IHSG Turun 6.158,29, OJK Tegaskan Resiliensi Pasar Modal Indonesia

Tika M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 6.158,29, OJK Tegaskan Resiliensi Pasar Modal Indonesia

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Hal ini menyebabkan indeks saham turun di bawah level 6.000 beberapa waktu lalu. Saat ini, IHSG melemah 1 % ke level 6.158,29 berdasarkan panel Bursa Efek Indonesia (BEI). Pertumbuhan indeks saham terpangkas karena kembali melemah sejak perdagangan Rabu, 17 Juni 2026.

Meski demikian, OJK menilai pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah tekanan tersebut. Hal itu tercermin dari likuiditas pasar yang tetap memadai, aktivitas transaksi yang mulai membaik, dan tekanan jual investor asing yang diklaim terkendali. “Terdapat tekanan terhadap IHSG kita yang masih berlanjut pada pekan Juni 2026 yang sempat turun sampai di bawah level 6.000. Namun memang tren ini meskipun masih dalam keadaan ketidakpastian, tentunya dari kondisi saat ini masih juga menunjukkan resiliensi pasar yang tetap terjaga,” terang Direktur Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik OJK, Nailin Ni'mah, di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Di pasar obligasi, OJK mencatat kinerja indeks obligasi dianggap stabil meski risiko global meningkat. Industri pengelolaan investasi juga disebut berkinerja positif dengan pertumbuhan dana kelolaan dan aktivitas investasi secara year‑to‑date. Nailin menambahkan, proses pendalaman pasar modal juga terus berlanjut. Hal itu tercermin dari pertumbuhan jumlah investor yang saat ini mencapai 27 juta Single Investor Identification (SID). “Pertumbuhan jumlah investor yang signifikan, menjadi 27 juta investor, serta aktivitas penghimpunan dana korporasi yang tetap kuat, menunjukkan pasar modal tetap menjalankan perannya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian,” pungkasnya.

BEI juga menyampaikan telah menggelar sejumlah reformasi untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar modal. Reformasi tersebut termasuk pengungkapan Ultimate Beneficial Owner (UBO). Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Manullang, menjelaskan pengungkapan UBO ini mendorong perusahaan terbuka untuk menerapkan tata kelola yang baik, integritas, dan keterbukaan informasi. “Langkah ini akan memperkuat kepercayaan investor sekaligus meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia. Karena itu kami mendorong perusahaan tercatat untuk meninjau struktur kepemilikan secara menyeluruh, memastikan pengungkapan pemilik manfaat dilakukan dengan jelas, serta mengintegrasikannya ke dalam praktik tata kelola perusahaan yang baik,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa meski IHSG masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global, pasar modal Indonesia menunjukkan ketahanan melalui likuiditas yang memadai, aktivitas transaksi yang membaik, dan pengendalian tekanan jual investor asing. Reformasi pengungkapan UBO di BEI bertujuan memperkuat kepercayaan dan kredibilitas pasar, sementara pertumbuhan jumlah investor dan aktivitas pengumpulan dana korporasi menegaskan peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian.

OJKIHSGBEIpasar modalUBOinvestor asingketidakpastian global

Komentar

Memuat komentar...