Banjir Rob Merendam 2.000 Hektare Tambak Sedati Sidoarjo

Rizki W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Banjir Rob Merendam 2.000 Hektare Tambak Sedati Sidoarjo

Gambar atau konten salah?

Sidoarjo – Banjir rob kembali melanda kawasan pesisir di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Lima desa terendam, sementara ribuan hektare tambak ikut terkena dampak. Genangan air laut mulai muncul pada 13 Juni 2026 dan diperkirakan akan berlanjut hingga 19 Juni 2026. Puncak pasang hari ini memperparah kondisi.

Desa yang terdampak adalah Kalanganyar, Gisik Cemandi, Banjar Kemuning, Segoro Tambak, dan Tambak Cemandi. Di antara kelima wilayah tersebut, Kalanganyar menjadi area dengan genangan paling luas.

Tokoh masyarakat pesisir Sedati, Mashudi Fakih, mengungkapkan bahwa banjir rob kali ini tidak hanya merendam permukiman dan jalur akses, tetapi juga merusak area pertambakan yang menjadi mata pencaharian warga. “Kalau dihitung secara keseluruhan, luas wilayah yang terdampak lebih dari 2.000 hektare. Dari jumlah itu sekitar 500 hektare tambak mengalami kerusakan cukup parah akibat terjangan air laut,” kata Mashudi kepada detikJatim, Jumat (13/6/2026).

Menurutnya, kerugian para petambak sangat besar. Mereka tidak hanya kehilangan hasil budidaya, tetapi juga harus memperbaiki tanggul dan galengan yang jebol. “Kerugiannya tentu sangat besar, bisa mencapai miliaran rupiah. Sebab yang rusak bukan hanya tambaknya, tetapi juga infrastruktur pendukung pertambakan yang selama ini menjadi pelindung wilayah,” ujarnya.

Mashudi menjelaskan bahwa kondisi pesisir Sedati saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Banyak tanggul dan galengan yang dulu menjadi pembatas antara daratan dan tambak kini rusak bahkan hilang akibat abrasi dan banjir rob yang terus berulang. “Dulu masih jelas batas antara daratan dan tambak. Sekarang banyak yang sudah menyatu dengan genangan air laut. Bahkan beberapa lokasi yang sebelumnya bisa ditempuh lewat jalur darat, sekarang harus menggunakan perahu,” ungkapnya.

Sementara itu, warga lain, Abdul Rokhim, menilai bahwa banjir rob tidak bisa dilihat hanya sebagai fenomena pasang air laut semata. Ia menyoroti kerusakan kawasan pesisir yang terjadi selama bertahun-tahun turut memperparah dampak rob. “Fungsi tanggul alami maupun galengan sebagai pelindung sudah banyak yang hilang. Ketika pasang laut tinggi, air dengan mudah masuk ke area tambak dan permukiman warga,” kata Abdul Rokhim.

Abdul juga menekankan pentingnya perubahan tata ruang di kawasan pesisir. Ia mengingatkan bahwa semakin banyak area tambak yang beralih fungsi menjadi kawasan perumahan. “Alih fungsi lahan tambak menjadi perumahan harus dievaluasi. Kawasan pesisir memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Jika tidak dikendalikan, risiko banjir rob akan semakin besar di masa mendatang,” tegasnya.

Abdul berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kawasan pesisir Sedati. Ia mengusulkan rehabilitasi tanggul, penguatan galengan, dan penyusunan kebijakan tata ruang yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta ekonomi masyarakat pesisir. “Yang dibutuhkan warga sekarang bukan hanya penanganan saat rob datang, tetapi solusi jangka panjang agar tambak dan permukiman mereka tetap terlindungi,” pungkasnya.

Situasi ini menyoroti betapa rentannya kawasan pesisir di Sidoarjo terhadap banjir rob. Kerusakan luas, infrastruktur yang rapuh, dan perubahan tata ruang menambah kompleksitas masalah. Upaya mitigasi dan perencanaan jangka panjang menjadi kunci untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat pesisir Sedati.

Banjir robSidoarjoTambakTanggulGalenganPasang lautTata ruang

Komentar

Memuat komentar...