4 Pemain Papua di Timnas U-17

Ratna D. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
4 Pemain Papua di Timnas U-17

Gambar atau konten salah?

Bermain untuk Tim Nasional Indonesia adalah impian yang hidup di benak hampir setiap pesepakbola muda di Indonesia. Mengenakan seragam merah putih dengan lambang Garuda di dada merupakan hasil dari perjalanan panjang yang ditempa kerja keras, pengorbanan, dan disiplin.

Empat talenta muda binaan Papua Football Academy (PFA) kini mewujudkan mimpi itu. Mereka adalah Yance Glen Imbiri, Dolvi Salossa, Stenly Meyanu, dan Melki Yatipai. Keempatnya tercatat sebagai bagian dari skuad Timnas Indonesia U-17 yang tengah menjalani pemusatan latihan (TC).

Papua Football Academy adalah program investasi sosial yang diinisiasi dan didanai penuh oleh PT Freeport Indonesia. Akademi ini diluncurkan pada 31 Agustus 2022 sebagai bagian dari program pengembangan sumber daya manusia Papua melalui olahraga sepak bola. PFA lahir setelah suksesnya penyelenggaraan PON XX Papua dan memanfaatkan fasilitas olahraga yang telah dibangun di Mimika sebagai bagian dari komitmen jangka panjang Freeport Indonesia untuk pembangunan masyarakat Papua, khususnya lewat pendidikan dan olahraga.

Perjalanan keempat pemain menuju TC Timnas Indonesia U-17 tidak terjadi dalam semalam. Di tengah ketatnya persaingan sepak bola modern, bakat saja tak lagi cukup. Disiplin latihan, kemauan belajar, mental yang kuat, serta keyakinan kepada Tuhan menjadi bekal yang mereka pegang setiap hari selama menimba ilmu di PFA.

Melki Yatipai: Panggilan di Tengah Hujan Deras

Melki Yatipai tak akan pernah melupakan momen pemanggilannya ke Timnas U-17. Bek kanan sekaligus gelandang bertahan ini dipantau langsung dalam laga internal saat coaching clinic bersama PSSI dan asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) di Mimika Sport Complex.

"Itu hujan turun cukup deras dan itu seperti latihan biasa. Saya bermain bersama teman-teman dalam sebuah pertandingan internal begitu, lalu setelahnya saya dipanggil tim pelatih dan perwakilan dari PSSI bahwa saya ikut pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17. Saya cukup terkejut dan bangga, saya tidak pernah menyangka akan dipanggil," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10 Juli 2026).

Pengidola Sadio Mane ini langsung menghubungi kedua orang tuanya begitu menerima kabar tersebut. Sang orang tua berpesan agar ia tidak cepat puas dan selalu ingat kepada Tuhan. Bagi Melki, PFA banyak mengubah dirinya, baik dari sisi taktik, kedisiplinan di lapangan, maupun kepribadian di luar lapangan. Posisinya sebagai bek kanan pun tak lepas dari arahan pelatih PFA, Ardiles Rumbiak.

Dolvi Salossa: Mental Eropa Anak Sang Legenda

Kisah Dolvi Salossa berbeda. Semua bermula pada 2023 ketika keluarganya mendapat informasi soal seleksi PFA. Saat itu ia hanya datang dengan harapan sederhana untuk mencoba peruntungan. Putra dari legenda sepak bola Indonesia dan Persipura, Ortizan Salossa, ini kemudian menjalani kehidupan baru sebagai calon pesepakbola profesional di PFA.

Jadwal latihan padat, pendidikan formal, pembinaan karakter, hingga aturan disiplin perlahan mengubah kebiasaannya. Terutama dalam hal pengaturan pola makan, waktu istirahat, dan jam tidur.

Berposisi sebagai penyerang, Dolvi dilirik sejak usia muda berkat sederet prestasi: top skor Barati Cup International U-14 2024, top skor Garuda International Cup U-15 2025, hingga pemain terbaik Piala Soeratin Nasional U-15 2025. Panggilan Timnas ia terima setelah tampil di Piala Soeratin U-15 tersebut.

Pengalaman penting lain yang membentuk perkembangannya adalah program Elite Camp di Austria pada 12 Februari-9 Maret 2026 bersama dua rekannya, Jupri Kogoya dan Yance Glen Imbiri. Mereka menjalani latihan intensif di tiga klub Austria: FK Austria Wien, FAC Wien, dan First Vienna FC. Pengidola Lionel Messi ini mengaku mendapat banyak pelajaran untuk bermain lebih dewasa, seperti kapan harus berakselerasi atau menembak, serta pentingnya tidak protes berlebihan kepada wasit.

Stenly Meyanu: Terpilih Lewat 'Pemantauan Senyap'

Perjalanan Stenly Meyanu punya cerita tersendiri. Pemain asal Merauke ini sama sekali tidak menyadari sedang diamati pemandu bakat Timnas Indonesia usai pertandingan Piala Soeratin U-15.

"Setelah Piala Soeratin U-15, saya dipantau. Habis pertandingan saya diminta nama lengkap dan tinggi badan. Ternyata saya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17," kenang Stenly.

Saat menghubungi orang tuanya, ia diingatkan untuk tidak cepat puas, tetap kerja keras, dan mengandalkan Tuhan. Sebagai gelandang, Stenly memang terbiasa menjadi penghubung permainan sejak awal berkarier. Namun baginya, perubahan terbesar selama di PFA bukan soal teknik, melainkan mental. Ia belajar beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan pelatih baru. Kemampuan yang kembali diuji di Timnas U-17 karena tuntutan berpikir dan mengambil keputusan lebih cepat dalam tekanan tinggi.

Yance Glen Imbiri: Mengikis Malas Demi Disiplin Subuh

Bagi remaja asal Waropen ini, bangun pagi dulunya adalah tantangan terberat. Namun, sistem akademi PFA yang mewajibkan seluruh pemain beraktivitas sejak pukul 05.00 WIT sukses mengubahnya menjadi sosok yang sangat disiplin.

Yance yang bermimpi bermain untuk Barcelona ini mendapat kado kelulusan terindah dari PFA pada Juli ini, yakni panggilan seleksi Timnas U-17. Ia mengakui ketatnya persaingan di skuad Garuda menuntutnya untuk lebih pintar mengatur waktu istirahat dan menjaga kondisi fisik.

Keempat talenta ini menjadi bagian penting saat Timnas Indonesia U-17 melakoni dua laga uji coba melawan Timnas Malaysia U-17 di Stadion Manahan, Solo (4 & 7 Juli 2026). Pada laga perdana, kedua tim bermain imbang 0-0. Sementara pada laga kedua, Pasukan Garuda Muda sukses melibas Malaysia dengan skor telak 3-0.

Bagi masyarakat Papua, pencapaian keempat remaja ini adalah simbol nyata keberhasilan pembinaan usia dini. Mereka tidak sekadar membawa kemampuan mengolah si kulit bundar, tetapi juga membawa harapan besar agar anak-anak dari Timur Indonesia terus berdiri sejajar dengan talenta terbaik dari seluruh pelosok negeri.

Keempat pemain ini membuktikan bahwa pembinaan usia dini yang terstruktur dan konsisten bisa menghasilkan talenta berkualitas. Program seperti PFA yang menggabungkan latihan teknis, pendidikan formal, dan pembentukan karakter menjadi model yang patut dicontoh. Mereka bukan hanya pemain sepak bola, tapi juga simbol bahwa anak-anak Papua mampu bersaing di level nasional.

Timnas Indonesia U-17Papua Football AcademyPFAtalenta muda Papuapemusatan latihanpembinaan usia dinisepak bola Indonesia

Komentar

Memuat komentar...