Antrian SPBU Kalbar Meningkat, Menteri Pencabutan Surat
Gambar atau konten salah?
Antrean panjang di SPBU di Kalimantan Barat menjadi sorotan akhir pekan ini. Antrian bermunculan di beberapa kabupaten dan kota, mulai dari Pontianak, Singkawang, hingga Bengkayang. Peningkatan antrian ini terlihat sejak beberapa minggu terakhir, menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.
Menurut Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, penyebab utama antrian panjang adalah dua kepala daerah yang mengeluarkan surat edaran membatasi pembelian BBM di wilayah Singkawang dan Bengkayang. Surat edaran tersebut dimaksudkan untuk mengendalikan pengisian BBM, namun justru memicu reaksi yang tidak diharapkan.
Di Singkawang dan Bengkayang, pemerintah daerah menerbitkan surat edaran ini setelah antrian di SPBU menjadi sangat panjang. Namun, ketika surat edaran mulai berlaku, masyarakat merespons dengan panic buying—peningkatan pembelian BBM secara mendadak. Akibatnya, antrian malah semakin panjang, menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna.
“Untuk mengurangi antrean, maka dua kepala daerah ini mengeluarkan suara edaran dan membatasi pengisian BBM sejumlah tertentu. Yang terjadi, diterjemahkan, ‘oh berarti ini BBM akan kurang,’ gitu. Akhirnya malah makin panjang. Nah, dengan dasar itu, terjadi panic buying malah,” kata Tito di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026). Dalam pernyataan tersebut, Tito menekankan bahwa langkah pembatasan justru menambah ketakutan masyarakat akan kekurangan BBM.
Setelah mendengar keluhan masyarakat, Tito segera meminta kepala daerah untuk mencabut surat edaran tersebut. Ia menegaskan, “Karena adanya panic buying itu, saya segera menghubungi mereka untuk mencabut. Mencabut suara edaran. Ya, begitu dicabut, dan berikan penjelasan ke publik bahwa stok BBM gas semua aman, cukup, masyarakat nggak perlu khawatir. Itu yang perlu disampaikan ke publik,” sebut Tito.
Di sisi lain, Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan BBM. Ia menyatakan, “Sejak malam takbiran 20 Maret 2026, suplai BBM ke SPBU di wilayah Kalimantan Barat ditingkatkan.” Langkah ini dilakukan untuk menstabilkan pasokan setelah antrian mencapai puncaknya.
Beberapa SPBU di Kota Pontianak dioperasikan 24 jam untuk mengurangi antrian. Per 22 Maret 2026, kondisi antrean kendaraan dilaporkan mulai membaik. Penambahan jam operasional ini membantu mengalihkan arus kendaraan ke jam-jam yang lebih sepi.
Menurut BPH Migas, pemerintah, “Pemerintah, sebagaimana arahan Bapak Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menjamin ketersediaan stok dan distribusi BBM, khususnya oleh Pertamina Patra Niaga terus dijaga ketahanannya. Monitoring kualitas juga rutin dilakukan, dan hasilnya sesuai standar Pemerintah, sehingga diharapkan masyarakat merasa aman dan nyaman. BPH Migas juga mengapresiasi kinerja seluruh Perwira Pertamina yang siaga 24 jam untuk mengamankan stok dan distribusi BBM,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Di sisi distribusi, Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat menyebut penyaluran BBM di wilayahnya secara umum berjalan lancar. Ia menambahkan, “Kondisi antrean di berbagai SPBU di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya sudah normal, sementara di Kabupaten Mempawah, Kabupaten Singkawang, dan Kabupaten Bengkayang dalam kondisi sedang, sementara Kabupaten Sambas dan Kabupaten Landak masih terus diupayakan untuk mengurangi antrean yang masih relatif padat,” tutur Widhi dalam keterangan yang sama.
Ia merinci, selama periode Satgas 9-22 Maret, penyaluran BBM di Kalbar tercatat rata-rata 2.749 KL per hari untuk bensin jenis Pertalite dan Pertamax Series atau naik 19,8% dari kondisi normal, dengan puncak kenaikan 54% pada 20 Maret. Sementara itu, penyaluran Solar tercatat 1.420 KL per hari atau turun 3,7%, dengan kenaikan tertinggi 20% pada 18 Maret.
Secara keseluruhan, langkah-langkah pemerintah mulai memperbaiki situasi antrian di SPBU. Penyesuaian kebijakan, peningkatan pasokan, dan operasional 24 jam membantu mengurangi ketidaknyamanan. Namun, situasi masih memerlukan perhatian terus-menerus agar antrian tidak kembali menumpuk.
Dengan adanya intervensi cepat dan koordinasi lintas lembaga, antrian di SPBU di Kalimantan Barat mulai menunjukkan perbaikan. Masyarakat kini merasa lebih aman dan nyaman, meski masih ada upaya untuk menstabilkan pasokan BBM di beberapa wilayah yang masih mengalami ketatnya antrian.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Trump Menandatangani Perintah Pemutusan Pegawai Tinggi
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
