6 Gangguan Tidur yang Ternyata Tanda Diabetes

Lina F. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
6 Gangguan Tidur yang Ternyata Tanda Diabetes

Gambar atau konten salah?

Banyak orang menganggap gangguan tidur sebagai masalah sepele. Apalagi kalau cuma sesekali terbangun di tengah malam. Tapi, kebiasaan sering terbangun saat tidur bisa jadi pertanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius.

Beberapa kondisi yang mengganggu tidur ternyata berkaitan dengan gejala diabetes. Penting untuk mengenali tanda-tanda ini sejak dini.

Hubungan Diabetes dengan Gangguan Tidur

Diabetes mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mengontrol kadar gula darah. Kadar gula darah yang tinggi bisa memicu berbagai gejala. Misalnya rasa haus berlebihan, lapar, nyeri, hingga sering buang air kecil. Gejala-gejala ini sering membuat seseorang terbangun di malam hari. Akibatnya, kualitas tidur menjadi terganggu.

1. Sering Buang Air Kecil

Pada penderita diabetes, kondisi yang disebut poliuria atau sering buang air kecil adalah gejala yang umum. Ini sering terjadi pada malam dan pagi hari. Kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal menyaring lebih banyak glukosa. Glukosa ini menarik air bersamanya. Hal ini menyebabkan produksi urine meningkat.

2. Rasa Haus Berlebihan

Saat tubuh memiliki kelebihan glukosa, ia akan mengambil air dari jaringan tubuh. Berdasarkan informasi dari laman Healthline, kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi. Akibatnya, seseorang terbangun di malam hari untuk minum.

3. Rasa Lapar Terus-Menerus

Glukosa adalah sumber energi utama tubuh yang berasal dari makanan. Diabetes melitus adalah kondisi ketika tubuh tidak bisa memproduksi cukup insulin. Bahkan, dalam beberapa kasus, tubuh tidak memproduksi insulin sama sekali. Tanpa insulin yang cukup, tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai energi. Kekurangan energi ini menyebabkan rasa lapar meningkat.

4. Berkeringat di Malam Hari

Keringat malam akibat diabetes sering disebabkan oleh kadar glukosa darah yang rendah. Kadar gula darah di bawah 70 mg/dL memicu peningkatan hormon adrenalin. Kondisi ini bisa membuat seseorang sulit tidur.

5. Nyeri pada Kaki

Neuropati diabetik adalah jenis kerusakan saraf yang bisa terjadi pada penderita diabetes. Menurut laman Mayo Clinic, seiring waktu, gula darah tinggi bisa merusak saraf di kaki dan telapak kaki. Tergantung pada saraf yang terpengaruh, gejalanya meliputi nyeri dan mati rasa. Area yang terkena bisa di kaki, telapak kaki, maupun tangan. Kondisi ini juga mengganggu tidur. Penderitanya tidak mendapatkan kualitas tidur yang baik.

6. Sakit Kepala

Sakit kepala bisa disebabkan oleh kadar gula darah yang rendah maupun tinggi. Pada kasus kadar gula darah rendah, otak bergantung pada gula darah sebagai sumber energi. Otak menggunakan hormon seperti norepinefrin dan epinefrin untuk meningkatkan kadar gula darah. Tanpa hormon-hormon tersebut dalam jumlah yang cukup, otak mungkin tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, timbul sakit kepala.

Sementara itu, kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia juga bisa menyebabkan pusing. Sebuah makalah pada 2018 dari Britania Raya menyebutkan, orang yang menggunakan insulin untuk mengobati diabetes melaporkan lebih sering merasa pusing akibat kadar gula darah yang tinggi.

Diabetes Sering Tidak Bergejala di Awal

Menurut dr Randy Nusrianto, Sp.PD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), diabetes pada awalnya memang sering tidak menimbulkan gejala. Akibatnya, banyak penderita tidak menyadari kondisinya. Mereka tidak mendapatkan pengobatan sejak dini.

Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah meningkat secara signifikan. Peningkatan inilah yang kemudian memicu munculnya gejala. Misalnya sering buang air kecil pada malam hari, mudah lapar, dan mudah haus. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Terutama bagi orang yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes.

"Makanya saya katakan pada pasien-pasien dalam risiko tinggi, obesitas, orang tuanya ada diabet, waktu hamil anaknya 4 kilo dan akhirnya besar, itu harus di-skrining. Awal-awalnya gula tinggi 180-201, itu belum ada gejala," katanya.

Jenis-Jenis Tes Gula Darah

Ada beberapa jenis tes gula darah berdasarkan waktu pengambilan sampel. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Tes Hemoglobin A1C (HbA1c)
    HbA1c adalah tes yang menunjukkan kadar glukosa darah rata-rata selama dua hingga tiga bulan terakhir. Berdasarkan informasi dari laman Medineplus, hasil pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
    • Normal: di bawah 5,7 persen.
    • Prediabetes: 5,7-6,4 persen.
    • Diabetes: 6,5 persen atau lebih.
  2. Tes Gula Darah Puasa
    Sebelum menjalani tes, pasien harus berpuasa selama 8-12 jam terlebih dahulu. Seseorang dinyatakan mengalami diabetes jika kadar glukosa darah mencapai 126 mg/dL atau lebih pada dua kali pemeriksaan.
  3. Tes Gula Darah Sewaktu
    Berbeda dengan tes gula darah puasa, tes ini dilakukan tanpa perlu berpuasa. Umumnya, kadar gula darah sewaktu dinyatakan normal jika berada di bawah 200 mg/dL.

Gangguan tidur yang sering dianggap sepele bisa menjadi indikator awal diabetes. Gejala seperti sering buang air kecil di malam hari, rasa haus, dan lapar berlebihan adalah tanda yang perlu diwaspadai. Deteksi dini melalui tes gula darah sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga dengan diabetes. Tanpa penanganan, kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

gangguan tidurdiabetesgejala diabeteskadar gula darahdeteksi dini

Komentar

Memuat komentar...