Wamendik Sains Antar Anak ke Sekolah di Hari Pertama
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menjalani peran ganda pada hari pertama sekolah, Senin, 13 Juli 2026. Dengan mengenakan seragam dinas sebagai wakil menteri, ia mengantar anaknya, Bayu Czech, yang baru pindah sekolah.
Bayu, sapaan akrabnya, sebelumnya bersekolah di China dan kini resmi duduk di bangku kelas 4 SD Santa Ursula, Jakarta. Perpindahan ini bukan tanpa alasan. Stella mengungkapkan kekhawatirannya sebagai orang tua melalui unggahan Instagram pribadinya pada Selasa, 14 Juli 2026.
"Orang tua mana yang tidak khawatir tentang pendidikan anaknya? Kami pun demikian," ujarnya.
Selama ini, Bayu tinggal di Beijing bersama ayahnya, Bartlomiej 'Bartek' Czech, yang bekerja sebagai Profesor Fisika di Tsinghua University. Bayu sudah bersekolah di China sejak kelas 1 SD. Namun, situasi berubah drastis ketika Stella dipilih menjadi Wamendiktisaintek.
"Ketika saya dipanggil oleh Bapak Presiden untuk mengabdi kepada negara, semuanya serba tiba-tiba. Saat itu Bayu baru masuk kelas 2 SD di Beijing," jelas Stella.
Kala itu, Stella dan Bartek mempertimbangkan dampak besar yang mungkin terjadi jika Bayu tiba-tiba harus pindah ke Indonesia. Mereka memutuskan Bayu tetap bersekolah di Beijing. Namun, setelah satu tahun delapan bulan hidup terpisah, jarak itu terasa sangat berat.
"Satu tahun 8 bulan hidup terpisah, sangatlah sulit untuk saya dan Bayu. Sudah terlalu lama. Terima kasih Bayu yang ngebelain sering jenguk ibunya walaupun sering tidur di pesawat dan langsung dari bandara ke sekolah," kata Stella.
Bayu sering terbang dari China ke Indonesia atau negara lain hanya untuk bertemu ibunya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Stella dan Bartek akhirnya memindahkan sekolah Bayu ke Indonesia.
"Akhirnya kami memutuskan memindahkan Bayu ke SD kelas 4 di Jakarta," sambungnya.
Pilihan sekolah pun menjadi perhatian. Bayu kini bersekolah di SD Santa Ursula Jakarta, sebuah sekolah umum, bukan internasional. Stella menegaskan, sejak awal Bayu memang tidak pernah bersekolah di sekolah internasional.
"Kenapa? Supaya Bayu sungguh-sungguh belajar menjadi orang Indonesia," tegas Stella.
Menurutnya, pendidikan dasar adalah masa untuk anak belajar menulis dan membaca dalam bahasa ibu, serta menghargai warisan budaya dan Tanah Air. Saat di Beijing, Bayu juga bersekolah di SD negeri setempat.
"Bayu tidak bersekolah di international school di Beijing tapi di SD negeri menggunakan 100% bahasa Mandarin walaupun kami bukan orang Tiongkok," bebernya.
Keputusan ini diambil agar Bayu bisa memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan untuk tinggal dan hidup di China. Harapan yang sama berlaku ketika ia menjalani studi di Indonesia.
Stella mengaku sangat cemas. Meskipun Bayu fasih berbahasa Indonesia, selama tiga tahun terakhir ia menulis dan membaca buku dalam bahasa Mandarin. Transisi ini tidak akan mudah.
"Jadi beberapa bulan pertama di Jakarta pasti berat, sangat mungkin Bayu frustasi dapat angka-angka jelek di kelas bahasa Indonesia," urai Stella.
Kekhawatiran lain adalah soal pertemanan. Stella bertanya-tanya, apakah Bayu bisa mendapatkan teman sebaik yang ia miliki di Beijing. Ia juga cemas dengan perannya sebagai ibu yang bekerja.
"Apakah saya akan jadi ibu yang baik dengan begitu banyaknya tuntutan pekerjaan," tanyanya.
Meski demikian, Stella berkomitmen untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab sebagai ibu bagi Bayu. Ia percaya membesarkan dan mendidik anak membutuhkan banyak pengorbanan.
Bagi keluarganya, mereka harus meninggalkan kehidupan yang stabil di Tsinghua University di China dan sekolah yang baik untuk Bayu di Beijing. Setiap keluarga punya bentuk pengorbanan masing-masing.
"Pengorbanan keluarga kami mungkin berbeda dengan pengorbanan keluarga anda. Tapi apapun bentuknya kita semua disatukan oleh harapan bahwa pengorbanan kita akan membuat kehidupan anak kita lebih baik lagi di masa depan," ucapnya.
Stella menyemangati semua orang tua yang anaknya kembali sekolah sejak Senin, 13 Juli 2026.
"Untuk semua orang tua yang anaknya hari ini mulai sekolah: Semangat!," tandas Stella.
Kisah Stella dan Bayu menggambarkan dilema orang tua yang harus menyeimbangkan tugas negara dan tanggung jawab keluarga. Perpindahan sekolah anak bukan sekadar urusan administratif, melainkan keputusan yang melibatkan adaptasi bahasa, budaya, dan lingkungan sosial. Keputusan Stella untuk memilih sekolah umum, baik di China maupun Indonesia, menunjukkan prioritas pada pendidikan yang membumi dan nasionalis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Peneliti Indonesia Kembangkan Vaksin Dengue mRNA
Kecurangan OSN 2026 Terendus, Peserta Bawa Ponsel Saat Ujian
100 Siswa Indonesia Dikirim Bertarung di 16 Ajang Sains Dunia
Undip Buka Jalur Mandiri Gelombang 2, Cuma Pakai Nilai UTBK-Rapor
Kemendikdasmen Atur Pemakaian Gawai di Sekolah
Lolos KIP Kuliah? Ini Cara Ajukan UKT Golongan 1 dan 2