Asia Pasifik: Jasa Keuangan Terancam Serangan DDoS Layer 7

Ani R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Asia Pasifik: Jasa Keuangan Terancam Serangan DDoS Layer 7

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Asia Pasifik, sektor jasa keuangan kini menghadapi ancaman keamanan siber yang semakin berat. Laporan terbaru Akamai Technologies menegaskan bahwa wilayah ini menjadi sasaran utama serangan siber pada industri finansial di seluruh dunia, berkat pertumbuhan pesat perbankan digital, pembayaran real‑time, dan penggunaan API.

Menurut laporan berjudul AI‑Empowered Botnets and API Visibility Gaps: Attack Trends in Financial Services, Asia Pasifik menyumbang 52% dari semua serangan DDoS Layer 7 (lapisan aplikasi) global yang menargetkan industri keuangan pada tahun 2025. Angka ini menempatkan wilayah tersebut sebagai daerah yang paling sering dihantam serangan siber pada lapisan aplikasi selama empat tahun berturut‑turut.

Serangan DDoS Layer 7 dirancang secara canggih untuk membanjiri portal perbankan online, API pembayaran, serta aplikasi konsumen dengan trafik yang tampak sah. Karena demikian, serangan ini sangat sulit dideteksi oleh sistem pertahanan konvensional.

Di Asia Pasifik, sektor yang paling terdampak meliputi:

• Sektor Perbankan: menyumbang 44% serangan DDoS Layer 7 dan mencakup 92% serangan jaringan tingkat rendah.

• Sektor Fintech: berada di posisi kedua dengan 38% serangan DDoS Layer 7.

“Setiap layanan pembayaran, fitur mobile banking, integrasi fintech, dan alur kerja baru berbasis AI menciptakan dependensi lain yang dapat diuji oleh penyerang,” ujar Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy APJ di Akamai. Koh menambahkan bahwa banyak bank mengamankan layanan digital baru di atas sistem lama (legacy system) yang sulit ditambal atau diintegrasikan secara aman.

Masalah utama yang dihadapi industri keuangan bukan sekadar volume serangan, melainkan kompleksitas sistem. Meskipun 77% pemimpin TI di APAC yakin mereka memiliki gambaran menyeluruh terhadap aset API mereka, hanya 27% yang mengetahui API mana saja yang mengekspos data sensitif. Celah visibilitas ini dimanfaatkan oleh penjahat siber dengan botnet berbasis AI yang mampu meniru perilaku browser manusia untuk menembus pengamanan. Akamai mencatat lonjakan aktivitas bot canggih ini hingga 147% pada akhir tahun 2025.

Untuk mengurangi risiko, Akamai menyarankan institusi finansial menerapkan strategi mikrosegmentasi—mengisolasi aplikasi-aplikasi penting. Data menunjukkan perusahaan yang menerapkan sistem ini mampu merespons insiden siber 33% lebih cepat.

Di tengah ketatnya lanskap keamanan siber, Akamai Technologies mencatat performa bisnis yang solid di Asia Pasifik dengan pendapatan tahunan di atas USD 1 miliar pada tahun 2025. Dipimpin oleh Senior Vice President of Sales dan Managing Director untuk APAC, Sean Li, Akamai kini mengalihkan fokusnya untuk mendukung gelombang penerapan kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya melalui infrastruktur berbasis edge.

“Kawasan Asia‑Pasifik kini telah melewati tahap eksperimen AI dan memasuki tahap eksekusi,” kata Sean Li pada Kamis, 18 Juni 2026. Menurut Li, kendala terbesar yang dihadapi banyak perusahaan saat ini adalah arsitektur cloud konvensional terpusat yang tidak dirancang untuk memproses data AI secara real‑time dalam skala besar. Hambatan latensi (jeda waktu) dalam hitungan milidetik sangat memengaruhi pengalaman pelanggan dan manajemen risiko.

Untuk mengatasi hal tersebut, Akamai memindahkan proses inferensi AI (penerapan model AI di lingkungan nyata) langsung ke edge, menggunakan jaringan komputasi berbasis GPU yang tersebar di seluruh dunia dan dekat dengan pengguna akhir. Strategi ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan masa depan seperti:

• Mesin rekomendasi belanja (recommendation engines).

• Pemrosesan video resolusi tinggi secara langsung (live video intelligence).

• Sistem kendali kendaraan otonom.

• Operasional agen digital cerdas (agentic web).

Melalui strategi ini, Akamai berambisi mengintegrasikan performa komputasi berkecepatan tinggi dengan sistem keamanan berlapis, memastikan bahwa perlindungan enkripsi dan aplikasi AI berjalan berdampingan tanpa mengorbankan kecepatan akses pengguna.

Secara keseluruhan, laporan Akamai menyoroti bahwa Asia Pasifik berada di garis depan serangan siber pada sektor keuangan. Perbankan dan fintech menjadi sasaran empuk, sementara kurangnya visibilitas API dan ketergantungan pada sistem lama memperbesar kerentanan. Meskipun tantangan besar, Akamai menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan inovasi infrastruktur AI, menandakan bahwa perusahaan ini berusaha menyeimbangkan keamanan dan kinerja dalam dunia digital yang terus berkembang.

Serangan DDoS Layer 7APIFintechAkamai TechnologiesEdge ComputingAIKeamanan SiberPerbankan Digital

Komentar

Memuat komentar...