Beras Desain: Protein Naik 20%, GI Rendah, Tanpa GMO

Cahyo S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Beras Desain: Protein Naik 20%, GI Rendah, Tanpa GMO

Gambar atau konten salah?

Berbagai jenis beras telah lama menjadi sumber energi utama bagi banyak orang. Namun, kandungan protein yang rendah dan potensi memicu lonjakan gula darah membuatnya kurang ideal bagi kesehatan jangka panjang.

Di kota Thiruvananthapuram, India, para ilmuwan dari Council of Scientific and Industrial Research (CSIR) dan National Institute for Interdisciplinary Science and Technology (CSIR‑NIIST) mengembangkan sebuah inovasi baru yang disebut designer rice. Inovasi ini bertujuan menambah nilai gizi beras tanpa mengubah cara memasak atau rasa yang sudah dikenal.

Proyek ini dipimpin oleh C. Anandharamakrishnan, Direktur CSIR‑NIIST. Ia menyebut pendekatan ini sebagai bentuk 'food architecture', menggambarkan proses rekonstruksi nutrisi beras secara sistematis.

Metode yang digunakan tidak melibatkan rekayasa genetik. Peneliti memecah beras konvensional menjadi komponen utamanya—pati, protein, dan serat—kemudian menyusunnya kembali dengan proporsi yang lebih bernutrisi. Sebagian pati dikurangi dan digantikan oleh tambahan protein serta mikronutrien penting.

Berbagai bahan dasar, terutama broken rice atau beras pecah, dipilih karena harganya lebih rendah. Beras pecah digiling menjadi tepung, kemudian dicampur dengan protein dan mikronutrien seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Campuran ini dibentuk kembali menjadi butiran beras yang menyerupai beras biasa, baik dari segi rasa, tekstur, maupun tampilan.

Hasilnya, designer rice memiliki indeks glikemik (GI) di bawah 55, sehingga energi dilepaskan secara lebih lambat setelah dikonsumsi. Ini membantu mencegah lonjakan gula darah yang sering terjadi dengan beras konvensional. Selain itu, kandungan protein meningkat signifikan, dari sekitar 6‑8 % pada beras biasa menjadi lebih dari 20 %.

Penambahan zat besi, asam folat, dan vitamin B12 juga berperan penting dalam mengatasi anemia. Dengan nutrisi yang lebih lengkap, designer rice dapat menjadi alternatif yang lebih sehat tanpa mengharuskan perubahan pola makan. Hidangan yang menggunakan beras ini dapat dimasak seperti nasi biasa.

Inovasi ini sekaligus menargetkan dua masalah kesehatan masyarakat: tingginya kasus diabetes dan fenomena ‘hidden hunger’ atau kekurangan nutrisi meski asupan kalori cukup. Dengan menyediakan beras yang lebih bernutrisi dan aman, para peneliti berharap dapat meningkatkan kualitas hidup dan memberi nilai tambah bagi petani.

15 April 2024 menandai publikasi hasil penelitian ini, menandai langkah penting dalam pengembangan pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Inovasi ini memberi alternatif beras yang lebih bernutrisi, membantu mengurangi risiko diabetes, dan memberi nilai tambah bagi petani.

designer riceindeks glikemikprotein tinggimikronutrienCSIR‑NIISTdiabeteskekurangan nutrisipangan berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...