Sejarah Kalender Hijriah: Dari Hijrah ke Perhitungan Bulan
Gambar atau konten salah?
Denpasar – Hari‑hari penting dalam agama Islam menggunakan kalender Hijriah sebagai acuan. Selain kalender Masehi, kalender Hijriah juga resmi dipakai di berbagai negara.
Kalender Hijriah tidak dibentuk pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Penetapan tahun Hijriah baru terjadi setelah Sang Rasul wafat, yaitu pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, khalifah kedua.
Sebelum ada kalender Hijriah, masyarakat Jazirah Arab sebenarnya sudah mengenal bulan‑bulan, seperti Ramadan dan Dzulhijjah. Namun, mereka belum memiliki sistem penanggalan tahun yang teratur.
Masalah ini mulai terlihat pada masa kekhalifahan Umar. Saat itu, surat‑surat penting terkait administrasi negara tidak mencantumkan tahun pembuatan yang jelas.
Untuk mengatasi kendala administrasi tersebut, Umar mengumpulkan para sahabat dalam sebuah musyawarah. Mereka berdiskusi mengenai penetapan tahun yang akan digunakan sebagai sistem penanggalan.
Berbagai usulan muncul dari para sahabat. Ada yang mengusulkan agar tahun kelahiran Nabi Muhammad dijadikan tahun pertama. Ada pula yang mengusulkan agar tahun pertama dimulai dari saat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira. Namun, belum ada kesepakatan.
Hingga akhirnya, seorang sahabat mengusulkan agar tahun pertama dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Alasannya, peristiwa hijrah menjadi titik awal kebangkitan dan perkembangan Islam.
Usulan ini pun diterima semua pihak. Bulan pertama ditetapkan adalah Muharram karena Nabi Muhammad sudah mulai berniat untuk hijrah ke Madinah pada bulan tersebut. Kalender kemudian dinamakan Hijriah yang berarti “hijrah”.
Penetapan kalender resmi umat Islam ini terjadi pada 8 Rabiul Awal 17 Hijriah atau bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Hingga saat ini, kalender Hijriah masih tetap digunakan untuk menentukan tanggal‑tanggal penting dalam Islam, seperti Idulfitri dan Iduladha.
Kedua jenis kalender ini memiliki perbedaan dasar dalam cara menghitung tanggal. Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi (sistem lunar atau bulan). Sementara itu, kalender Masehi menggunakan peredaran Bumi mengelilingi Matahari (sistem solar atau matahari).
Perbedaan perhitungan ini menyebabkan setiap menjelang bulan baru dalam kalender Hijriah selalu dilakukan pemantauan hilal. Tujuannya untuk mengamati kemunculan bulan baru setelah fase bulan mati. Sistem bulan (lunar) menyebabkan panjang waktu satu bulan dalam kalender Hijriah tidak selalu sama. Ada bulan yang berlangsung selama 29 hari dan ada pula yang 30 hari.
Jumlah bulan dalam kalender Hijriah sama dengan kalender Masehi, yakni 12 bulan. Bulan pertama dimulai dari Muharram dan bulan paling penting adalah Ramadan.
- Muharram
- Safar
- Rabiul Awal
- Rabiul Akhir
- Jumadilawal
- Jumadilakhir
- Rajab
- Syakban
- Ramadan
- Syawal
- Dzulqaidah
- Dzulhijjah (iws/iws)
Kalender Hijriah tetap menjadi landasan bagi umat Islam dalam menandai peristiwa penting, sekaligus menegaskan hubungan sejarah dan keagamaan yang melekat pada setiap bulan. Dengan sistem lunar, umat Islam harus selalu memantau hilal, yang menandai pergantian bulan baru. Hal ini menambah nuansa spiritual dalam setiap perayaan, sekaligus mengingatkan akan perjalanan sejarah Islam sejak hijrah Nabi Muhammad.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
