Bali Hadapi Tekanan Pariwisata Karena Kenaikan Avtur Dunia
Gambar atau konten salah?
Bali menghadapi tekanan baru setelah kenaikan harga avtur dunia, yang menimbulkan lonjakan harga tiket pesawat. Dampaknya terasa di sektor pariwisata, di mana ribuan turis asing berpotensi menunda atau membatalkan kunjungan mereka ke pulau ini.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menegaskan bahwa meski situasi pariwisata saat ini masih tergolong stabil, risiko meningkatnya biaya perjalanan tetap menjadi perhatian serius. Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, mengingatkan bahwa kenaikan harga tiket dapat langsung memengaruhi minat wisatawan, yang harus menghitung ulang anggaran liburan mereka.
“Kalau harga tiket naik, akan pengaruhi juga. Kalau wisatawan itu mereka (tinjau) ulang perencanaan mereka berlibur karena harga tiket mulai melonjak,” ujarnya saat dihubungi pada 15 April 2026.
Selain faktor harga, Suryawijaya menyoroti dampak geopolitik. Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah menekan aliran wisatawan melalui jalur Timur Tengah. Penerbangan dari bandara besar di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha mengalami hambatan signifikan.
“Penutupan penerbangan dari Dubai, dari Abu Dhabi, dari Doha, jadi hub-hub yang sangat besar itu menyebabkan menurunnya para wisatawan khususnya yang melalui Middle East,” jelasnya.
Untuk mengatasi tekanan ini, PHRI bersama pelaku industri pariwisata berencana melakukan penyesuaian harga agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global. “Jadi kita akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sepanjang masih memungkinkan dengan harga yang reasonable. Biar sama-sama jalan karena situasi dan kondisi global ekonomi kita kan condong menurun, ya,” tambahnya.
Di sisi lain, PHRI tetap berfokus pada target kunjungan wisatawan nasional sebesar 16 juta orang. Upaya promosi ditujukan ke negara-negara penyumbang utama, seperti Australia, serta pengembangan pasar domestik.
“PHRI terus melakukan upaya promosi dan mengikuti Expo-Expo ke negara-negara yang memberikan kontribusi terhadap perusahaan Bali. Yang kedua melakukan upaya juga untuk bagaimana memikat tamu-tamu domestik untuk lebih memilih Bali lagi sebagai destinasi yang terfavorit itu kita inginkan,” kata Suryawijaya.
Suryawijaya berharap konflik global segera mereda melalui upaya perdamaian. Ia menekankan pentingnya stabilitas global bagi pemulihan ekonomi dan keberlanjutan pariwisata.
“Mereka sudah buat Board of Peace dan Indonesia sebagai salah satu anggota untuk menyuarakan terus kedamaian sehingga perang itu agar segera diakhiri, melakukan gencatan senjata, sehingga situasi dan kondisi nanti bertahap akan menjadi kembali normal,” harapannya.
Secara keseluruhan, Bali berusaha menyeimbangkan antara menjaga daya tariknya bagi wisatawan internasional dan domestik, sambil menyesuaikan strategi harga dan promosi di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
