Bayu Buana Akuisisi Hotel Makassar sebagai Langkah Baru

Yuli S. · 2 min baca · 27 hari lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Bayu Buana Akuisisi Hotel Makassar sebagai Langkah Baru

Gambar atau konten salah?

PT Bayu Buana Tbk yang dikenal sebagai agen perjalanan kini menambah lini bisnisnya ke sektor hospitality. Rencana akuisisi hotel di Makassar menjadi langkah awal perusahaan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti.

Direktur Utama Agustinus Kasjaya Pake Seko menegaskan bahwa “Ke depan kami tidak hanya fokus pada travel, tapi juga masuk ke hospitality untuk memperkuat ekosistem bisnis.” Ia ditemui di Jakarta pada Kamis, 07 Mei 2026, dan menjelaskan bahwa ekspansi ini masih berada di tahap pengembangan awal.

Hotel yang akan diakuisisi akan berkonsep boutique hotel. Menurut Agustinus, “Memang hotel ini juga kalau tidak memiliki perbedaan yang signifikan, itu bisa masuk ke commodity trap ya. Nah begitu kami masuk ke bisnis ini, kami sudah punya konsepnya yaitu lebih ke boutique hotel. Jadi tidak bisa dengan gampang dibandingkan dengan properti lain. Nah biasanya properti yang masuk ke commodity trap ini biasanya there is no differentiation ya, antara satu properti dengan properti yang lain. Biasanya mereka akan masuk seperti itu,”. Konsep ini diharapkan membuat properti tersebut menonjol di pasar Makassar.

Makassar dipilih karena menjadi hub menuju Indonesia timur. Agustinus menambahkan bahwa hotel di kota ini selalu penuh pada akhir pekan maupun hari kerja. Investasi senilai Rp 100 miliar diperkirakan memiliki periode pengembalian sekitar 8 hingga 9 tahun. Selain Makassar, perusahaan masih menjajaki lokasi lain yang belum diumumkan secara detail. “Itu termasuk NDA,” ujarnya sambil tertawa.

Di sisi keuangan, Hardy Karuniawan, Direktur Independen, mengungkapkan bahwa perusahaan masih mencatat pertumbuhan laba bersih meski menghadapi ketidakpastian global. Sepanjang 2025, Bayu Buana mencatat pendapatan sebesar Rp 2,49 triliun, turun 3,48% YoY dibandingkan Rp 2,58 triliun pada periode yang sama 2024. Laba bersih meningkat menjadi Rp 105,45 miliar pada 2025, naik dari Rp 102,17 miliar pada 2024.

Namun pada kuartal I 2026, pendapatan turun 13,94% menjadi Rp 554,72 miliar, sementara laba bersih jatuh menjadi Rp 15,60 miliar dan laba usaha turun Rp 19,58 miliar dari Rp 29,87 miliar. “Penurunan ini dipengaruhi oleh perlambatan aktivitas bisnis serta tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar dan kenaikan biaya perjalanan,” ujar Hardy.

Meski ada tekanan, posisi keuangan tetap terjaga. Pada Maret 2026, total aset mencapai Rp 972,99 miliar dan ekuitas Rp 570,80 miliar. Manajemen menilai industri perjalanan pada 2026 masih menghadapi tantangan, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga tiket akibat fuel surcharge. Kondisi ini membuat perilaku konsumen menjadi lebih selektif, menekankan nilai dan pengalaman. “Permintaan masih ada, tapi pertumbuhannya lebih moderat. Konsumen kini lebih berhati-hati dan mempertimbangkan value,” kata Agustinus.

Untuk menjaga kinerja, Bayu Buana akan memperkuat transformasi digital, memperluas kemitraan global, serta mengembangkan produk perjalanan premium dan customized. Ekspansi ke sektor hospitality diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang. “Dengan fundamental yang kuat dan strategi yang adaptif, kami optimistis tetap bisa menjaga pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, langkah diversifikasi ke hotel boutique di Makassar menunjukkan upaya Bayu Buana untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar. Dengan fokus pada diferensiasi, digitalisasi, dan penawaran premium, perusahaan berusaha tetap relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan perilaku konsumen.

PT Bayu Buana Tbkhotel boutique Makassardiversifikasi hospitalitydigitalisasi perjalananinvestasi 100 miliarnilai tukarkonsumen selektif

Komentar

Memuat komentar...