40 Tahun Nasi Lemak Rp14 Ribu di Singapura
Gambar atau konten salah?
Selama hampir 40 tahun, sebuah kedai nasi lemak di Toa Payoh, Singapura, tidak pernah sekalipun menaikkan harga jualannya. Satu porsi nasi lemak masih dibanderol SGD 1, atau sekitar Rp14 ribu. Harga yang sangat murah ini terus dipertahankan pemiliknya, meskipun biaya sewa dan harga bahan baku terus merangkak naik dari tahun ke tahun.
Sekarang, kedai Makan Muhajirin di Lorong 7 Toa Payoh dikelola oleh generasi kedua, Mohamed Hajirin Mohd Tahir. Ia melanjutkan tradisi yang diwariskan kedua orang tuanya. Baginya, menjual nasi lemak murah adalah bentuk kepedulian kepada warga sekitar, bukan sekadar urusan bisnis.
"Motivasi terbesar saya berasal dari orang tua. Saat membantu mereka berjualan, mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan dan membuka mata saya terhadap kebutuhan warga sekitar di Toa Payoh. Dari situlah muncul semangat saya untuk meneruskan usaha ini," kata Hajirin.
Setiap hari, kecuali Senin saat kedai tutup, mereka menjual sekitar 500 hingga 600 bungkus nasi lemak seharga SGD 1. Satu porsi berisi nasi lemak, telur, mentimun, sambal, ikan teri, dan kacang tanah. Kalau mau tambah ayam goreng, pelanggan bisa membayar ekstra SGD 1,50 (Rp21 ribu).
Istri Hajirin sekaligus rekan pengelola, Norazlina Md Yusoff, bercerita bahwa banyak pelanggan dari berbagai wilayah Singapura memesan nasi lemak dalam jumlah besar. Mereka membagikannya kepada lansia dan warga yang membutuhkan.
"Menu ini sudah menjadi ciri khas kami. Kami ingin mempertahankan warisan ini sekaligus berbagi kepada masyarakat. Selama masih mampu, kami akan terus menjual nasi lemak seharga SGD 1," ujar Norazlina.
Untuk menyiasati kenaikan biaya operasional, pasangan ini memilih menaikkan harga menu lain di kedai mereka. Mee siam, mee rebus, dan lontong kini dijual SGD 4 (Rp55 ribu), naik 50 sen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, harga sewa kedai naik dari SGD 3.500 (Rp49 juta) menjadi SGD 4.000 (Rp57 juta) per bulan. Harga beras, tepung, dan bahan pokok lainnya juga meningkat sekitar 20-30%.
"Kami tetap mempertahankan harga nasi lemak SGD 1. Kalau biaya naik, kami menyesuaikan harga menu lain," kata Norazlina.
Hajirin mengakui, kemampuan mereka menahan kenaikan harga pasti ada batasnya. Ia tidak bisa mempertahankan harga segitu selamanya.
"Kalau sewa mencapai sekitar SGD 5.000 (Rp70 juta) per bulan, akan sangat sulit mempertahankan harga sekarang. Mungkin saat itu nasi lemak SGD 1 sudah tidak ada lagi," tutupnya.
Selama hampir empat dekade, kedai ini menjadi bukti bahwa sebuah usaha kecil bisa bertahan dengan prinsip berbagi. Namun, tekanan biaya operasional yang terus meningkat pada akhirnya bisa mengubah keadaan. Keputusan untuk tidak menaikkan harga nasi lemak selama ini bukanlah keputusan bisnis biasa, melainkan pilihan untuk tetap melayani komunitas dengan harga yang terjangkau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
40 Tahun Nasi Lemak Rp14 Ribu di Singapura
Sasa Bantah Mitos MSG di Surabaya
Robinson Puji Keberanian Pickford Bawa Inggris ke Perempat Final
Piala Presiden 2026 Dibuka Persib vs Arema
USU Buka SMM Tahap II, Pendaftaran hingga 12 Juli 2026
Ekspor Listrik ke Singapura: Harga Belum Sepakat
OJK Wajibkan Update Data Kredit Lunas Maksimal 3 Hari