Bappebti Ekspor 38 Ton Kopi ke China-Maroko

Ani R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Bappebti Ekspor 38 Ton Kopi ke China-Maroko

Gambar atau konten salah?

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang berada di bawah Kementerian Perdagangan baru saja mengirimkan dua kontainer kopi ke luar negeri. Kopi-kopi ini berasal dari Gudang Sistem Resi Gudang (SRG) KAI-ASLI yang berlokasi di Gedebage, Bandung. Pengiriman dilakukan pada Kamis, 16 Juli 2026, dengan tujuan China dan Maroko.

Total muatan dua kontainer tersebut mencapai 38,4 ton. Nilainya sekitar US$ 227.443,2 atau setara dengan Rp 4,08 miliar jika menggunakan kurs Rp 17.942 per dolar AS. Satu kontainer berisi kopi Robusta Grade 2 seberat 19,2 ton dikirim ke Maroko. Nilai ekspor untuk kontainer ini adalah US$ 71.040 atau sekitar Rp 1,27 miliar. Satu kontainer lainnya berisi kopi Arabica Semi-Wash dengan berat yang sama, 19,2 ton, dikirim ke China. Nilainya lebih besar, yaitu US$ 156.403,2 atau sekitar Rp 2,80 miliar.

Ini bukan pengiriman terakhir. Bappebti berencana melepas delapan kontainer kopi Arabica Semi Wash lagi dari gudang yang sama. Total volume yang akan menyusul adalah 153,6 ton. Nilai ekspor untuk pengiriman berikutnya ini diperkirakan mencapai US$ 1.251.225,60 atau sekitar Rp 22,45 miliar, dan semuanya akan dikirim ke China.

Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya, menyatakan bahwa pencapaian ini menunjukkan bagaimana Sistem Resi Gudang bisa dimanfaatkan secara maksimal. "Pelepasan ekspor ini membuktikan, implementasi SRG yang optimal mampu memperkuat daya saing komoditas Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha," kata Tirta dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Proses ini tidak berjalan sendiri. Banyak pihak terlibat dalam implementasi SRG, mulai dari pemerintah hingga petani yang tergabung dalam Koperasi Gunung Luhur Berkah. Beberapa perusahaan juga ikut ambil bagian. PT ASLI Logistik Indonesia bertindak sebagai agregator. PT Sucofindo mengelola gudang SRG. PT Kereta Api Indonesia adalah pemilik gudang. Sementara PT Kliring Berjangka Indonesia berperan sebagai pusat registrasi SRG.

Tirta menjelaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja sama. "Keberhasilan implementasi SRG untuk ekspor ini merupakan hasil dari sinergi baik antara pemerintah pusat dan daerah bersama pelaku usaha. Optimalnya peran semua pihak sangat berpengaruh pada keberhasilan ini," ujarnya.

Pengiriman kopi melalui SRG ini dianggap penting karena kualitas kopi tetap terjaga. Dengan begitu, kopi Indonesia bisa bersaing di pasar internasional. SRG juga dilihat sebagai penghubung antara petani dan pelaku usaha kopi dengan pembeli di luar negeri.

Ekspansi ke China dan Maroko menunjukkan bahwa kopi Indonesia dipercaya oleh mitra internasional. Ini membuka peluang untuk mendiversifikasi pasar ekspor kopi yang selama ini masih terpusat pada beberapa negara tujuan saja.

Tirta menambahkan, "Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 9 Tahun 2006 jo UU No. 9 Tahun 2011. Melalui SRG, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan kualitas dan kuantitas komoditas."

Sistem Resi Gudang pada dasarnya memberikan dokumen bukti simpan kepada petani. Dokumen ini bisa dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Dengan begitu, petani tidak perlu menjual hasil panennya segera setelah panen. Mereka bisa menunggu waktu yang tepat untuk menjual, termasuk ketika ada peluang ekspor seperti yang terjadi sekarang. Keberhasilan ekspor kopi ke China dan Maroko ini menjadi contoh bahwa SRG bisa menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendongkrak nilai ekspor nasional.

BappebtiEkspor KopiSistem Resi GudangChinaMarokoKopi ArabicaKopi Robusta

Komentar

Memuat komentar...