110 Investor Asia Hadiri Undangan PFII, Antusiasme Tinggi
Gambar atau konten salah?
Pemerintah Indonesia baru saja menggelar pertemuan dengan sejumlah calon investor global untuk membahas pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa respons dari para investor tersebut sangat positif.
Rosan menceritakan, awalnya pemerintah hanya mengirimkan undangan kepada 70 pihak di kawasan Asia. Namun, kenyataannya jumlah yang hadir jauh lebih besar, mencapai 110 calon investor. Acara ini berlangsung di Nusa Dua, Bali. "Kita undang ada 70 untuk Asia, tapi yang datang sampai 110 dan responsnya alhamdulillah boleh saya sampaikan sebenarnya sangat positif," ujar Rosan dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan TA 2027 di kantor pusat DJP Kemenkeu, Minggu (16 Agustus 2026).
Meski antusiasme tinggi, para investor global tetap hati-hati. Mereka ingin memastikan struktur tata kelola kelembagaan PFII benar-benar siap. Investor-investor itu menekankan pentingnya format dan struktur PFII yang sesuai dengan standar operasional dunia. Rosan menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga transparansi dan akan terus melakukan sosialisasi secara berkala kepada para investor.
Pembentukan PFII, menurut Rosan, dirancang secara profesional. Prinsip utama yang dipegang adalah independensi. Independensi ini mencakup semua lini pengelolaan, termasuk proses hukum dan pengawasan kelembagaan. "Pada intinya memang dari PFII itu semuanya itu memang harus independen. Jadi baik dari kalau pengelolaannya sudah pasti independen, kemudian dari pengadilannya juga walaupun tetap bekerja sama dengan MA, tahap-tahapnya juga harus independen, kemudian OJK-nya juga, OJK independen, ya," jelas Rosan.
Soal potensi penarikan dana global, Rosan menjelaskan bahwa penjajakan saat ini baru menyentuh investor dari Asia. Investor dari Eropa dan Timur Tengah belum diajak bicara. Namun, justru dari kawasan Timur Tengah, khususnya Dubai, potensi investasinya dinilai paling besar. "Yang kita temui itu baru investor atau family office yang dari Asia dulu. Belum yang Eropa, belum yang dari Timur Tengah. Justru potensi yang besar tuh yang banyak dari Dubai ini," tutur Rosan.
Pemerintah juga banyak belajar dari Dubai International Financial Centre (DIFC). Menurut Rosan, DIFC memiliki kerangka kerja yang sangat baik dan relevan untuk diadopsi dalam pengembangan skema investasi PFII.
Dari penjelasan Rosan, terlihat bahwa pemerintah sedang bergerak cepat untuk menarik minat investor global. Respons positif dari Asia menjadi modal awal, sementara potensi besar dari Timur Tengah masih menunggu untuk digarap. Fokus pada independensi dan adopsi standar internasional seperti DIFC menjadi kunci utama dalam proyek ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Batasi Pembelian Pertalite Bertahap
Saudi Alihkan Ekspor Minyak ke Pipa Mesir Akibat Ancaman Houthi
Pembatasan BBM Subsidi Sasar Warga Kaya Mulai 2026
Hilirisasi Mineral RI Tembus Rp 206,5 Triliun
Prabowo: Impor BBM Rp 537 Triliun Per Tahun Harus Dipangkas
Harga Minyak Global Anjlok Lebih dari 2%
Berita Terbaru
110 Investor Asia Hadiri Undangan PFII, Antusiasme Tinggi
Pemerintah Batasi Pembelian Pertalite Bertahap
Saudi Alihkan Ekspor Minyak ke Pipa Mesir Akibat Ancaman Houthi
Pembatasan BBM Subsidi Sasar Warga Kaya Mulai 2026
Hilirisasi Mineral RI Tembus Rp 206,5 Triliun
Prabowo: Impor BBM Rp 537 Triliun Per Tahun Harus Dipangkas
Harga Minyak Global Anjlok Lebih dari 2%
Indonesia Resmi Berhenti Impor Solar per 1 Juli 2026
