Gambar atau konten salah?
Arif Mulyono, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo, menegaskan bahwa pemilahan sampah di rumah tangga adalah kunci utama dalam mengatasi masalah sampah. Ia menilai langkah ini tidak hanya penting, tapi juga menjadi strategi jangka panjang untuk mencegah krisis kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Griyo Mulyo, Jabon.
Menurut Arif, TPA Griyo Mulyo diproyeksikan hanya mampu menampung sampah hingga sekitar tujuh tahun ke depan jika pola pengelolaan saat ini tidak segera dibenahi. “Pemilahan sampah dari sumber merupakan kunci utama. Kalau sampah sudah dipilah sejak rumah tangga, beban yang masuk ke TPA akan jauh berkurang. Ini menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk menghindari krisis kapasitas TPA,” ujarnya.
Selain melakukan pemetaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis digital. Upaya ini disertai peningkatan fasilitas pengolahan sampah di tingkat desa.
Namun, Arif mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini masih berada pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Ia menilai bahwa hanya sekitar 5 sampai 10 persen rumah tangga yang sudah memilah sampah, dan bahkan belum semuanya dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah. Berbeda dengan sejumlah negara maju yang telah menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari‑hari. “Selama ini masyarakat tidak mendapatkan pendidikan khusus terkait pengelolaan sampah sejak sekolah. Akibatnya, kesadaran itu tidak tumbuh secara alami seperti di negara‑negara yang sudah maju dalam pengelolaan lingkungan,” jelasnya.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menyiapkan strategi bertahap. Dalam jangka pendek dan menengah, fokus diarahkan pada penguatan TPS 3R agar sampah yang masuk dapat dipilah dan diolah lebih optimal. “Sambil menunggu budaya memilah sampah dari rumah terbentuk, kami memperkuat TPS 3R. Sistem pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan sampah harus tetap berjalan dengan baik melalui kolaborasi pemerintah, petugas, dan masyarakat,” terangnya.
Untuk jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berencana memasukkan materi pengelolaan sampah ke dalam muatan lokal pendidikan. Materi ini akan disesuaikan dengan jenjang usia, mulai dari TK, SD hingga SMP. Langkah tersebut diharapkan mampu membentuk generasi yang terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dini.
“Perubahan perilaku tidak bisa instan. Karena itu kami ingin menanamkan kesadaran sejak kecil. Harapannya 10 sampai 20 tahun mendatang, ketika mereka sudah dewasa, pemilahan sampah dari rumah menjadi kebiasaan yang otomatis dilakukan masyarakat,” pungkas Arif.
Dengan penguatan sistem pengelolaan sampah saat ini dan pendidikan lingkungan bagi generasi muda, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA di masa mendatang. Pada akhirnya, langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi semua warga Sidoarjo.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
