BPI Danantara: 52% BUMN Rugi, Dividen Hanya dari 15 Perusahaan

Vera T. · 2 min baca · 3 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
BPI Danantara: 52% BUMN Rugi, Dividen Hanya dari 15 Perusahaan

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menemukan adanya jurang besar antara total aset yang dikelola BUMN dengan pendapatan yang sebenarnya dihasilkan. Kondisi ini dinilai sebagai masalah serius yang perlu segera dibenahi.

Rosan Roeslani, CEO Danantara, menjelaskan bahwa nilai aset perusahaan pelat merah memang sangat besar. Namun, imbal hasil dari pengelolaan aset itu masih sangat kecil. Ia menyampaikan hal ini saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Senin, 05 Oktober 2026.

"Aset-aset BUMN ini sangat banyak. Mungkin dalam hal aset, kita besar, tapi dalam hal arus kas dan pendapatannya, dibandingkan dengan asetnya, masih sangat kecil," ujar Rosan.

Ia memberikan gambaran konkret. Dari total 1.074 entitas BUMN yang ada pada awal, sekitar 97 persen setoran dividen ke negara hanya berasal dari 15 perusahaan. Lebih dari separuh BUMN lainnya justru mencatatkan kerugian.

"Dari 1.000 lebih perusahaan, 1.074 di awal, yang memberikan dividen 97 persen itu hanya dari 15 perusahaan. Nah, yang lainnya mungkin rugi, sebagian besar atau 52 persen itu rugi," ungkap Rosan.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan kepada Danantara untuk segera mengoptimalkan aset-aset negara. Tujuannya jelas: mendongkrak produktivitas dan memberikan imbal hasil yang baik bagi negara.

"Bapak Presiden memberikan arahan bagaimana sekarang kita mengoptimalkan aset-aset yang ada di BUMN ini dengan tentunya perencanaan yang baik, terukur, terstruktur, dan juga memberikan, karena kita sovereign wealth fund, memberikan juga keuntungan, yield yang baik juga gitu," jelas Rosan.

Danantara siap memberikan porsi lebih besar kepada pihak swasta untuk mengelola lini bisnis atau aset BUMN yang tidak bersifat strategis. Jika dunia usaha mampu mengelolanya secara lebih efisien dan menguntungkan, maka ruang kerja sama akan dibuka seluas-luasnya.

"Kalau dunia usaha atau private sector bisa melakukan lebih baik, dan itu memang bukan hal-hal yang sifatnya strategis, ya kita berikan ruang yang lebih besar kepada dunia usaha untuk mengembangkan usaha-usaha ini," tegas Rosan.

Namun, ia belum bisa menyampaikan aset atau lini usaha apa saja yang bisa dikerjasamakan. Saat ini, Danantara tengah menganalisis portofolio aset BUMN di berbagai sektor vital. Mulai dari jalan tol, bandara, pelabuhan, hingga minyak dan gas.

"Nah kita lihat, kita akan analisa semua, apakah itu baik di jalan tol, di airport, kemudian di ya oil and gas, pelabuhan, nanti kita analisa semua," tegasnya.

Singkatnya, temuan Danantara menunjukkan bahwa sebagian besar BUMN belum memberikan kontribusi optimal. Hanya segelintir perusahaan yang menjadi andalan setoran dividen. Langkah ke depan adalah membuka peluang bagi swasta untuk mengelola aset non-strategis, dengan harapan efisiensi dan pendapatan bisa meningkat.

aset BUMNpendapatan kecildividenDanantaraoptimasi asetswastaefisiensi

Komentar

Memuat komentar...