Bengkel Motor Karyawan Tambang Raup Rp8 Juta per Bulan

Dewi M. · 4 min baca · 3 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Bengkel Motor Karyawan Tambang Raup Rp8 Juta per Bulan

Gambar atau konten salah?

Bagi Fitra, suara deru ribuan sepeda motor yang memenuhi jalanan Bahodopi setiap kali pergantian jam kerja bukanlah sekadar kebisingan. Ia justru melihatnya sebagai peluang bisnis yang terbuka lebar.

Pada tahun 2017, ia memulai usaha bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu. Saat itu, bengkel tersebut diurus oleh istrinya, sementara Fitra sendiri masih bekerja sebagai karyawan tambang di Kalimantan. Setahun berselang, bengkel itu pindah ke Bahodopi, tepatnya di sebuah jalan yang saat itu kondisinya belum sepenuhnya diaspal.

Setelah 14 tahun mengabdikan diri di pertambangan Kalimantan dan terkena dampak pandemi COVID-19, Fitra akhirnya memutuskan berhenti. Ia memilih fokus mengelola bengkelnya sendiri. Keputusan itu diambil setelah ia mengamati bahwa mayoritas karyawan di kawasan industri IMIP menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama.

"Perubahannya cepat sekali. Tahun 2018 jalan belum beraspal, dua tahun kemudian warga membangun dengan masif, tahun 2020 terus berkembang, dan tahun 2026 sangat pesat," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 05 Oktober 2026.

Sekitar 90 persen pelanggan bengkelnya kini adalah karyawan IMIP. Bengkel Segar Jaya Berkah yang ia kelola kini telah memiliki enam cabang dengan lebih dari 50 orang karyawan, mulai dari staf administrasi hingga mekanik. Upah untuk seorang mekanik di sana mencapai Rp8 juta per bulan.

Bahodopi terletak di sisi timur Sabuk Tengah Sulawesi, di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Selama puluhan tahun, kecamatan ini hampir tidak pernah menjadi topik pembicaraan di tingkat nasional.

Semuanya berawal pada tahun 2013, ketika pemerintah menetapkan kebijakan hilirisasi mineral dan melarang ekspor bijih mentah. Industri pengolahan didorong untuk berdiri di dalam negeri. Morowali, dengan kekayaan nikel dan akses ke pantai Teluk Tolo yang memungkinkan pembangunan pelabuhan industri, menjadi lokasi pilihan. Tiang pancang pertama ditanam di tanah Bahodopi, dan kawasan itu kemudian dikenal sebagai Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Tiga belas tahun kemudian, IMIP bukan lagi sekadar proyek industri. Kawasan ini telah mengubah lanskap Bahodopi dan menarik banyak perantau yang datang dengan harapan meraih kehidupan yang lebih baik.

Data dari HR Department PT IMIP mencatat lonjakan jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Pada tahun 2020, ada 35.592 orang. Angka itu naik menjadi 51.542 pada tahun 2021, 68.466 pada tahun 2022, 74.350 pada tahun 2023, dan sekitar 83.000 pada tahun 2024. Pada tahun 2025, jumlahnya mencapai 86.804 orang. Hingga September 2026, jumlah karyawan di kawasan ini mencapai 100.310 orang, terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan.

Dengan populasi pekerja sebesar itu, uang yang berputar di Bahodopi pun sangat besar. Pada tahun 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan, atau sekitar Rp6 triliun per tahun. Angka itu menciptakan kebutuhan harian yang tidak bisa dipenuhi oleh kawasan industri seorang diri.

"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang," kata Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan.

Menurut riset yang dilakukan oleh tim riset SGA Department IMIP, lima jenis UMKM yang paling banyak di Bahodopi adalah kios Pertamini (981 unit), stan minuman (735), stan makanan non-bangunan (670), kios umum (648), dan warung makan (591). Sebagian besar usaha ini berskala mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, tetapi tren pertumbuhannya menunjukkan potensi untuk naik kelas.

Dampak dari pertumbuhan ini terlihat pada angka provinsi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026 menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen (yoy), naik dari 7,79 persen pada triwulan sebelumnya. Angka itu menempatkan Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau dan sebagian besar provinsi lain.

"Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah," tulisnya.

Di luar pagar smelter, limpahan rezeki itu bergulir ke usaha-usaha domestik yang jeli melihat celah. Geliat yang sama dirasakan oleh Ayu Lestari Rahman. Warga Desa Fatufia ini melihat peluang dari tumpukan pakaian kotor. Di tengah rutinitas buruh pabrik yang menguras energi, urusan mencuci baju menjadi pekerjaan yang melelahkan.

"Di sini banyak orang yang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat mencuci," kata Ayu.

Bersama suaminya, ia merintis usaha laundry BlueSea pada tahun 2022. Bermodal awal Rp20 juta dan satu mesin cuci, mereka memanfaatkan jaringan pertemanan pekerja pabrik untuk mengembangkan usaha.

Sekarang, mesin cuci BlueSea menggilas sekitar 200 kilogram pakaian per hari dari para pekerja, kontraktor, hingga pedagang dan warga sekitar. Tarif yang dikenakan adalah Rp7.000 per kilogram untuk layanan reguler dan Rp15.000 untuk layanan kilat, plus fasilitas antar gratis dalam radius 3 kilometer.

BlueSea kini menjadi sumber pendapatan utama keluarga tersebut, dengan omzet sekitar Rp35 juta per bulan. Ayu berharap kawasan industri terus memberi ruang bagi usaha warga.

"Semoga IMIP terus berkembang dan bisa terus menyerap tenaga kerja. Kalau karyawan sudah capek bekerja, jangan capek lagi mencuci. Bawa saja ke sini," ujarnya.

Cerita Fitra dan Ayu hanyalah dua contoh kecil dari geliat ekonomi yang terjadi di Bahodopi. Kehadiran kawasan industri raksasa IMIP tidak hanya mengubah peta perekonomian Sulawesi Tengah, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis baru bagi warga sekitar. Dari bengkel motor hingga jasa laundry, semua tumbuh karena kebutuhan ribuan pekerja yang setiap hari memadati kawasan tersebut. Pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi motor utama yang menggerakkan roda usaha mikro dan kecil di daerah itu.

peluang bisnisbengkel motorIMIPBahodopihilirisasipertumbuhan ekonomiUMKM

Komentar

Memuat komentar...