BBM Non‑Subsidi Naik Rp 16.250/17.000, Warga Terkejut

Wati N. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BBM Non‑Subsidi Naik Rp 16.250/17.000, Warga Terkejut

Gambar atau konten salah?

Harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi di Indonesia mengalami kenaikan pada 10 Juni 2026. Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) masing‑masing naik menjadi Rp 16.250 dan Rp 17.000 per liter, dibandingkan dengan Rp 12.300 dan Rp 12.900 sebelumnya.

Perubahan ini langsung memicu reaksi tajam dari masyarakat. Banyak warga yang menanyakan alasan di balik kenaikan yang cukup signifikan.

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak lepas dari gejolak kondisi geopolitik global yang membuat harga minyak dunia bergerak sangat fluktuatif. “Ini tentu mau tidak mau berpengaruh terhadap harga BBM di tanah air. Terutama untuk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax salah satunya, dan BBM nonsubsidi ini, penyesuaian harganya mengikuti mekanisme pasar, sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Anggia pada Kamis, 11 Juni 2026.

Anggia menambahkan bahwa dalam penetapan harga tersebut terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi harga keekonomian BBM, mulai dari harga produk BBM di pasar internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga biaya distribusi, penyimpanan, dan perpajakan. “Karena itu penyesuaian harga BBM nonsubsidi, cepat atau lambat, tidak terhindarkan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa penyesuaian harga BBM tidak hanya di Indonesia. Negara tetangga di kawasan Asia Tenggara telah menaikkan harga lebih dulu, bahkan lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. “Yang harus kita pahami bersama, seperti yang kita tahu juga di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, kenaikan harga BBM sejenis sudah lebih dulu terjadi, dan jauh lebih tinggi dari harga BBM sejenis di tanah air,” ujarnya.

Di sisi lain, BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan harga. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli dan melindungi masyarakat kecil. “Karena itu Presiden memerintahkan agar harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi dijamin tidak naik, demi melindungi kelompok rentan, melindungi daya beli masyarakat kecil, serta menjaga stabilitas ekonomi,” tambah Anggia.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa kenaikan harga ini mempertimbangkan perkembangan kondisi global, termasuk dinamika geopolitik dan pergerakan harga minyak dunia. “Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian Masyarakat. Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” jelas Simon.

Simon menekankan bahwa penyesuaian harga BBM juga terjadi di SPBU milik badan usaha swasta. “Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini selain dilakukan di titik‑titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta,” tuturnya.

Dalam video tersebut, Simon menegaskan bahwa kenaikan harga hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Sementara itu, harga BBM subsidi yakni Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan. “Perlu kami sampaikan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite masih tetap di Rp 10.000 per liter dan BioSolar di harga Rp 6.800 per liter sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah,” papar Simon.

Pertamina juga menegaskan bahwa pasokan energi nasional tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global. Ia mengajak seluruh pihak menggunakan energi secara bijak. “Kami berterima kasih atas dukungan masyarakat selama ini dan mari kita bersama-sama bijak menggunakan energi,” terang Simon.

Dengan kenaikan harga BBM non‑subsidi yang signifikan, pemerintah dan Pertamina menekankan bahwa langkah ini didasarkan pada dinamika pasar global dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Sementara harga BBM subsidi tetap dijaga untuk melindungi konsumen, masyarakat diharapkan tetap menggunakan energi dengan bijaksana dalam menghadapi perubahan harga ini.

BBM non-subsidiharga Pertamaxgeopolitik globalPertaminaPertalite subsidiSPBUstabilitas ekonomi

Komentar

Memuat komentar...