Hujan Surabaya 12 Juni: Musim Kemarau Bukan Tanpa Hujan
Gambar atau konten salah?
Pada 12 Juni 2026, hujan deras mengguyur Surabaya, menimbulkan keheranan di kalangan warga. Masyarakat mengira musim kemarau sudah memulai, namun hujan tetap turun di beberapa wilayah kota.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tidak berarti hujan tidak akan turun sama sekali. Meskipun curah hujan menurun secara umum, kondisi atmosfer masih cukup aktif untuk mendukung pembentukan awan hujan.
Di Surabaya, suhu udara siang hari seringkali sangat panas. Panas ini meningkatkan proses penguapan air di permukaan bumi. Bila kelembapan tetap tinggi dan atmosfer mendukung, awan hujan dapat tumbuh dengan cepat, menghasilkan hujan lokal pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini sering terjadi pada masa pancaroba, ketika udara panas di siang hari berubah menjadi mendung dalam hitungan jam. Hujan yang muncul biasanya intensitasnya ringan hingga sedang, namun dapat terjadi secara tiba-tiba.
BMKG menjelaskan bahwa meski monsoon Australia menguat, membawa udara kering ke wilayah selatan Indonesia, dinamika atmosfer lain tetap aktif. Faktor kelembapan tinggi, pola pergerakan angin, dan aktivitas gelombang atmosfer masih mendukung pertumbuhan awan hujan di Jawa Timur.
Hujan lokal yang muncul tiba-tiba dapat menimbulkan genangan di jalan raya, pohon tumbang akibat angin kencang, sambaran petir, serta kemacetan lalu lintas. Drainase yang tidak optimal memperparah genangan, terutama di kawasan padat penduduk.
Ketika cuaca mulai mendung dan angin terasa semakin kencang, BMKG mengimbau warga untuk lebih waspada. Disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat hujan deras dan petir mulai terjadi. Hindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau tiang listrik yang berisiko roboh.
Warga juga disarankan menyiapkan payung atau jas hujan saat beraktivitas, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. Dengan persiapan sederhana, risiko terkena hujan deras atau petir dapat diminimalkan.
Meski musim kemarau sudah berlangsung di sebagian wilayah Jawa Timur, hujan masih dapat terjadi karena pengaruh pancaroba dan kondisi atmosfer yang belum sepenuhnya stabil. Warga Surabaya diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Hujan di Surabaya pada 12 Juni 2026 menunjukkan bahwa musim kemarau tidak selalu bebas dari hujan. Kelembapan tinggi, suhu panas, dan dinamika atmosfer lainnya dapat memicu awan hujan, bahkan di tengah periode kering. Warga perlu menyesuaikan perilaku sehari-hari dan memantau peringatan cuaca untuk menghindari dampak negatif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Lumajang Hentikan Puluhan Mobil Dinas, Fokus Efisiensi Anggaran
Hujan Ringan di Surabaya & Sidoarjo Dipicu Gelombang Rossby
Ernando Ari Perpanjang Kontrak, Tetap di Persebaya Surabaya
Bupati Subandi Tekankan Prioritas Jalan dan Banjir Sidoarjo
118 PNS Sidoarjo Pensiun, Bupati Dorong Tetap Aktif
Puasa 1 Muharram 1448: Persiapan Ibadah Tahun Baru Hijriah
Berita Terbaru
Hujan Surabaya 12 Juni: Musim Kemarau Bukan Tanpa Hujan
Putri Bajrakitiyabha Meninggal 47 Tahun, Setelah Koma 4 Tahun
Brawijaya Hospital Perkenalkan 4 Center Eksklusif Mitra
Indomie Goreng Cabe Ijo Kembali, Jumbo, dan Jangkau Nasional
Piala Dunia 2026: Cuaca Panas Bikin Risiko Kesehatan Tinggi
Pertamax Naik ke Rp 16.250 Liter, Tahan Harga Sementara
Meksiko 2-0 Afrika Selatan, 3 Kartu Merah di Piala 2026
SPMB SMA Banten 2026/2027: Domisili Wilayah Dibuka 17‑18 Juni
IHSG Naik 2,68% ke 6.043,55, LQ45 Meningkat 3,21%