IHSG Tembus 5.000, Investor Masih Defensif
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada dalam tekanan. Pada sesi perdagangan pertama siang ini, Jumat 30 Oktober 2026, indeks saham masih menunjukkan pelemahan. Posisinya kini berada di kisaran angka 5.000-an.
Data dari RTI Business mencatat, IHSG melemah sebesar 1,29 persen hingga menyentuh level 5.032,43. Penurunan ini terjadi hingga penutupan sesi pertama perdagangan siang hari ini. Angka itu memperdalam tren negatif yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir, di mana IHSG tercatat turun hingga 7,48 persen.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia juga mencatat aksi jual bersih dari investor asing, atau net foreign sell, yang mencapai angka Rp 97,78 triliun sepanjang tahun 2026. Pada perdagangan Kamis 29 Oktober 2026 kemarin saja, net foreign sell tercatat sebesar Rp 1,08 triliun.
Elandry Pratama, seorang pengamat pasar modal, memberikan pandangannya. Menurut dia, pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir mencerminkan sentimen pasar yang masih negatif. Penurunan indeks hingga menembus level psikologis 5.000 menunjukkan investor masih cenderung berhati-hati. Mereka belum kembali berani mengambil risiko.
"Penurunan hingga menembus level psikologis 5.000 mencerminkan investor masih cenderung defensif dan risk appetite belum pulih," jelas Elandry kepada detikcom, Jumat 30 Oktober 2026.
Tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari kekhawatiran terhadap kondisi pasar domestik, ketidakpastian terkait MSCI dan tata kelola pasar modal, hingga berlanjutnya arus keluar modal asing atau capital outflow. Kondisi ini membuat saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi penekan utama pergerakan indeks.
Meski demikian, peluang IHSG untuk rebound pada pekan depan masih terbuka. Terutama jika tekanan jual mulai mereda dan aliran dana asing membaik. Namun, penguatan tersebut diperkirakan masih bersifat teknikal dan rentan kembali bergejolak.
"Rebound kemungkinan masih bersifat teknikal dan rentan terhadap volatility. Jadi, investor sebaiknya tetap selektif dan memperhatikan saham dengan fundamental serta likuiditas yang baik," pungkasnya.
Sementara itu, berdasarkan riset dari BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual terhadap IHSG masih cukup kuat. Hal ini terlihat dari posisi indeks yang berada jauh di bawah MA20 di level 5.595 dan MA60 di level 6.144.
Kondisi tersebut menunjukkan tren pelemahan atau bearish masih berlanjut. Di sisi lain, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 26,77. Angka itu sudah masuk area oversold, atau jenuh jual.
Kondisi ini membuka peluang terjadinya penguatan teknikal dalam jangka pendek. Namun, sinyal tersebut belum cukup untuk memastikan tren IHSG berbalik arah.
"Area 4.907 menjadi support krusial yang perlu dipertahankan. Jika terjadi breakdown, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka. Sementara itu, resistance terdekat berada di area 5.026, diikuti 5.200-5.300. IHSG membutuhkan penguatan dan peningkatan volume beli untuk kembali mengonfirmasi momentum pemulihan," terang riset tersebut.
Pelemahan IHSG yang terus berlanjut ini menunjukkan bahwa investor masih dalam mode bertahan. Meskipun ada indikasi oversold yang bisa memicu penguatan teknikal, belum ada kepastian bahwa tren negatif akan segera berakhir. Investor disarankan untuk tetap selektif dan fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SIG Pertimbangkan Buyback Saham di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melemah Meski Investor Asing Beli Bersih Rp253 M
Lagarde Mundur dari ECB, Efektif Februari 2027
IHSG Jatuh ke 5.057, 523 Saham Melemah
Pendapatan PANI Naik 19%, Laba Melonjak 145% di Kuartal III 2026
WIKA Raup Penjualan Rp15,8 T per Kuartal III 2026
