BGN Uji Coba Prasmanan Gratis di 60 Dapur

Yanto K. · 3 min baca · 3 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
BGN Uji Coba Prasmanan Gratis di 60 Dapur

Gambar atau konten salah?

Badan Gizi Nasional (BGN) memulai uji coba pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di dalam kelas. Percobaan ini berlangsung mulai hari ini, Senin, 05 Oktober 2026, dan melibatkan lebih dari 60 dapur Satuan Pemenuhan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Jayapura.

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa skema prasmanan ini diharapkan bisa mengurangi risiko makanan rusak yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. "Per hari ini, dari tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, ya jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas," ujarnya di Kantor Kementerian Pertanian pada hari yang sama.

Menurut Sudaryono, makanan yang disajikan dalam keadaan hangat akan terasa lebih enak dan lebih segar karena tidak ada penundaan waktu antara proses memasak dan penyajian. "Yang kedua tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu sehingga mengurangi risiko apa kerusakan makanan yang rusak kemudian menyebabkan gangguan kesehatan," tambahnya.

Selain mengurangi risiko keracunan, skema prasmanan ini juga punya fungsi edukasi. Siswa akan dilibatkan langsung dalam proses penyajian makanan, tidak hanya mengandalkan petugas SPPG. Nantinya, siswa akan dibagi dalam kelompok piket yang terdiri dari 5 hingga 6 orang. Kelompok piket ini bertugas melayani teman-temannya saat makan.

Dalam praktiknya, siswa kemungkinan akan diberikan alat seperti celemek dan sarung tangan untuk menyajikan makanan. Sudaryono mencontohkan hal ini seperti yang sudah diterapkan di Jepang. "Kemudian juga ada fungsi edukasinya. Tentu saja ini membutuhkan semacam kerja sama. Jadi kalau prasmanan ini, yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa. Jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang gitu lah," katanya.

Dia menegaskan bahwa makanan tetap dimasak di dapur SPPG. Setelah matang, makanan dibawa ke sekolah dan disajikan dalam kondisi hangat. Untuk sekolah yang besar dengan jumlah siswa banyak, ada kemungkinan memasak dilakukan di sekolah itu sendiri. "Ya kalau sekolahnya besar, siswanya banyak, ada yang dimasak di sekolah. Sama kayak di kita kan sama. SPPG ada di dalam pesantren misalnya, karena pesantrennya apa, santrinya lebih dari 1.000, dia bisa bikin dapur di dalam, sama aja sebetulnya," jelasnya.

Sudaryono juga merujuk pada pengalaman dari Jepang melalui kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Di Jepang, makanan dimasak di dapur pusat (central kitchen) lalu dibagikan ke sekolah-sekolah dalam keadaan hangat dan disajikan secara prasmanan di kelas. "Cuman di banyak negara, kami sudah melihat kemarin JICA dengan Jepang kemarin itu, itu kemudian central kitchen. Jadi dimasak di central kitchen kemudian dibagi ke ke sekolah-sekolahnya tuh kemudian dalam bentuk dalam bentuk hangat-hangat prasmanan di kelas," sambungnya.

Berdasarkan laporan yang diterima Sudaryono, uji coba skema prasmanan ini menunjukkan hasil yang baik. Tingkat makanan yang habis cukup tinggi. "Sejauh ini, tadi saya dapat laporan, itu tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi kan artinya, ya kan, lebih fresh, ya, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah gitu. Jadi, dan waste, waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan," katanya.

Ketika ditanya apakah skema ini akan menggantikan skema yang sudah ada, Sudaryono belum bisa memastikan. Namun, dia berharap skema prasmanan ini bisa diterapkan di lebih banyak tempat. "Ya kita kita berharap akan semakin banyak kita laksanakan seperti itu," pungkasnya.

Uji coba ini merupakan langkah awal untuk melihat efektivitas sistem prasmanan di kelas. Dengan melibatkan siswa dalam penyajian, program ini tidak hanya bertujuan memberikan makanan bergizi, tetapi juga menanamkan nilai kerja sama dan kemandirian sejak dini. Hasil dari uji coba di 60 dapur ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program MBG ke depannya.

uji cobaprasmananmakanan bergizi gratisbadan gizi nasionalsiswadapurJepang

Komentar

Memuat komentar...