Studi: Otak Bayi Bukan Lembar Kosong

Wahyu T. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Studi: Otak Bayi Bukan Lembar Kosong

Gambar atau konten salah?

Pernahkah Anda bertanya kenapa kenangan masa bayi begitu sulit diingat? Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications akhirnya memberikan penjelasan dari sisi ilmu saraf. Para ilmuwan menggunakan otak tikus sebagai objek studi untuk menguak misteri ini.

Fokus penelitian ini adalah pada bagian otak yang disebut hipokampus, tepatnya di area bernama cornu ammonis 3 (CA3). Wilayah ini punya peran penting dalam menyimpan dan memanggil kembali ingatan. Di dalam CA3, terdapat neuron yang memiliki kemampuan plastisitas — kemampuan untuk memperkuat atau memperlemah hubungan antar sel saraf. Proses inilah yang menentukan apakah sebuah ingatan menjadi kuat atau justru memudar.

Tim peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan. Pada awal kehidupan, jaringan di hipokampus memiliki koneksi yang sangat padat. Banyak neuron saling terhubung dalam pola yang tampak acak. Namun, seiring otak berkembang, jaringan yang semula padat dan tidak beraturan itu mulai berubah. Koneksi-koneksi yang tidak diperlukan dipangkas, dalam proses yang disebut pruning. Hasilnya, jaringan menjadi lebih jarang tetapi lebih terstruktur.

Proses pemangkasan ini terjadi setelah kelahiran dan menyebabkan penurunan konektivitas yang cukup besar saat hewan memasuki masa remaja. Temuan ini membantah anggapan lama bahwa hipokampus memulai kehidupannya sebagai tabula rasa — atau lembaran kosong yang siap diisi informasi.

"Dalam kesimpulannya, kami menemukan sistem ini bukanlah tabula rasa, seperti yang selama ini kami bayangkan, di mana informasi dapat begitu saja dituliskan hingga akhirnya memenuhi sistem," kata Peter Jonas, salah satu penulis studi dan ahli saraf dari Institute of Science and Technology Austria, seperti dikutip dari Live Science pada Sabtu, 11 Juli 2026. "Sebaliknya, sistem ini justru dimulai sebagai tabula plena (lembaran yang sudah terisi penuh), lalu secara bertahap menjadi lebih jarang tetapi dengan koneksi yang lebih spesifik."

Pola inilah yang akhirnya membantu menjelaskan mengapa manusia hanya mengingat sedikit sekali pengalaman dari masa bayi.

Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa ingatan tersimpan dalam jaringan neuron yang aktif secara bersamaan untuk mewakili suatu pengalaman tertentu. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pada otak yang masih muda, cara kerja hubungan antar-neuron — atau sinaps — ternyata berbeda.

Pada jaringan otak bayi, satu sinyal saja sudah cukup untuk membuat sebuah neuron aktif. Sebaliknya, pada jaringan otak yang sudah matang, sebuah neuron biasanya membutuhkan beberapa sinyal sekaligus agar bisa aktif. Perbedaan ini punya konsekuensi besar.

Karena neuron pada bayi sangat mudah aktif, berbagai pengalaman yang berbeda bisa memicu pola aktivitas yang saling tumpang tindih. Jika tumpang tindih ini terlalu besar, otak akan kesulitan membedakan satu ingatan dengan ingatan lainnya. Alih-alih membentuk jaringan memori yang terpisah dengan jelas, otak justru menghasilkan ingatan yang lebih luas tetapi kurang spesifik.

Dengan kata lain, sistem memori pada awal kehidupan memang sangat aktif, tetapi belum cukup presisi.

Seiring bertambahnya usia, neuron menjadi lebih selektif. Mereka membutuhkan beberapa sinyal sekaligus agar bisa aktif. Hasilnya adalah terbentuknya jaringan saraf yang lebih terpisah dan lebih jelas. Inilah yang kemudian menghasilkan ingatan yang lebih spesifik dan stabil.

"Orang mungkin mengira bahwa pada tahap awal perkembangan, sinaps masih lemah dan belum berkembang dengan baik. Namun, yang kami temukan justru sebaliknya," ujar Jonas. Ia mengaku terkejut bersama timnya saat menemukan fakta ini.

Penelitian ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana otak manusia berkembang. Alih-alih memulai dari kekosongan, otak bayi justru memiliki koneksi yang sangat padat dan aktif. Proses pemangkasan koneksi yang terjadi kemudian justru membuat ingatan menjadi lebih tajam dan terorganisir. Ini menjelaskan mengapa kita mungkin tidak ingat apa pun dari masa balita — otak kita saat itu terlalu sibuk membangun dan merapikan jaringan, bukan menyimpan ingatan yang rapi dan tahan lama.

Ingatan bayihipokampusCA3pruningplastisitasneuronsinaps

Komentar

Memuat komentar...