BI Naikkan Suku Bunga, Risiko Kredit dan Ekonomi Tertekan

Bima J. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BI Naikkan Suku Bunga, Risiko Kredit dan Ekonomi Tertekan

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI‑Rate sebesar 25 basis poin, sehingga sekarang berada di 5,75%. Langkah ini diambil untuk mempercepat penguatan rupiah.

Namun, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai bahwa kenaikan BI‑Rate dapat memicu kenaikan suku bunga pinjaman. Hal ini bisa menambah beban bagi masyarakat.

Kenaikan BI-Rate direspons pasti dengan menaikkan suku bunga, lalu kredit, suku bunga antar bank, maupun bunga deposito itu juga naik. Nantinya biaya cost of fund nanti akan semakin meningkat,” kata Tauhid, Kamis (18 Juni 2026).

Menurut Tauhid, kenaikan suku bunga kredit—baik dari bank maupun lembaga keuangan lain—akan memengaruhi semua jenis cicilan. Mulai dari bunga KPR hingga cicilan lainnya, semua akan naik.

Untuk masyarakat apa? Ya bunga KPR, kemudian cicilan-cicilan apapun bentuknya pasti akan naik dan pada akhirnya risiko untuk gagal kredit naik. Nah ini pasti akan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi,” tutur Tauhid.

Ia juga memperingatkan risiko crowding out, yaitu kondisi di mana dana yang seharusnya beredar di pasar perbankan atau modal menjadi tipis karena terserap oleh obligasi pemerintah. Akibatnya, pasokan dana bagi sektor swasta menjadi terbatas.

Kekhawatirannya akan terjadi crowding out, fenomena kekeringan likuiditas karena orang kaya atau institusi itu akan mengejar yield dari suku bunga SBN, kemudian SRBI. Sehingga dana pihak ketiga yang harusnya untuk mendorong kredit ke swasta itu jadi berkurang,” paparnya.

Meski demikian, Tauhid menilai langkah BI sudah tepat. Ia menekankan bahwa bila rupiah terus melemah, dampaknya bisa lebih parah bagi pertumbuhan ekonomi.

Ini kan pilihan sulit, karena kan memang saat ini harus dipilih untuk menguatkan nilai tukar. Kalau misalnya sekarang rupiah sudah terlampau jauh dengan target APBN Rp 16.500, otomatis biarkan stabilisasi dulu. Tetapi kalau rupiahnya sudah rata-rata mendekati Rp 17.000 maka harus genjot untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional juga,” terangnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengamati bahwa upaya penguatan mata uang juga membawa risiko kenaikan suku bunga pinjaman. Ia menegaskan bahwa cicilan kredit masyarakat akan ikut naik, baik KPR maupun cicilan lainnya.

Efeknya terhadap kredit, ya suku bunga kredit jadi akan ada peningkatan,” ucap Faisal.

Ia menambahkan bahwa kenaikan bunga cicilan ini dapat memberatkan pengeluaran masyarakat, sehingga jumlah pengajuan pinjaman atau kredit akan menurun.

Jadi penyeluruhan kredit ke sektor realnya sekarang yang agak dikorbankan ya untuk stabilisasi nilai tukar gitu,” tuturnya.

Secara keseluruhan, BI menargetkan penguatan rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan. Sementara para ekonom menyoroti potensi dampak pada suku bunga pinjaman, risiko crowding out, dan beban bagi masyarakat. Langkah ini dianggap perlu untuk menstabilkan nilai tukar, meski menimbulkan tantangan bagi sektor kredit dan pertumbuhan ekonomi.

Bank IndonesiaBI‑Ratepenguatan rupiahkadar suku bunga pinjamancrowding outKPRnilai tukarpertumbuhan ekonomi

Komentar

Memuat komentar...