Biaya Perang US-Israel vs Iran Bisa Melewati US$1 Triliun

Wulan M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 113 dibaca
Bisik.id
Biaya Perang US-Israel vs Iran Bisa Melewati US$1 Triliun

Gambar atau konten salah?

Biaya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diperkirakan akan melampaui angka resmi yang sudah dipublikasikan oleh pemerintah. Perkiraan menunjukkan total biaya perang bisa menembus US$ 1 triliun atau setara Rp 17.100 triliun (kurs Rp 17.100 per US$).

"Saya yakin perang Iran akan mencapai US$ 1 triliun," ujar Akademisi Universitas Harvard Linda Bilmes, dalam sebuah wawancara internal, Selasa, 14 April 2026.

Laporan Pentagon kepada Kongres mencatat bahwa operasi gabungan AS-Israel selama enam hari telah menghabiskan US$ 11,3 miliar. Namun, Bilmes menilai angka tersebut belum mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Menurut Bilmes, biaya jangka pendek perang ini bisa mencapai US$ 2 miliar per hari selama 40 hari konflik berturut-turut. Biaya tersebut meliputi harga amunisi, pengerahan pasukan, dan kerusakan aset militer.

Bilmes menegaskan bahwa biaya jangka pendek sebenarnya bisa lebih tinggi daripada yang dihitung Pentagon. Hal ini karena Pentagon melaporkan angka berdasarkan nilai lama barang-barang militer, bukan harga terkini untuk menggantikan aset tersebut yang harganya bisa jauh lebih mahal. "Kesenjangan inilah yang membuat laporan US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati US$ 16 miliar. Ini mencerminkan perbedaan yang terus terjadi antara apa yang dilaporkan Pentagon dengan biaya perang yang sebenarnya," terang Bilmes.

Kontrak multi tahun dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk rudal pencegat (interceptor) membuat biaya pengadaan kembali bagi AS menjadi sangat mahal, yakni US$ 4 juta per rudal. Angka ini sangat kontras dengan biaya drone Iran yang hanya membutuhkan US$ 30.000 per unit untuk diproduksi.

Di jangka panjang, biaya perang akan terus membengkak karena rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur sekutu di kawasan Teluk yang juga terkena dampaknya. Gedung Putih telah meminta Kongres untuk menaikkan anggaran pertahanan AS menjadi US$ 1,5 triliun. Jika disetujui, ini akan menjadi belanja militer terbesar sejak Perang Dunia II. Angka tersebut bahkan belum termasuk dana cadangan US$ 200 miliar yang diminta Pentagon khusus untuk perang di Iran.

Pengeluaran besar-besaran ini akan memperbesar defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, saat perang Irak, AS harus menelan total biaya US$ 2 triliun dengan utang publik AS masih di bawah US$ 4 triliun. Saat ini, utang AS telah melampaui US$ 31 triliun. Sebagian utang tersebut berasal karena perang-perang sebelumnya, seperti saat melawan Irak.

"Kita meminjam uang untuk mendanai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi, di atas basis utang yang sudah jauh lebih besar. Akibatnya, biaya bunga saja akan menambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Berbeda dengan biaya operasional di awal, biaya bunga ini adalah beban yang secara nyata kita wariskan kepada generasi berikutnya," jelas Bilmes.

Perkiraan biaya perang ini menyoroti ketidaksesuaian antara laporan resmi dan realitas di lapangan. Kesenjangan nilai barang militer, kontrak pengadaan, dan biaya rekonstruksi menambah beban finansial yang belum sepenuhnya tercermin dalam angka awal. Dampak fiskal yang signifikan menuntut perhatian serius terhadap kebijakan anggaran dan utang negara, sekaligus mengingat beban generasi mendatang yang harus menanggung bunga utang.

biaya perangPentagonAS-IsraelIrandefisit fiskalutang publikLockheed MartinBoeing

Komentar

Memuat komentar...