122 Tim Riset Amankan Rp 57,5 Miliar Bestari Saintek

Ayu W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 116 dibaca
Bisik.id
122 Tim Riset Amankan Rp 57,5 Miliar Bestari Saintek

Gambar atau konten salah?

122 tim periset dari 64 perguruan tinggi berhasil memperoleh dana Bestari Saintek, sebuah program yang dirancang untuk menghubungkan hasil riset perguruan tinggi langsung ke masyarakat. Dari 2.499 pengusul awal, proses seleksi menurunkan jumlah menjadi 545 proposal teknis yang akhirnya dipilih.

Bestari Saintek, singkatan dari Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi, memanfaatkan konsep living lab—laboratorium hidup—yang menggabungkan kampus, industri, dan komunitas. Tujuannya adalah meningkatkan ekonomi berbasis sains dan teknologi melalui kolaborasi lintas sektor.

Program ini merupakan inisiatif bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. LPDP mengalokasikan Rp 57,5 miliar untuk mendukung ekosistem riset, sains, dan inovasi di Indonesia.

Menurut Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, inovasi yang dipilih oleh 122 tim periset difokuskan pada solusi masalah nyata masyarakat di delapan sektor strategis. Berikut rincian sektor dan jumlah tim:

  • **Pangan dan pertanian** – 45 tim
  • **Sosial, humaniora, seni budaya, dan pendidikan** – 32 tim
  • **Kemaritim** – 12 tim
  • **Teknologi informasi dan komunikasi** – 9 tim
  • **Kebencanaan** – 8 tim
  • **Kesehatan dan obat** – 8 tim
  • **Energi dan energi baru terbarukan** – 6 tim
  • **Material maju** – 4 tim

LPDP melaporkan penyerapan dana sebesar Rp 57,176 miliar untuk mendukung 122 tim periset, 341 mitra, dan keterlibatan 854 dosen serta tenaga kependidikan. Dana ini tersebar di 24 provinsi di Indonesia, mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Dalam pembagian perguruan tinggi, 57,8 % lembaga merupakan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan 42,2 % PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Peneliti juga terbagi dengan 67,8 % berasal dari PTN dan 32,2 % dari PTS. “Angka ini menegaskan peran krusial PTN dan juga PTS sebagai penggerak riset nasional, sekaligus memperlihatkan geliat serta kontribusi banyak PTS yang semakin aktif di dalam kegiatan riset nasional kita,” ujar Ahmad Najib Burhani pada acara Kick Off Program Bestari Saintek dan Peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN Tahun 2026 di Graha Kemdiktisaintek, Gedung D, Senayan, Jakarta, 29 April 2026.

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menekankan pentingnya akses pendanaan yang luas. Ia mengatakan, “Setelah aksesnya cukup luas, tentu kami berharap ada prioritas-prioritas atau bidang-bidang yang sangat spesifik yang kita identifikasi memang benar-benar unggul di situ. Dan tadi Pak Dirjen melaporkan sudah cukup in line dengan apa yang sudah kami lakukan. Tetap ada bidang pangan yang paling terbesar, kesehatan, energi. Dan kami berharap pemfokusan ini juga akan lebih mendekatkan kita pada keluaran yang akan didesain berdampak,” jelasnya.

Bestari Saintek mengajak kolaborator dari berbagai pihak: delapan instansi pemerintah termasuk LPDP dan kementerian teknis lainnya; 56 mitra industri utama; 64 perguruan tinggi; 21 pimpinan media; dan 10 anggota tim pakar. Selain itu, organisasi internasional seperti Uni Eropa, Nuffic Neso, KONEKSI, dan JICA turut terlibat.

Di sektor pangan, Chondro Rini, Kepala Departemen Environmental, Social, and Governance (ESG) Group FKS, menjelaskan bahwa unit bisnisnya di bidang food dan pertanian bermitra dengan universitas serta politeknik. Mereka mengembangkan inovasi ragi tempe adaptif dan mesin opak di Wonosobo untuk memproduksi snack lokal. “Unit-unit bisnisnya di bidang industri food dan pertanian bermitra dengan universitas serta politeknik untuk mengembangkan inovasi ragi tempe adaptif serta inovasi mesin opak di Wonosobo untuk mengembangkan snack lokal,” ungkapnya. Dalam kolaborasi ini, pihak industri akan terlibat dalam pelatihan dan pendampingan masyarakat agar dapat memanfaatkan teknologi hasil riset. Salah satu upaya juga untuk melestarikan kearifan lokal di Wonosobo, yang terkenal dengan produk opak.

Di sektor jasa, pariwisata, dan barang konsumsi, Urip Mudjiono, dosen Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, bersama timnya mengusulkan solusi untuk sampah wisata di Pulau Gili Ketapang. Bersama BUMDes dan warga, mereka berencana mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu serta budidaya maggot BSF. Usulan ini memproyeksikan pembentukan unit pengelola sampah dan ekowisata, penetapan regulasi lokal kuat, pengelolaan sampah secara feketif, diversifikasi bisnis dan jaringan, serta peningkatan kesejahteraan dan kesadaran lingkungan bagi warga setempat.

Di sektor kreatif, Santi Rukminita Anggraeni dari Universitas Padjadjaran dan timnya menanggapi masalah plastik polutan dari industri fashion dan aksesoris. Mereka mengganti material plastik dengan biopolimer rumput laut. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani pesisir, mendekarbonisasi industri fashion, dan mengurangi impor bahan baku plastik serta tekstil sintetis di sektor fashion kreatif RI. Biopolimer rumput laut dikembangkan bekerja sama dengan MYCL, Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional, PT Borneo Ocean Nauly, dan SMK Bontang.

Program Bestari Saintek menonjolkan kolaborasi lintas sektor yang berfokus pada solusi praktis. Dengan dana yang signifikan dan jaringan yang luas, program ini bertujuan menghasilkan inovasi yang dapat langsung diterapkan di lapangan, mempengaruhi ekonomi, sosial, dan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.

Bestari SaintekLPDPliving labkolaborasi lintas sektorriset perguruan tinggiinisiatif Kementerian Pendidikan Tinggiinovasi teknologi

Komentar

Memuat komentar...