500 Dapur MBG Disuspend karena IPAL hingga Keracunan
Gambar atau konten salah?
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan bahwa sekitar 500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini di-suspend. Istilah suspend berarti dapur-dapur tersebut diberhentikan sementara.
Menurut Sudaryono, penghentian sementara ini terjadi karena beberapa masalah. Mulai dari persoalan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), kasus keracunan makanan, hingga kebutuhan perbaikan di dapur-dapur tersebut. Kelima ratus dapur ini merupakan bagian dari total sekitar 1.100 dapur yang belum mendapatkan Penetapan Penerima Manfaat Sementara (SPS) untuk program MBG.
"Dari 1.100 tadi, itu kira-kira 500-an itu suspend. Suspend itu ya karena IPAL atau karena ada pernah ada keracunan makanan, kemudian ada perbaikan, dan lain sebagainya, itu ada sekitar 500," kata Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin, 05 Oktober 2026.
Yang perlu digarisbawahi, dapur yang di-suspend tidak otomatis bisa langsung beroperasi kembali. BGN akan melakukan pemeriksaan ulang terlebih dahulu. Tujuannya jelas: memastikan setiap dapur memenuhi standar keamanan yang ketat.
Sudaryono memberi contoh. Dari 500 dapur yang di-suspend, ada satu dapur yang setelah diperiksa ternyata lokasinya tidak higienis. Dapur tersebut berada di bawah tempat masak, tepatnya di atas sarang burung walet. Akibatnya, dapur itu ditutup permanen. "500 suspend itu kita lihat. Kalau misalnya contoh, kita suspend untuk diperiksa. Ternyata diperiksa, kami sudah ada satu dapur misalnya di bawah masak, di atas sarang burung walet. Ya tutup permanen," jelasnya.
Langkah tegas ini diambil karena makanan MBG adalah makanan siap saji. Risikonya lebih tinggi jika tidak ditangani dengan benar. Makanan siap saji lebih mudah basi dibandingkan biskuit, kukis, atau kerupuk. Oleh karena itu, standar kebersihan dan keamanan harus tinggi. "Jadi kita ingin standar kita tinggi. Standar keamanannya tinggi, standar higienisnya tinggi. Standarnya mesti tinggi, karena ini makanan siap saji. Bukan biskuit, bukan kukis, bukan krupuk yang mohon maaf yang lama lama basinya. Ini barang siap saji yang gampang basi. Jadi mesti benar penanganannya," terang Sudaryono.
Intinya, program MBG memang menargetkan penyediaan makanan bergizi. Tapi keamanan pangan adalah prioritas utama. Tidak semua dapur yang bermasalah langsung ditutup selamanya. Beberapa hanya di-suspend sementara untuk perbaikan. Namun jika ditemukan pelanggaran serius seperti lokasi yang tidak higienis, penutupan permanen adalah konsekuensinya. Langkah ini menunjukkan komitmen BGN untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan yang dibagikan kepada masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Investor Pasar Modal Tembus 32,17 Juta di September 2026
Utang Pinjol Tembus Rp106 Triliun, OJK Pantau Risiko Macet
OJK Jatuhkan Denda Rp112,79 Miliar ke 136 Pihak Pasar Modal
OJK Perluas Izin Usaha Dua Perusahaan Gadai ke Nasional
Bank Mayapada Masuk Fortune Indonesia 100:2026
Aset Asuransi Indonesia Capai Rp1.200 Triliun per Agustus 2026
