Agustus 2026. Sebelumnya, AEP Nusantara telah menyelesaikan akuisisi 98,26% saham PNGO pada Mei 2026. Nilai transaksi akuisisi itu mencapai Rp2,75 triliun.

Perusahaan menjelaskan, pelaksanaan MTO ini adalah tindak lanjut dari ketentuan yang berlaku setelah terjadi perubahan pengendali. AEP Nusantara juga menyatakan tidak memiliki rencana untuk menghapus pencatatan saham PNGO dari bursa. Meskipun kepemilikan nantinya mencapai 100%, pengendali baru tetap harus memenuhi ketentuan mengenai porsi kepemilikan saham publik sesuai regulasi yang berlaku.

PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)

HATM berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Perusahaan akan menerbitkan maksimal 800 juta saham baru. Jumlah itu setara dengan 9,22% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga pelaksanaan saham baru ini akan mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia. Harganya setidaknya 90% dari rata-rata harga penutupan saham selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum pengajuan pencatatan saham tambahan.

Dana yang terkumpul dari aksi korporasi ini akan digunakan untuk belanja modal. Perusahaan juga menegaskan bahwa transaksi ini tidak mengubah pengendali perusahaan. Setelah PMTHMETD selesai, kepemilikan masyarakat diperkirakan berubah dari 13,29% menjadi 12,17%. Artinya, pemegang saham publik berpotensi mengalami dilusi sekitar 8,44%.

Rekomendasi Saham

  • ASII - Buy 5025-5075 | Target Harga 5150-5200 | Stop Loss 4760
  • WIFI - Buy 2000-2030 | Target Harga 2060-2100 | Stop Loss 1885
  • NCKL - Buy 830-840 | Target Harga 855-870 | Stop Loss 785
  • IRSX - Buy 288-292 | Target Harga 298-302 | Stop Loss 274
  • SMGR - Buy 1480-1495 | Target Harga 1510-1530 | Stop Loss 1410

Perlu diingat, semua analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif. Ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor.

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG yang menguat di tengah pelemahan bursa global menunjukkan masih adanya kepercayaan investor terhadap pasar domestik. Aksi korporasi dari TBIG, PNGO, dan HATM menjadi sorotan utama, masing-masing dengan strategi dan tujuan yang berbeda. TBIG fokus pada ekspansi bisnis digital, PNGO menjalankan kewajiban setelah perubahan pengendali, sementara HATM mencari tambahan modal untuk belanja modal. Ketiga emiten ini memberikan gambaran beragam tentang dinamika pasar modal Indonesia saat ini.

IHSGsahaminvestor asingTBIGPNGOHATMrekomendasi saham

Komentar

Memuat komentar...