74,4% Orang Tua Nilai SPMB 2026 Mudah Dipahami

Ani R. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
74,4% Orang Tua Nilai SPMB 2026 Mudah Dipahami

Gambar atau konten salah?

Sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga riset KedaiKOPI mengungkapkan bahwa mayoritas orang tua murid merasa proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 cukup mudah dipahami. Angkanya mencapai 74,4 persen dari total responden. Survei ini melibatkan 585 orang tua atau wali murid yang anaknya mengikuti SPMB 2026. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan metode Computer Assisted Self Interview (CASI).

Pelaksanaan SPMB 2026 sendiri sudah dimulai sejak Juni lalu. Di beberapa daerah, pendaftaran untuk tahap kedua masih dibuka. Lembaga KedaiKOPI melakukan survei ini untuk melihat bagaimana pengalaman masyarakat selama proses SPMB berlangsung.

Head of Research Lembaga KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menjelaskan bahwa persepsi kemudahan lebih banyak dirasakan oleh responden yang memiliki latar belakang pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Sementara itu, orang tua dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah justru lebih sering mengalami kesulitan. Survei mencatat, 42,1 persen responden dari kelompok tersebut mengaku proses pendaftaran SPMB masih terasa sulit.

Ashma juga mengungkapkan bahwa survei ini menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi penilaian responden terhadap pelaksanaan SPMB. Bagi responden yang menganggap proses SPMB mudah, alasan yang paling banyak dikemukakan adalah alur pendaftaran yang dinilai sederhana dan mudah dipahami. Persentasenya mencapai 38,9 persen.

Faktor berikutnya adalah informasi serta jadwal pendaftaran yang dinilai jelas dan mudah diakses melalui situs web. Sebanyak 33,6 persen responden memilih alasan ini. "Ketiga proses pendaftaran secara online diapresiasi karena membuat prosesnya menjadi lebih mudah," ujar Ashma.

Berikut rincian alasan mengapa proses SPMB 2026 dinilai mudah dipahami:

  • Alur pendaftaran mudah dipahami: 38,9%
  • Informasi dan jadwal jelas: 33,6%
  • Pendaftaran online lebih mudah: 30,8%
  • Tidak perlu datang ke sekolah: 19,1%
  • Akses fleksibel dari rumah atau HP: 16,1%
  • Persyaratan mudah dipenuhi: 14,5%
  • Status atau hasil dapat dipantau: 12,9%
  • Proses lebih praktis dan cepat: 12,9%
  • Sudah paham alur sebelumnya: 10,6%
  • Ada sosialisasi dari sekolah atau guru: 9,7%
  • Sistem terintegrasi dan lancar: 6%
  • Pemilihan sekolah mudah: 5,3%
  • Tidak tahu: 1,8%

Meski mayoritas merasa mudah, masih ada orang tua yang kesulitan. Ashma Nur Afifah, Head of Research Lembaga KedaiKOPI, menjelaskan bahwa persepsi kemudahan ini lebih banyak dirasakan oleh responden dengan tingkat pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Sebaliknya, orang tua dengan pendidikan lebih rendah justru lebih sering menghadapi kendala. Sebanyak 42,1 persen responden dari kelompok tersebut mengaku proses pendaftaran SPMB masih terasa sulit.

Ashma juga mengatakan bahwa survei ini menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi penilaian responden. Bagi yang menganggap proses SPMB mudah, alasan terbanyak adalah alur pendaftaran yang sederhana dan mudah dipahami, dengan persentase 38,9 persen. Faktor berikutnya adalah informasi serta jadwal pendaftaran yang jelas dan mudah diakses melalui situs web, dipilih oleh 33,6 persen responden. "Ketiga proses pendaftaran secara online diapresiasi karena membuat prosesnya menjadi lebih mudah," ujar Ashma.

Selain itu, ada beberapa alasan lain yang membuat proses SPMB 2026 dinilai mudah. Sebanyak 30,8 persen responden menyebut pendaftaran online lebih mudah. Lalu 19,1 persen merasa tidak perlu datang ke sekolah. Akses fleksibel dari rumah atau HP dipilih oleh 16,1 persen responden. Persyaratan mudah dipenuhi disebut oleh 14,5 persen. Status atau hasil yang bisa dipantau dan proses yang lebih praktis dan cepat masing-masing dipilih oleh 12,9 persen responden. Sebanyak 10,6 persen sudah paham alur sebelumnya, dan 9,7 persen mendapat sosialisasi dari sekolah atau guru. Sistem terintegrasi dan lancar dipilih oleh 6 persen, pemilihan sekolah mudah oleh 5,3 persen, dan 1,8 persen menjawab tidak tahu.

