1.212 Hektare Terbakar, 409 Penerbangan Terganggu Akibat Karhutla

Bayu K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
1.212 Hektare Terbakar, 409 Penerbangan Terganggu Akibat Karhutla

Gambar atau konten salah?

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan perkembangan terbaru soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia. Total area yang terbakar di Sumatera dan Kalimantan mencapai 1.212,52 hektare. Dari jumlah tersebut, 1.002,74 hektare berhasil dipadamkan.

Masih ada 209,78 hektare yang belum padam. Wilayah dengan sisa kebakaran terluas berada di Kalimantan Selatan, yakni 63,16 hektare. Sementara yang paling kecil ada di Kalimantan Barat, yaitu 11,74 hektare.

Suharyanto menyampaikan laporan ini dalam sebuah video yang ditayangkan di akun Sekretariat Presiden pada 23 September 2026. Ia menjelaskan bahwa penanganan asap akibat karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat cukup sulit. Operasi modifikasi cuaca (OMC) belum berjalan maksimal di dua provinsi tersebut.

"OMC terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, mengakibatkan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat asapnya cukup tebal, Pak Presiden. Ini juga mengganggu penerbangan komersil, operasi udara, dan water bombing," kata Suharyanto.

Akibatnya, asap tebal mengganggu transportasi udara. Penerbangan keluar-masuk wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mengalami gangguan. "Hanya memang untuk transportasi keluar masuk penerbangan khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang sedikit terganggu," lanjutnya.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus memantau situasi. Mereka berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga keselamatan penerbangan di Kalimantan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan bahwa asap karhutla bisa menurunkan jarak pandang di sekitar bandara. Hal ini tentu berdampak pada kelancaran penerbangan. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan menjadi pertimbangan utama.

"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maka penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan sesuai hasil evaluasi kondisi di lapangan dan pertimbangan keselamatan," ujar Lukman.

Berdasarkan data pemantauan periode 14 hingga 20 September 2026, tercatat 409 penerbangan terdampak di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan. Rinciannya:

  • 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay)
  • 254 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed)
  • 14 penerbangan dialihkan (divert)

Jumlah ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya, 7 hingga 13 September 2026, yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Penyebab utamanya adalah menurunnya jarak pandang akibat asap karhutla.

Secara wilayah, Kalimantan Tengah mencatat dampak tertinggi dengan 201 penerbangan terdampak. Terdiri dari 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan 1 diverted. Kalimantan Timur menyusul dengan 138 penerbangan terdampak: 48 delay, 77 cancelled/postponed, dan 13 diverted. Sementara Kalimantan Utara mencatat 70 penerbangan terdampak: 14 delay dan 56 cancelled/postponed.

Jarak pandang terendah selama periode tersebut mencapai 50 meter di beberapa bandara. Bandara-bandara itu antara lain Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto. Kondisi ini menjadi faktor utama yang memengaruhi operasional penerbangan. Setiap penerbangan harus memenuhi ketentuan keselamatan dan batas minimum operasional.

Pada 21 September 2026, dampak asap karhutla juga terasa di sejumlah bandara di Kalimantan Barat. Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama mencatat beberapa gangguan.

Di Bandara Supadio, Pontianak, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan dengan durasi antara 42 hingga 195 menit. Bahkan ada penerbangan yang dibatalkan karena jarak pandang di bawah batas minimum.

Di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, penerbangan juga mengalami keterlambatan akibat cuaca. Sementara di Bandara Singkawang, beberapa penerbangan dibatalkan karena alasan operasional. Bandara ini tetap berstatus open dengan jarak pandang sekitar 1.000 meter.

Bandara Tebelian, Sintang, dan Bandara Pangsuma, Putussibau, juga berstatus open. Jarak pandang di kedua bandara itu masing-masing sekitar 700 meter. Saat pemantauan dilakukan, tidak ada jadwal penerbangan di dua bandara tersebut.

Lukman menegaskan bahwa Ditjen Perhubungan Udara bersama Kantor Otoritas Bandar Udara dan seluruh pemangku kepentingan penerbangan terus memantau kondisi jarak pandang. Mereka juga melakukan koordinasi operasional dan evaluasi secara berkala.

"Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan," jelas Lukman.

Karhutla tahun ini menunjukkan pola yang mirip dengan tahun-tahun sebelumnya. Asap tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan aktivitas penerbangan di beberapa wilayah. Operasi modifikasi cuaca yang belum berhasil di Kalimantan Tengah dan Barat menjadi tantangan tersendiri. Sementara itu, data menunjukkan peningkatan jumlah penerbangan terdampak dari pekan ke pekan. Ini menandakan bahwa penanganan karhutla masih jauh dari selesai.

kebakaran hutankarhutlapenerbangan tergangguKalimantanasap tebaloperasi modifikasi cuacaBNPB

Komentar

Memuat komentar...