BRIN-Umi Perkuat Riset Strategis di Konferensi Makassar 2026
Gambar atau konten salah?
BRIN dan UMI mengumumkan langkah baru untuk memperkuat kerja sama riset di bidang strategis. Konferensi internasional Pascasarjana UMI 2026 yang digelar di Makassar pada Senin, 8 Juni 2026 menjadi ajang penting bagi kedua lembaga ini. Tujuannya: menciptakan lebih banyak penelitian dan perspektif baru yang dapat membantu mengatasi tantangan pembangunan di Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan harapannya. “Kami berharap melalui konferensi ini akan muncul semakin banyak perspektif baru terkait pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan pembangunan kini semakin kompleks, sehingga kebijakan harus didasarkan pada riset, inovasi, dan teknologi yang relevan.
Arif mencontohkan beberapa inovasi yang sudah dikembangkan. “Berbagai persoalan harus direspons dengan teknologi yang tepat. Misalnya, di beberapa daerah terjadi banjir, sementara daerah lain menghadapi lahan dengan tingkat salinitas yang tinggi. Karena itu BRIN harus hadir melalui berbagai inovasi, seperti pengembangan varietas baru yang tahan terhadap kondisi lahan bersalinitas tinggi,” jelasnya. Ia juga menyoroti teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar. “BRIN telah mengembangkan alat untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan oleh para nelayan. Jika konversi energi seperti ini terus dilakukan, ketergantungan terhadap energi fosil akan berkurang dan dapat mendorong kemandirian energi, khususnya bagi masyarakat pesisir dan nelayan,” tambahnya.
Di sisi lain, Rektor UMI Hambali Thalib menyuarakan visi yang serupa. Ia menekankan pentingnya kolaborasi nyata, bukan sekadar perjanjian formal. “UMI tidak hanya ingin sampai pada penandatanganan dokumen, kami menginginkan kerjasama untuk meneliti bersama, inovasi bersama dan dampak secara bersama. Oleh karena itu kami menawarkan sebuah gagasan besar, UMI sebagai laboratorium Indonesia Timur untuk hilirisasi inovasi, industrial, ketahanan pangan, dan kecerdasan buatan berbasis nilai-nilai keislaman,” ungkapnya.
Hambali menekankan bahwa perguruan tinggi harus berperan aktif dalam memecahkan masalah masyarakat. “UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi. Ukuran keberhasilan universitas bukan hanya jumlah lulusan atau publikasi, tetapi sejauh mana ilmu pengetahuan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat,” lanjutnya. Ia juga menyoroti pencapaian UMI dalam bidang hak kekayaan intelektual: 85 permohonan paten, 45 paten yang sudah granted, 511 hak cipta terdaftar, dua merek terdaftar, dan satu perlindungan varietas tanaman yang sedang dalam tahap pelepasan varietas.
Hambali menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan akhir. “Paten yang baik bukanlah paten yang tersimpan, tetapi paten yang bekerja dan memberi manfaat. Kami ingin hasil riset berkembang menjadi teknologi tepat guna, produk industri, perusahaan rintisan berbasis inovasi kampus, dan solusi nyata yang digunakan masyarakat,” katanya.
Ruang lingkup riset yang dibahas meliputi energi hijau, teknologi kelautan, pangan tropis, kecerdasan buatan, transformasi digital, dan pusat riset halal. BRIN berkomitmen untuk mengembangkan solusi yang dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir dan daerah rawan banjir.
Konferensi ini juga menandai langkah awal bagi UMI untuk memposisikan kampusnya sebagai pusat hilirisasi inovasi di Indonesia Timur. Dengan memanfaatkan nilai-nilai keislaman sebagai landasan, UMI berencana mengintegrasikan penelitian, pengembangan teknologi, dan pelatihan industri dalam satu ekosistem yang berfokus pada kebutuhan masyarakat lokal.
Melalui kolaborasi ini, BRIN dan UMI berharap dapat menghasilkan riset yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung. Inisiatif ini mencerminkan upaya kedua lembaga untuk menumbuhkan budaya riset yang berorientasi pada dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan berbasis data, mereka berusaha menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa 7,7 di Filipina Rusak 31 Bangunan Sangihe Talaud
386 Jemaah Haji Kloter 9 Tiba di Asrama Sudiang Makassar
DJP Papabrama Blokir 36 Wajib Pajak, Rp 17,08 Miliar
BMKG Putus Peringatan Tsunami Pasca Gempa 7.7 Filipina
BMKG Selesai Peringatan Tsunami Pasca Gempa 7,7 di Mindanao
Gempa 7,7 di Mindanao: Gorontalo Aktifkan Sirine Tsunami
Berita Terbaru
Badung Atur Sampah Desa Adat: 124 Desa Wajib Parem Baru
Persija Tunjuk Shin Tae-yong Jadi Pelatih Utama 3 Tahun
4Thrives Esports Pakistan Juara PMGO S1 2026 Jakarta
36 Ribu Anak Tidak Mampu Masuk Sekolah Rakyat Tahun 2026
Vulla Hendrata: Motor Kustom Raih Gelar Internasional
Bioskop Trans TV Tayang Hellboy 20.00 WIB Senin 08 Juni
Indonesia Gelar Wisata Kebugaran, Tarik Turis Berkualitas
Waskita 81,61% Selesai Bangun Sekolah Rakyat Sulawesi
PLN Sumut Terima Permintaan Potongan Tagihan Listrik Medan
IHSG Turun 4,52% Menutup di 5.342, Volatilitas Tinggi