Namun, di balik angka kemudahan itu, masih ada informasi yang sulit ditemukan oleh orang tua murid. Ashma menuturkan bahwa kesulitan ini berkaitan dengan hal-hal teknis. "Sebanyak 33,7 merasa memahami berapa jumlah kuota itu membingungkan terutama kuota masing-masing jalur. Ada juga kurang dipahaminya itu bagaimana sekolah bisa dengan tepat mengukur jarak dari rumah ke sekolah," tuturnya.

Berikut rincian informasi yang sulit dicari pada SPMB 2026:

  • Kuota masing-masing jalur: 33,7%
  • Cara menghitung jarak rumah ke sekolah: 33%
  • Cara menentukan wilayah domisili: 30,8%
  • Cara mengajukan pengaduan atau sanggah: 28%
  • Cara mendaftar melalui sistem online: 19,7%
  • Perbedaan jalur domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi: 16,8%
  • Cara memantau hasil seleksi: 14,5%
  • Dokumen yang harus disiapkan: 7,2%
  • Cara memilih sekolah tujuan: 4,8%
  • Jadwal pendaftaran: 3,9%
  • Lainnya (cara menghitung akumulasi indeks prestasi dan sebagainya): 1%
  • Tidak ada yang sulit dipahami: 21,4%

Ashma juga mengungkapkan bahwa survei ini menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi penilaian responden. Bagi responden yang menganggap proses SPMB mudah, alasan yang paling banyak dikemukakan adalah alur pendaftaran yang dinilai sederhana dan mudah dipahami, dengan persentase 38,9 persen. Faktor berikutnya adalah informasi serta jadwal pendaftaran yang dinilai jelas dan mudah diakses melalui situs web, yang dipilih oleh 33,6 persen responden. "Ketiga proses pendaftaran secara online diapresiasi karena membuat prosesnya menjadi lebih mudah," ujar Ashma.

Meski demikian, masih ada informasi yang sulit ditemukan oleh orang tua murid. Ashma menuturkan bahwa kesulitan ini berhubungan dengan hal-hal teknis. "Sebanyak 33,7 merasa memahami berapa jumlah kuota itu membingungkan terutama kuota masing-masing jalur. Ada juga kurang dipahaminya itu bagaimana sekolah bisa dengan tepat mengukur jarak dari rumah ke sekolah," tuturnya.

Informasi yang paling sulit dicari adalah kuota masing-masing jalur, dengan persentase 33,7 persen. Disusul oleh cara menghitung jarak rumah ke sekolah sebesar 33 persen. Cara menentukan wilayah domisili juga membingungkan bagi 30,8 persen responden. Cara mengajukan pengaduan atau sanggah sulit ditemukan oleh 28 persen responden. Cara mendaftar melalui sistem online membingungkan 19,7 persen orang tua. Perbedaan jalur domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi sulit dipahami oleh 16,8 persen responden. Cara memantau hasil seleksi sulit bagi 14,5 persen, dokumen yang harus disiapkan oleh 7,2 persen, cara memilih sekolah tujuan oleh 4,8 persen, dan jadwal pendaftaran oleh 3,9 persen. Sebanyak 1 persen menjawab lainnya, seperti cara menghitung akumulasi indeks prestasi. Sementara itu, 21,4 persen responden menyatakan tidak ada yang sulit dipahami.

Secara keseluruhan, survei ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar orang tua merasa SPMB 2026 mudah, masih ada celah informasi yang perlu diperbaiki, terutama terkait hal-hal teknis seperti kuota jalur dan pengukuran jarak. Orang tua dengan pendidikan lebih rendah cenderung lebih kesulitan, yang menunjukkan bahwa sosialisasi dan panduan teknis perlu disederhanakan agar bisa menjangkau semua kalangan.

SPMB 2026surveiorang tua muridkemudahankesulitanalur pendaftarankuota jalur

Komentar

Memuat komentar...