BBM Subsidi Tetap Stabil, Non‑Subsidi Ikut Pasar 2026

Mira T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BBM Subsidi Tetap Stabil, Non‑Subsidi Ikut Pasar 2026

Gambar atau konten salah?

JakartaKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, seperti Pertalite dan Solar subsidi, tidak akan naik. Meski situasi geopolitik di dunia semakin tegang, pemerintah berusaha menjaga harga BBM subsidi agar tetap stabil.

Juru bicara ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa BBM non‑subsidi, misalnya Pertamax, memang harus mengikuti harga pasar. Namun, harga BBM subsidi tetap dipertahankan. “Berkaitan dengan harga BBM non‑subsidi, mungkin saya perlu jelaskan kembali, banyak mungkin di luar sana yang belum memahami dengan clear. BBM ini memang jenisnya ada dua, BBM subsidi dan BBM non‑subsidi. BBM subsidi kita berbicara Pertalite dan juga Solar subsidi. Kalau untuk BBM subsidi ini dipastikan oleh Pak Presiden sesuai yang disampaikan oleh Kementerian ESDM untuk BBM subsidi Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan,” kata Anggia dalam konferensi pers bakom tentang Update Program Prioritas Pemerintah, kemarin.

Menurutnya, menjaga harga BBM subsidi adalah cara melindungi masyarakat rentan. “Dengan kondisi sesulit apa pun, harga BBM subsidi tetap dijaga. Tujuannya untuk melindungi masyarakat rentan. Sesulit apa pun kondisi geopolitik luar sana, ini yang terus dijaga,” ujarnya.

Sementara itu, harga BBM non‑subsidi memang harus naik. Badan usaha pelat merah maupun swasta sempat menahan harga Pertamax cs selama beberapa bulan ketika harga minyak dunia melonjak. Namun, per 01 Juni 2026, harga BBM non‑subsidi ikut naik. “Kalau kita berbicara negara-negara kawasan di tetangga, sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian. Tapi kita tahu di 01 April 2025 sesuai arahan Presiden, pemerintah masih mencoba untuk menjaga kestabilan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, makanya sempat ada diskusi dengan badan usaha baik itu pelat merah atau badan usaha swasta, untuk mempertahankan harga BBM non‑subsidi, dalam hal ini Pertamax. Tapi seiring jalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian,” katanya.

Harga minyak dunia kini turun setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai. Dengan penurunan harga minyak dunia, BBM non‑subsidi juga berpotensi turun. “Untuk BBM non‑subsidi kita berbicara tidak haya Pertamax, tapi juga produk BBM yang dijual oleh badan usaha swasta juga. Ini mekanismenya memang mengikuti mekanisme harga pasar. Minyak mentah dunia berapa harganya, apakah naik, apakah turun, nah mau tidak mau BBM non‑subsidi itu harus mengikuti sesuai dengan harga keekonomian. Walaupun tetap ada aturannya, di Kepmen 245 tahun 2022 yang mengatur harga untuk jenis bahan bakar tertentu,” kata Anggia.

Apakah harga BBM non‑subsidi bisa turun? “Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, bisa dipastikan harga BBM non‑subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau tidak terhindarkan, harga BBM non‑subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya. Kalau tidak, ini akan mempengaruhi keberlanjutan atau keberlangsungan pengadaan energi nasional,” ujar Anggia.

Dengan kebijakan ini, pemerintah menekankan bahwa perlindungan harga BBM subsidi tetap menjadi prioritas, sementara harga BBM non‑subsidi harus menyesuaikan dengan dinamika pasar global. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan kelangsungan pasokan energi nasional.

ESDMBBM subsidiPertaliteSolarPertamaxgeopolitikharga BBMpelat merah

Komentar

Memuat komentar...