Colin McPhee Menemukan Musik Bali di Banjar Kutuh
Gambar atau konten salah?
Di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, Bali, pada awal 1930-an, Colin McPhee, komposer Kanada dari Ontario, menemukan kisah yang akan mengubah jalannya hidup. Ia dikenal oleh warga setempat sebagai Tuan Sayan, karena kedekatannya dengan masyarakat Bali.
McPhee datang ke Bali bersama istrinya, Jane Belo, seorang antropolog. Pada 1931, mereka menjejak kaki pulau eksotis itu. Mereka menemukan keindahan surga kecil di Banjar Kutuh. Mereka mulai menumbuhkan rumah tradisional Bali di sana pada 1932.
Sejak tahun 1930, McPhee mendengar rekaman gramofon gamelan Bali. Ia terpesona. Ia langsung terpikat. Ia memutuskan untuk datang ke Bali. Ia menulis buku tentang obsesi dan perjalanan ke Bali. Ia menulis tentang pemahamannya tentang budaya yang menakjubkan. Ia menulis tentang seni, musik, tarian, ritual, dan kehidupan sosial Bali.
McPhee menulis secara detail tentang upayanya memahami ritual‑ritual, jumlahnya sangat banyak, konteks sosial kehidupan Bali, serta tarian dan musik yang memikat. Ia menulis tentang upayanya memahami konteks sosial kehidupan Bali. Ia menulis tentang tarian dan musik yang memikat. Ia menulis tentang upayanya memahami ritual‑ritual. Ia menulis tentang konteks sosial kehidupan Bali. Ia menulis tentang tarian dan musik yang memikat.
Setahun setelah “A House in Bali” diterbitkan, “A Club of Small Men” muncul. Buku ini menggambarkan anak‑anak Bali, berusia lima hingga delapan tahun, yang ingin bermusik seperti orang dewasa. Mereka menyaksikan ayah mereka memainkan gamelan. Mereka berharap suatu hari nanti mereka juga bisa bermain seperti itu.
McPhee menjadi profesor etnomusikologi di Universitas California Los Angeles pada 1958. Ia juga dikenal sebagai kritikus jazz yang dihormati. Ia menulis buku “The Music in Bali” yang diselesaikan beberapa bulan sebelum kematiannya. Buku ini diterbitkan pada 1966, dua tahun setelah kematiannya, dengan bantuan Dr. Mantle Hood, profesor UCLA. Buku ini merupakan studi komprehensif pertama tentang musik Bali yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Di antara semua pencapaian, McPhee membangun persahabatan mendalam dengan I Sampih, pemuda Bali berbakat. I Sampih memikat hati banyak orang dengan keluwesan dan kharismanya dalam menari. Ia mengantarkan McPhee bergabung dengan Gong Gunung Sari Peliatan. McPhee tampil gemilang di panggung‑panggung internasional.
Perjalanan McPhee ke Bali memunculkan cerita lintas budaya. Ia menulis tentang musik gamelan Bali. Ia menulis tentang hubungan budaya. Ia menulis tentang keindahan yang terjaga. Ia menulis tentang persahabatan yang terjalin. Ia menulis tentang keberagaman yang terwujud.
Catatan akhir: kisah McPhee di Bali menyoroti bagaimana musik dapat menjadi jembatan antar budaya. Ia menunjukkan bagaimana seorang komposer asing dapat belajar, menghargai, dan mempromosikan warisan musik lokal. Ia membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang menghubungkan jiwa‑jiwa di seluruh dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
