Batu Lingga Beraksara Ditemukan di Desa Gumulan, Klaten
Gambar atau konten salah?
Di Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, sebuah batu lingga beraksara ditemukan di gang buntu antara rumah warga dan area parkir Masjid Al‑Muttaqien. Batu ini terbuat dari andesit dan masih utuh, meskipun kakinya berupa kotak segi empat yang kemudian berubah menjadi silinder hingga puncak. Aksara terukir di bagian atas lingga, menyerupai huruf Jawa kuno atau Sansekerta.
“Kita bersama teman‑teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al‑Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti,” ujar Wiyan Ari Tanjung, analis cagar budaya dan koleksi museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Klaten. Ia menjelaskan bahwa lingga terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan, aksaranya muncul jelas.
Lingga itu kemudian didokumentasikan dan diukur. Bagian atas berbentuk silinder, sementara bagian bawah berbentuk persegi. Di tepi jalan depan masjid, para peneliti juga menemukan batu kotak menyerupai yoni yang ditanam di tanah.
“Di tepi jalan depan masjid ada yang diduga Yoni posisi terpendam,” tambah Wiyan. Ia mengungkapkan bahwa yoni tersebut berada di posisi terpendam, hanya permukaan atasnya terlihat karena sebagian terpendam aspal. Dimensi yoni adalah 45 x 45 sentimeter dengan tinggi sekitar 19 sentimeter.
“Kondisi tulisan atau aksara masih bagus dan terbaca. Namun untuk memastikan hurufnya jenis apa, tahunnya berapa, isinya prasasti, mantra atau apa kita akan berkoordinasi dengan epigraf,” jelas Wiyan.
Goenawan A Sambodo, pakar epigraf, sudah mencoba membaca tulisan pada lingga tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa teksnya berbunyi “Palyangan”. “Untuk aksara Jawa kuno, terbaca sementara seperti yang sudah ditulis Mas Yoan di Facebooknya. Artinya belum pasti, masih dalam proses pencarian,” ujar Goenawan.
Pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto alias Yoan, menyatakan bahwa tulisan pada prasasti itu sudah terbaca oleh pakar epigraf Goenawan. Tulisannya berbunyi “Palyangan”. “Palyangan, mungkin nama sebuah wilayah, mungkin ya,” ungkap Yoan.
Yoan menjelaskan bahwa lingga patok prasasti tersebut mungkin patok wilayah yang biasanya tidak hanya satu. Namun artinya belum bisa dipastikan. Ia juga menyebutkan bahwa kata “Palyangan” sering merujuk kosakata lokal atau serapan dalam budaya Jawa. Ada pula kemungkinan makna lainnya.
“Istilah ini lebih sering merujuk pada kosakata lokal atau serapan dalam budaya Jawa, nama wilayah atau prasasti dalam konteks sejarah, Palyangan dikenal sebagai nama sebuah desa dan nama sebuah prasasti dari abad IX‑X Masehi (Prasasti Palyangan) di Jawa Tengah,” sambung Yoan. Ia menambahkan bahwa dalam sistem agraria tradisional di Jawa, istilah Playangan (atau Palyangan) merujuk pada jenis tanah pertanian komunal milik desa yang digarap oleh warga setempat secara bergilir atau tetap.
Warga setempat mengakui bahwa batu prasasti itu sudah lama berada di lokasi dan tidak diketahui asalnya. Ratno, seorang warga berusia 52 tahun, mengatakan bahwa sebelum ada masjid sudah ada batu itu. “Sudah lama di situ,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa Masjid Al‑Muttaqien di selatan lokasi batu lingga itu ditemukan juga merupakan masjid kuno.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pantun Tahun Baru Islam 2026: Sederhana, Menginspirasi Umat
Sukoharjo 82% Sekolah Rakyat Selesai, Tantangan Tenaga Kerja
Lingga Prasasti Abad ke-9 di Klaten: Palyangan Menjadi Fokus
Mobil Melintasi Palang, Nyaris Menabrak Kereta di Semarang
Kalender Muharram 1448 H dan Jadwal Puasa Rinci 2026
Batu Lingga Terselubung di Klaten Terungkap Aksara Asal Usul
Berita Terbaru
Tuntutan Penjara 4 Tahun 6 Bulan bagi Dr Ratna Setia Asih
Pertamax 92 Naik Rp 16.250, Motor Pilih Pertalite Sekarang
Sony Luncurkan Headphone 1000X The Collexion 10 Tahun
Sejarah Kalender Hijriah: Dari Hijrah ke Perhitungan Bulan
Puasa 1 Muharram 1448 H: Diperbolehkan dan Niat
Libur Nasional 1 Muharram 1448: Sekolah Tutup 16 Agustus
Trump Umumkan Pembukaan Selat Hormuz, Harga Minyak Turun
Yamal Siap Hadapi Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
McKennie: Piala Dunia 2026 Bawa Sepak Bola Lebih Populer di AS
Belanda‑Jepang Seri 2‑2, Netizen Reaksikan Kolonialisme