Buaya Muara 2 Meter Muncul di Kali Jagir Surabaya
Gambar atau konten salah?
Seekor buaya muara muncul di perairan Kali Jagir, Surabaya. Kemunculan hewan liar ini terekam dalam video dan menyebar luas di media sosial. Buaya dengan perkiraan panjang antara 1,5 hingga 2 meter itu terlihat beberapa kali di dekat Pintu Air Jagir, Kecamatan Wonokromo.
Dalam video yang beredar, buaya tampak muncul ke permukaan air. Saat itu, seorang pemancing sedang berada di tepi sungai. Tidak lama setelah muncul, buaya kembali menyelam. Orang yang merekam video sempat berteriak memperingatkan pemancing tersebut.
"Enten bajul nisore jenengan. Niku bajul guede kok, lho mblayu (Ada buaya di bawah kamu. Itu buayanya sangat besar, loh lari)," kata perekam video dalam rekaman yang dilihat pada Senin, 13 Juli 2026.
Arif Sunandar, Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, membenarkan kejadian ini. Menurutnya, laporan pertama datang pada 07 Juni 2026 dari pihak kelurahan. Laporan kedua kemudian diterima dari warga di lokasi yang sama.
"Ada dua kali (laporan). Yang pertama itu pelapornya kebetulan dari kelurahan melaporkan ke kami. Kami langsung datang ke lokasi, ternyata benar. Terus ada laporan lagi, yang lapor warga di situ," kata Arif.
Petugas BPBD yang mengecek lokasi menduga satwa tersebut adalah buaya muara. Panjangnya sekitar 1,5 hingga 2 meter. Arif mengatakan kemunculan buaya di sekitar Pintu Air Jagir adalah hal baru. Sebelumnya, buaya lebih sering terlihat di kawasan bawah Jembatan Nginden.
"Jenisnya buaya muara. Panjangnya kira-kira 1,5-2 meter. Nah, selama ini juga belum pernah ada kemunculan, baru-baru ini aja di situ. Terakhir itu kan di bawahnya Jembatan Nginden itu, di sana sudah kami pasang papan imbauan (waspada buaya), ternyata sekarang geser ke Pintu Air Jagir," tuturnya.
Lokasi kemunculan buaya berada sekitar 100 meter di sebelah timur Pintu Air Jagir. Arahnya menuju kawasan muara. "Jadi kalau dari Pintu Air Jagir kira-kira 100 meter ke arah timur, arah muara," jelas Arif.
Hingga saat ini, BPBD hanya menerima laporan tentang satu ekor buaya. Satwa tersebut dilaporkan terlihat pada pagi hingga siang hari. "Yang terlihat muncul satu buaya itu. Kemunculannya dilaporkan saat pagi dan siang hari," bebernya.
Setelah kemunculan berulang, BPBD Kota Surabaya meningkatkan langkah mitigasi. Sejak 07 Juni 2026, petugas memasang papan peringatan waspada buaya. Selain itu, petugas juga memberikan imbauan langsung kepada masyarakat menggunakan pengeras suara. Warga diminta tidak beraktivitas di sekitar sungai.
"Teman-teman (petugas BPBD) kemarin ya sempat mengimbau masyarakat pakai toa atau megaphone supaya tidak beraktivitas mancing, mandi di sungai. Termasuk kami koordinasi dengan satpamnya Jasa Tirta (di Pintu Air Jagir) untuk bantu supaya kalau ada orang apa beraktivitas di situ supaya dihalau," ujar Arif saat dihubungi pada Senin, 13 Juli 2026.
BPBD juga sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terkait penanganan satwa tersebut. Menurut penjelasan BKSDA, kawasan Kali Jagir masih merupakan bagian dari habitat alami buaya muara. Karena itu, penangkapan tidak dilakukan.
"Kita koordinasi juga sama teman-teman BKSDA. Menurut beliau memang ini ekosistemnya (buaya muara)," tuturnya.
Fokus penanganan saat ini diarahkan pada peningkatan kewaspadaan masyarakat. Warga diminta tidak mendekati tepian sungai. Hal ini terutama penting saat air surut, ketika akses menuju bibir sungai lebih mudah dijangkau.
"Sehingga kami imbau tidak memancing. Kadang kan orang mancingnya biasanya agak turun itu (ke dekat sungai). Nah, itu kalau pas air laut enggak pasang memang bisa ke situ. Tapi kalau sudah airnya pasang biasanya badukan itu enggak kelihatan," imbaunya.
BPBD juga meminta masyarakat segera melapor jika kembali melihat buaya di Kali Jagir atau sungai lain di Surabaya. Laporan dari warga penting agar petugas bisa segera memantau lokasi dan memberi peringatan kepada warga di sekitar.
Kemunculan buaya muara di perkotaan sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Kawasan sungai di Surabaya, terutama yang dekat muara, memang menjadi habitat alami hewan ini. Pemasangan papan peringatan dan imbauan langsung menjadi langkah yang diambil untuk mengurangi risiko pertemuan antara manusia dan satwa liar tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
186 Kasus HIV Baru di Malang per Mei 2026
Bima Sakti Ungkap Alasan Persela Rekrut Juninho Cabral
Tanggul Lapindo Kembali Retak, Anggaran Dipotong Rp58 Miliar
Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Sepanjang Hari
Jadwal Sholat Surabaya 14 Juli 2026 Lengkap Niat
Prakiraan Cuaca Jatim: Kabut hingga Cerah, Suhu 12-33°C