4 Sikap Food Influencer yang Paling Dikeluhkan
Gambar atau konten salah?
Belakangan ini, banyak orang berbondong-bondong menjadi food influencer. Mereka adalah individu yang mengulas menu restoran, membagikan pengalaman makan, dan memberikan informasi melalui video atau foto. Tugas mereka tidak hanya sebatas mencicipi makanan. Mereka juga kerap mengomentari suasana tempat, harga, hingga pelayanan yang diterima.
Namun, di balik unggahan yang tampak menarik, ada sisi lain yang seringkali membuat gerah. Aktivitas para food influencer ini, yang seharusnya membantu orang lain mencari tempat makan, justru kadang dianggap mengganggu. Laporan dari Times of India pada 10 Juni 2024 lalu merangkum beberapa sikap influencer makanan yang paling sering dikeluhkan.
Pertama, menyebut setiap tempat sebagai 'hidden gem'. Istilah ini sebenarnya merujuk pada tempat tersembunyi yang memiliki nilai tinggi, seperti permata yang belum banyak diketahui orang. Dalam bahasa gaul, hidden gem dipakai untuk destinasi kuliner bernilai yang masih sepi pengunjung. Masalahnya, banyak influencer menggunakan kata ini untuk tempat yang sudah populer dan ramai dikunjungi. Akibatnya, banyak orang merasa kecewa karena ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan. Tempat yang disebut 'tersembunyi' ternyata sudah ramai dan biasa saja.
Kedua, memberikan reaksi yang berlebihan. Pernahkah Anda melihat video seseorang berpura-pura terkejut saat menggigit makanan untuk pertama kalinya? Ekspresi dramatis semacam ini dinilai palsu dan merusak objektivitas. Penonton sering merasa lelah dengan kosakata klise, pujian yang tidak pada tempatnya, atau reaksi yang dibuat-buat. Alih-alih mendapatkan informasi yang berguna, penonton justru disuguhkan tontonan yang terkesan tidak jujur.
Ketiga, meminta makanan gratis. Ini adalah keluhan paling umum dari para pemilik usaha. Beberapa food influencer datang dengan maksud mengulas, tetapi kemudian meminta agar makanan tidak perlu dibayar. Sikap ini dianggap memalukan dan arogan, terutama jika dilakukan pada bisnis kecil. Para pemilik usaha merasa diperas. Influencer semestinya memberikan ulasan jujur dan membayar makanan jika mereka benar-benar menyukainya. Tidak seharusnya mereka bersikap seolah lebih tinggi, memamerkan jumlah pengikut, dan menuntut perlakuan istimewa. Perilaku seperti ini dinilai sangat tidak sopan.
Keempat, menyembunyikan kebenaran. Makanan adalah subjek yang sensitif. Opini jujur tentang rasa, kebersihan, dan keramahan pelayanan sangat penting bagi audiens. Banyak penonton merasa dikhianati ketika influencer menyembunyikan fakta. Ketika kejujuran hilang, konten ulasan berubah menjadi iklan terselubung. Publik mengandalkan influencer sebagai referensi yang objektif. Jika kepercayaan ini dilanggar, konsumenlah yang dirugikan.
Pada akhirnya, menjadi food influencer bukan sekadar soal jumlah pengikut atau video viral. Ada tanggung jawab untuk memberikan informasi yang jujur dan bermanfaat. Sikap yang berlebihan, tidak jujur, atau memanfaatkan posisi justru akan merusak kredibilitas mereka sendiri di mata audiens dan pemilik usaha.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
