Mira T. · 2 min baca · 49 menit lalu · 22 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

BRIN menandai sinyal awal upwelling musim timur 2026 di perairan selatan Indonesia. Analisis parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026 menunjukkan proses naiknya air laut dalam yang kaya nutrien ke permukaan, meski intensitasnya masih lemah hingga sedang.

Upwelling adalah fenomena alam di mana massa air laut dalam, yang mengandung banyak nutrisi, dipindahkan ke lapisan atas. Proses ini memberi peluang bagi pertumbuhan fitoplankton, yang menjadi dasar rantai makanan laut. Karena itu, upwelling sering dianggap sebagai indikator awal peningkatan produktivitas perairan.

Menurut Widodo Setiyo Pranowo, Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, sinyal awal upwelling paling jelas terlihat di Samudera Hindia selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. “Berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1-7 Juni 2026, sinyal awal keaktifan upwelling mulai terlihat di beberapa wilayah perairan Indonesia. Namun, intensitasnya masih berada pada kategori lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial,” ujarnya dikutip Sabtu (6 Juni 2026).

Indikasi tersebut ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, arus vertikal ke atas, dan kenaikan konsentrasi klorofil. Kombinasi faktor ini menunjukkan bahwa massa air kaya nutrien telah terangkat dan terpapar sinar matahari, memicu pertumbuhan fitoplankton.

Proses ini penting bagi ekosistem laut karena meningkatkan produktivitas perairan dan mendukung ketersediaan sumber daya ikan. Selain di kawasan selatan Indonesia, BRIN mencatat peningkatan produktivitas di Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, serta selatan Selat Makassar menuju Laut Flores.

Namun, mekanisme di wilayah-wilayah tersebut tidak semuanya merupakan upwelling pantai klasik. Di Laut Arafura, peningkatan produktivitas diduga dipengaruhi pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut di perairan dangkal. Sementara di barat Sumatra hingga Laut Andaman, peningkatan klorofil dipicu interaksi front oseanografi, pusaran arus (eddy), pencampuran massa air, serta pengaruh dari Teluk Benggala.

Untuk wilayah selatan Selat Makassar, proses vertikal lokal diduga terkait interaksi Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), topografi dasar laut, tidal pump, eddy, dan gelombang internal yang mendorong naiknya massa air ke permukaan.

Beberapa wilayah lain, seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, bagian selatan Laut China Selatan, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, serta perairan Pasifik barat utara Papua dan timur Filipina, belum menunjukkan tanda upwelling signifikan. Kondisi perairan di sana tetap hangat dengan klorofil rendah hingga sedang.

BRIN menyimpulkan bahwa awal Juni 2026 menandai fase awal (onset) upwelling musim timur 2026, dengan pusat aktivitas di koridor selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Namun, perkembangan fenomena ini masih perlu dipantau secara intensif hingga Juli-Agustus 2026 untuk melihat potensi penguatannya.

Upwelling yang mulai terdeteksi pada awal Juni ini perlu terus dipantau melalui observasi suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus vertikal, nutrien, klorofil, dan angin permukaan. Pemantauan berkelanjutan akan membantu memahami perkembangan fenomena ini sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara lebih adaptif,” pungkasnya.

Pengamatan awal ini menandai langkah penting dalam memanfaatkan dinamika laut untuk keberlanjutan perikanan. Dengan pemantauan yang terus menerus, pihak terkait dapat menyesuaikan kebijakan pengelolaan sumber daya laut sesuai perubahan kondisi lingkungan.

upwellingBRINsamudera hindia selatanfitoplanktonnutrienklorofilproduktivitas laut

Komentar

Memuat komentar...