BI Tanggapi Ancaman MSCI, Rupiah Bisa Tertekan

Ratna D. · 3 min baca · 1 jam lalu · 26 dibaca
Bisik.id
BI Tanggapi Ancaman MSCI, Rupiah Bisa Tertekan

Gambar atau konten salah?

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, akhirnya angkat bicara. Ia merespons kekhawatiran publik soal nilai tukar rupiah yang bisa terpuruk. Penyebabnya adalah ancaman dari MSCI, lembaga penyedia indeks saham global. Lembaga itu membuka kemungkinan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia. Statusnya bisa berubah dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Destry menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. Tapi ia juga mengakui, pergerakan rupiah dipengaruhi banyak faktor. "Jadi kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke dibandingkan dengan peer group kita," kata Destry kepada wartawan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis 29 Oktober 2026.

Pergerakan rupiah, kata Destry, adalah hal yang wajar. Itu bagian dari dinamika pasar. Nilai tukar rupiah ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran. Juga oleh persepsi para pelaku pasar. Ia memberi contoh. Sentimen global bisa memengaruhi pergerakan rupiah. Seperti yang terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga. Keputusan itu memberikan sentimen positif bagi pasar.

Menurut Destry, ada banyak faktor eksternal. Faktor-faktor itu berada di luar kendali Indonesia. "Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, 'Oh Amerika nggak naikkan suku bunga The Fed', dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," jelasnya.

BI berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi. Khususnya nilai tukar rupiah. Stabilitas adalah prioritas utama. Tujuannya untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Dengan begitu, sektor riil bisa tumbuh dan membuka lebih banyak lapangan kerja. "Kita sudah punya komitmen yang kuat bahwa fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga, supaya bisa tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia menyebut rupiah bisa makin terpuruk akibat keputusan MSCI. MSCI membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia. Hashim mengatakan, pengumuman MSCI bisa memicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing di pasar modal Indonesia. Akibatnya, nilai tukar dolar Amerika Serikat bisa menyentuh angka Rp 20.000 hingga Rp 22.000.

"Kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000. Saya pernah diskusi sama Pak Rosan (CEO BPI Danantara), kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," ungkap Hashim dalam sambutannya di acara Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis 29 Oktober 2026.

Hashim menjelaskan, ancaman penurunan status pasar modal Indonesia tidak lepas dari indikasi praktik perdagangan yang tidak sehat. Salah satunya adalah dugaan manipulasi harga saham. Praktik ini dikenal dengan istilah saham gorengan. Hashim menegaskan, persoalan ini tidak hanya disoroti MSCI. Para pelaku investor asing juga ikut menyorotinya. Ia menjelaskan, saham gorengan biasanya memiliki free float yang terbatas. Price to Earnings Ratio (P/E Ratio)-nya juga tidak masuk akal. "Ini adalah kalau free float-nya terbatas, P/E Ratio-nya itu gila-gilaan, tidak masuk akal, ini yang dipersoalkan," pungkasnya.

Kekhawatiran akan pelemahan rupiah muncul dari dua sisi. Dari sisi Bank Indonesia, ada keyakinan bahwa fundamental ekonomi masih kuat. Tapi dari sisi pengusaha, ada kekhawatiran akan dampak keputusan MSCI. Keduanya sama-sama mengakui ada faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Perbedaan pendapat ini menunjukkan kompleksitas masalah yang dihadapi. Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan dalam negeri. Sentimen global dan praktik pasar modal juga ikut bermain.

rupiahMSCIstabilitaspasar modalsaham gorenganBank Indonesianilai tukar

Komentar

Memuat komentar...