Aramco Kirim Minyak Asia dari Yanbu, Pasokan Terbatas

Bambang W. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 42 dibaca
Bisik.id
Aramco Kirim Minyak Asia dari Yanbu, Pasokan Terbatas

Gambar atau konten salah?

Saudi Aramco memangkas pasokan minyak mentah ke pasar Asia pada 01 April 2026, menjadi pemangkasan kedua berturut-turut. Pemangkasan ini terjadi setelah konflik antara AS dan Israel dengan Iran mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Perusahaan hanya mengirimkan minyak jenis Arab Light dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah kepada pelanggan kontrak pada bulan tersebut. Akibatnya, kilang-kilang di Asia mengalami keterbatasan pasokan.

Meski situasi sulit, Saudi Aramco tetap berkomitmen memenuhi kebutuhan pelanggan. “Saudi Aramco terus memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan rute ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi kawasan yang terus berkembang. Kami tetap berkomitmen memenuhi harapan pelanggan, dengan penyesuaian jadwal pengapalan sesuai kondisi terbaru, serta terus memberikan informasi kepada pelanggan,” kata perusahaan dalam pernyataannya dikutip dari Reuters, Selasa, 24 Maret 2026.

Data analitik Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Saudi mencapai 4.355 juta barel per hari pada 01 Maret 2026, turun dari 7.108 juta barel per hari pada 01 Februari 2026. Untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, perusahaan berupaya meningkatkan ekspor melalui Yanbu, dengan volume pengapalan diperkirakan mencapai level rekor pada bulan tersebut.

Perusahaan terbesar di China, Sinopec, dijadwalkan memuat 24 juta barel minyak Saudi dari Yanbu pada bulan ini. Namun, aktivitas pengapalan di pelabuhan Yanbu sempat terganggu pada Kamis setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco.

Dengan langkah ini, Saudi Aramco mencoba menjaga stabilitas pasokan energi di wilayah Asia meski menghadapi ketidakpastian geopolitik. Keterbatasan pasokan tetap diatasi melalui rute alternatif, menegaskan komitmen perusahaan terhadap pelanggan globalnya.

Saudi AramcoSelat HormuzYanbuArab LightSinopecDroneGeopolitik

Komentar

Memuat komentar...