Baterai Smartphone Lebih Besar, Silicon-Carbon Muncul China
Gambar atau konten salah?
Smartphone masa kini semakin tipis, namun kapasitas baterainya justru tumbuh lebih besar. Pengguna dapat menyesuaikan perangkat yang ringan dengan daya tahan lama, sebuah kombinasi yang dulu sulit dicapai.
Teknologi yang membuat hal ini mungkin adalah silikon-karbon, sebuah varian baterai lithium‑ion yang mengganti anoda grafit dengan campuran silikon dan grafit. Silikon memiliki kepadatan energi hampir sepuluh kali lebih tinggi, sehingga menambah kapasitas tanpa memperbesar ukuran sel.
Contoh nyata hadir di Honor Power yang menampung 8.000 mAh dan di Oppo Find N5, ponsel lipat ultra tipis, dengan baterai 5.600 mAh. Kedua perangkat menunjukkan bahwa teknologi ini dapat diterapkan pada model yang berbeda.
Selain Honor dan Oppo, merek China lain seperti Huawei, Xiaomi, Vivo, dan OnePlus juga mulai mengadopsi silikon-karbon. Mereka berlomba meningkatkan persentase silikon dalam anoda untuk memaksimalkan kapasitas.
Namun, tiga raksasa pasar—Apple, Samsung, dan Google—belum mengimplementasikan teknologi ini. Pada 29 April 2026, mereka masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut sebelum mengambil langkah.
Alasan utama melibatkan risiko degradasi. Silikon memuai hingga 300% saat menyerap ion litium, menyebabkan struktur baterai cepat rusak. Regulasi Uni Eropa menuntut baterai ponsel mempertahankan 80 % kapasitas setelah 800 siklus pengisian. Logistik juga menjadi masalah: baterai >20Wh, setara 5.400 mAh, dianggap barang berbahaya, sehingga biaya pengiriman udara melonjak. Samsung juga berhati-hati karena insiden ledakan Galaxy Note 7.
Prediksi masa depan menunjukkan persentase silikon akan terus naik. Oppo kabarnya akan menyiapkan Find X9 Pro dengan baterai 7.500 mAh, sedangkan rumor Honor Power 2 akan mencapai 10.000 mAh. Sementara itu, Nothing Phone 3 menyesuaikan kapasitas menjadi 5.150 mAh di Eropa, menurunkan dari 5.500 mAh di India untuk mengurangi biaya pengiriman.
Pengguna yang setia pada Apple, Samsung, atau Google harus bersabar. Mereka menunggu para ilmuwan material menyempurnakan teknologi silikon agar pemuaian tidak menurunkan umur baterai. Sejauh ini, keunggulan jangka panjang masih menjadi prioritas utama bagi ketiga perusahaan tersebut.
Dengan teknologi silikon-karbon, kapasitas baterai smartphone dapat tumbuh tanpa menambah ketebalan. Meskipun banyak produsen China sudah mengadopsinya, raksasa global masih menunggu hasil uji lebih lanjut karena risiko degradasi, regulasi logistik, dan sejarah keamanan baterai. Perkembangan ini akan memengaruhi pilihan konsumen dan strategi pasar di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Spotify Luncurkan Chatbot AI untuk Pengguna Premium
Motorola Razr Fold Hanya Rilis 1 Varian RAM di Indonesia
Motorola Razr Fold Resmi di Indonesia, Harga Rp25,5 Juta
Motorola Luncurkan Moto Buds 2 Plus dan Moto Buds 2 di Indonesia
Motorola Razr Fold Resmi di Indonesia, Harga Rp 29,9 Juta
Tecno Pova 8 5G Resmi, Baterai 8.000 mAh Jadi Andalan
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai