BPBD Petakan Titik Rawan Karhutla di Bandung

Bima J. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BPBD Petakan Titik Rawan Karhutla di Bandung

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai memetakan titik-titik yang rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini diambil untuk menghadapi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026. Wilayah perbukitan dan pegunungan menjadi perhatian utama karena dinilai memiliki tingkat kerawanan yang tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, mengatakan bahwa pihaknya sudah mengadakan rapat koordinasi lintas sektoral. Rapat ini melibatkan berbagai dinas terkait, hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang mungkin terjadi tahun ini.

"Masing-masing wilayah sudah mengantisipasi siaga kebakaran hutan dan lahan yang memang berpotensi terjadi pada musim kemarau ini," kata Diki kepada awak media pada Rabu, 08 Juni 2026.

Berdasarkan catatan kejadian di masa lalu, ada lima kecamatan yang masuk dalam zona merah kebakaran hutan dan lahan. Titik-titik tersebut meliputi Gunung Anjing di Kecamatan Arjasari, Gunung Wayang di Kecamatan Pangalengan, dan kawasan Kawah Putih di Kecamatan Rancabali. Selain itu, kerawanan juga terdeteksi di Desa Cilame, Sukamulya, dan Buninagara yang berada di wilayah Kecamatan Kutawaringin.

"Data itu berdasarkan riwayat kejadian sebelumnya. Jadi ada lima kecamatan yang rawan Karhutla," ujarnya.

BPBD merujuk pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tahun ini diperkirakan akan lebih kering jika dibandingkan dengan rata-rata normal.

"Dampak bagi Kabupaten Bandung adalah adanya penurunan curah hujan dari Juni hingga September, terus berkurangnya debit sungai dan mata air, menurunnya kapasitas embung dan irigasi, meningkatnya kebutuhan distribusi air bersih, dan meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan," jelas Diki.

Sejalan dengan langkah BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kabupaten Bandung juga turut memperkuat kesiapsiagaan. Fokus utama mereka adalah di area pegunungan yang mulai mengering.

"Apalagi di kabupaten banyak gunung-gunung juga berpotensi kering banget," kata Kepala Disdamkar Kabupaten Bandung, Iman Irianto Sudjana.

Iman menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan telah dikategorikan sebagai bencana. Oleh karena itu, BPBD menjadi sektor utama dalam penanganannya di setiap daerah.

"Tapi itu juga kita dan BPBD bersinergi untuk melakukan penanganan jika terjadi Karhutla," jelas Iman.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak memicu api secara sengaja. Beberapa contohnya adalah membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran sampah dan semak belukar.

"Tiga poin itu yang paling banyak menyebabkan kebakaran saat musim kemarau. Jadi kita imbau, arahkan, bahkan kita perintahkan untuk tidak dilakukan hal-hal yang seperti tadi. Itu semua sifatnya preventif yang sudah kami lakukan," katanya.

Dalam hal penanganan di lapangan, Disdamkar telah menyiapkan prosedur cepat untuk memadamkan api pada lahan terbuka. Metode yang digunakan adalah lokalisir area.

"Terus yang kedua kita lakukan biasanya istilahnya disekat, jadi kita tarik semacam parit untuk supaya enggak melebar ke atas posisinya," jelasnya.

Tantangan teknis sering dihadapi petugas di lapangan. Akses sumber air yang sulit dan medan yang terjal menjadi kendala utama bagi kendaraan pemadam kebakaran.

"Itu fakta dan kendala yang dirasakan oleh anggota. Jadi lebih kepada kita ingin mencegah dan mendahului di proses pemadamannya. Terus terang kalau udah udah merembet ke atas kan jangkauan pemadaman juga sulit. Mobil aja susah," ucapnya.

"Nah, kalau yang kayak puntung rokok, bekas pencinta alam atau bekas penggarap lahan kan orangnya udah ke mana, baru dia nyala di situ posisinya. Tapi kalau pembakaran sampah atau semak belukar yang dibakar biasanya relatif masih terjangkau lokasinya," tambahnya.

Berdasarkan data historis, tahun 2023 tercatat sebagai periode dengan frekuensi kebakaran semak belukar tertinggi. Pada saat itu, petugas bisa menangani hingga tujuh titik api dalam sehari.

"Dari data historis kebakaran semak belukar, belum sampai hutan terbanyak di kondisinya tahun 2023. Di kondisi 2023 itu, sehari ada tujuh kali itu, tujuh titik. Terus dari dari dari frekuensi satu tahunnya juga ratusan lebih," ungkapnya.

Sementara itu, pada tahun 2025 tercatat total 309 kejadian kebakaran. Dari jumlah tersebut, 19 di antaranya merupakan kebakaran lahan. Memasuki semester pertama tahun 2026, yaitu dari Januari hingga Juni, Disdamkar mencatat telah terjadi 199 kebakaran. Dari angka itu, 16 kejadian melibatkan lahan atau semak belukar.

"Untuk kejadian kebakaran pada tahun 2025 tercatat kebakaran lahan atau semak belukar yakni 19 kejadian kebakaran," kata Iman.

"Untuk kejadian kebakaran pada tahun 2026 tercatat kebakaran lahan atau semak belukar yakni 16 kejadian kebakaran," bebernya.

Iman kembali mengingatkan masyarakat agar tidak ceroboh saat berada di area terbuka yang kondisinya sedang kering.

"Nah, jangan buang rokok jangan sembarangan, matikan yang benar. Terakhir jangan bakar sampah sembarangan, jangan bakar alang-alang," jelas Iman.

Sebagai langkah awal, masyarakat dapat menggunakan kain basah atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk memadamkan api skala kecil. Namun, jika api mulai tidak terkendali, warga diminta segera menghubungi layanan darurat.

"Tapi kalau api sudah membesar, tidak ada kata lain, segera hubungi Damkar. Melalui call center yang sudah kita berikan," pungkasnya.

Data dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kebakaran semak belukar lebih sering terjadi dibandingkan kebakaran hutan. Tahun 2023 menjadi rekor dengan frekuensi harian tertinggi. Meskipun jumlah kejadian di tahun 2025 dan 2026 lebih rendah, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena musim kemarau diperkirakan akan lebih kering dari biasanya. Kerja sama antara BPBD dan Disdamkar menjadi kunci dalam penanganan, namun pencegahan melalui kesadaran masyarakat tetap menjadi faktor yang paling penting.

pemetaan titik rawankebakaran hutan dan lahanmusim kemarauBPBD Kabupaten Bandungzona merahkesiapsiagaanpencegahan

Komentar

Memuat komentar...