Bulog Lampaui Target Serapan 4,25 Juta Ton Beras

Fajar H. · 4 min baca · 53 menit lalu · 17 dibaca
Bisik.id
Bulog Lampaui Target Serapan 4,25 Juta Ton Beras

Gambar atau konten salah?

Semarang – Perum Bulog berhasil melampaui target penyerapan gabah dan beras dalam negeri. Angkanya mencapai 4,25 juta ton setara beras hingga 28 Oktober 2026. Capaian ini bukanlah hasil instan. Ada rangkaian panjang di baliknya, mulai dari petani hingga beras siap distribusi.

"Pencapaian pengadaan 4 juta ton itu tidak serta-merta hanya, 'beras sudah di gudang', tetapi proses panjang yang dijalani gabah kering panen ini sampai menjadi beras," ujar Dicki Yusfarino, Manajer Hubungan Eksternal Divisi Humas Perum Bulog, di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Kabupaten Kendal, Jumat 30 Oktober 2026.

Untuk menunjukkan tahapannya, Bulog memperlihatkan langsung proses penyerapan gabah dari petani di Kendal. Mulai dari pembelian hingga penggilingan. Tim Jemput Pangan Bulog mendatangi sawah di Kabupaten Kendal pada Kamis 29 Oktober 2026. Mereka membeli, memeriksa, dan menimbang gabah langsung di lokasi.

Kurnia Pradipta, Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, menjelaskan koordinasi dilakukan dengan dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Tujuannya untuk mengetahui lokasi panen dan memperkirakan volume gabah.

"Ketika ada informasi petani akan panen, Tim Jemput Pangan Bulog langsung berkoordinasi dan turun ke lokasi. Kami menyiapkan armada, petugas pemeriksa kualitas, hingga mekanisme pembayaran agar proses penyerapan dapat berjalan lancar dan memudahkan petani," kata Kurnia.

Bulog membeli gabah kering panen (GKP) dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram. Aturan ini sudah sesuai ketentuan. Tantangan di lapangan memang ada, terutama persaingan dengan pembeli swasta. Namun Bulog terus berkoordinasi dengan petani agar gabah tetap bisa diserap.

"Di lapangan itu kadang ada yang memang di atas, ada mungkin mereka jual ke tengkulak dan sebagainya. Tapi kemungkinan lebih mudah kita, terkait pembayaran dan sebagainya," ujar Kurnia.

Dia menambahkan, kebijakan penyerapan bukan berarti semua gabah diterima begitu saja. Pemeriksaan tetap dilakukan. Kondisi gabah harus memungkinkan untuk diolah, terutama dalam proses pengeringan.

Setelah dibeli, gabah dari petani Kendal dibawa ke SPP Bulog Kendal. Di sana, truk pembawa gabah ditimbang di jembatan timbang. Kualitasnya juga dianalisis.

"Gabah itu dikeringkan, kemudian digiling menjadi beras, beras yang sudah digiling kemudian dikirimkan ke gudang Bulog, itu menjadi stok secara nasional," kata M Aziz Latif, Manajer Operasi SPP Kendal, Jumat 30 Oktober 2026.

Dalam proses produksi, beras yang rusak disortir. Beras berwarna hitam, kuning, atau kusam dipisahkan. Gabah yang masih terbawa juga ikut disortir. Produk yang tidak lolos kemudian diberi label 'reject' dan biasanya diambil untuk pakan.

Aziz menjelaskan, SPP Kendal memiliki luas sekitar 1,5 hektare. Kapasitas pengeringannya sekitar 120 ton gabah per hari. Sementara kapasitas penggilingannya mencapai sekitar 50 ton per hari.

"Proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 16 jam, kemudian giling sekitar 8 jam. Jadi dari awal sampai akhir butuh waktu sekitar 1-2 hari kerja," jelasnya.

"Fasilitas pengeringan kami menggunakan sistem drying, jadi kalau kadar air padinya 25-30 persen, bisa langsung dikeringkan, tidak tergantung matahari," lanjutnya.

SPP Kendal tidak hanya mendukung pengadaan untuk penugasan pemerintah. Mereka juga memproduksi beras komersial. Di lokasi, terlihat beras yang sudah digiling dikemas menjadi Beras Punokawan. Beras ini akan didistribusikan ke toko ritel modern di Kota Semarang.

"Tahun ini pasar ritel modern juga membutuhkan pasokan, jadi kami lebih konsen ke produksi beras untuk komersial," jelasnya.

"Untuk komersial kami total giling 5,6 ribu ton gabah, kalau rice to rice sekitar 2 ribu ton, total 8,1 ton untuk komersial," lanjutnya.

Setelah diolah, beras untuk penugasan pemerintah dikirim ke gudang Bulog. Salah satu gudang berlokasi di Tambakaji, Kota Semarang.

"Di Kancab Semarang sendiri saat ini total stoknya saat ini mencapai sekitar 81.600 ton, ada 6.300 ton untuk CBP, termasuk SPHP sudah dikemas 5 kg," kata Yudha Aji Pribawa, Pemimpin Cabang Bulog Kancab Semarang.

Bulog Semarang memiliki delapan kompleks pergudangan. Total kapasitasnya sekitar 105 ribu ton. Karena volume pengadaan cukup banyak, Bulog juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk menggunakan jasa pergudangan tambahan.

"Karena saking banyaknya jemput gabah, kemarin kita bisa mencapai 4 juta ton, ini fasilitas yang kita punyai juga harus ditambah dengan beberapa gudang sewa, sehingga total kapasitas yang masih tersisa 20 ribu ton untuk persiapan saat memasuki panen," terangnya.

Pengeluaran beras Bulog Semarang untuk berbagai kebutuhan pemerintah rata-rata mencapai sekitar 20-22 ribu ton per bulan. Stok saat ini disebut masih bisa memenuhi kebutuhan sekitar 4-5 bulan ke depan.

"CBP kita digunakan untuk berbagai keperluan, pertama bantuan pangan, stabilisasi harga dan pasokan, cadangan untuk bencana alam, ada juga sebagian alokasi untuk TNI dan Polri untuk tujuan tertentu," urainya.

Untuk menjaga kualitas beras selama penyimpanan, pemeriksaan dilakukan saat penerimaan. Kadar air hingga kondisi fisik beras diperiksa. Perawatan gudang juga dilakukan secara berkala.

"Kita lakukan spraying dan fumigasi, kontrol harian kita lakukan untuk melihat kebersihan, pengendalian hama. Kalau untuk ketahanan di Kancab Semarang mencapai 4-5 bulan," kata Yudha.

Dia berharap kualitas penanganan pascapanen oleh petani dan penggilingan terus ditingkatkan. Tujuannya agar proses pengolahan lebih optimal dan menghasilkan beras berkualitas.

"Jadi perjalanannya gabah cukup panjang, dari petani diangkut oleh Tim Jemput Gabah, dibawa ke penggilingan, diproses, baru disimpan," jelasnya.

Rantai pasok beras nasional memang panjang dan melibatkan banyak pihak. Mulai dari petani di sawah, tim jemput gabah, penggilingan, hingga gudang penyimpanan. Setiap tahap memiliki tantangannya sendiri, mulai dari persaingan harga hingga menjaga kualitas. Keberhasilan Bulog melampaui target penyerapan menunjukkan bahwa koordinasi di setiap mata rantai ini berjalan, meski tidak selalu mulus.

penyerapan gabahBulogpetaniberaspenggilinganstokrantai pasok

Komentar

Memuat komentar...