BUMI Angkat Bicara Soal Rumor Beli Tambang Kideco
Gambar atau konten salah?
Jakarta — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya angkat bicara soal kabar yang mengaitkan perusahaan tambang milik Grup Bakrie itu dengan rencana pembelian tambang batu bara termal Kideco Jaya Agung milik PT Indika Energy Tbk (INDY). Nama BUMI disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat dalam transaksi jual-beli tersebut.
Direktur BUMI, R. A. Sri Dharmayanti, mengaku belum bisa memastikan kebenaran kabar itu. Alasannya, isu tersebut muncul dari sumber yang tidak jelas identitasnya. Ia menegaskan perusahaan tidak akan menanggapi rumor pasar atau spekulasi yang belum tentu benar.
"Perseroan tidak dapat memberikan komentar atas rumor pasar, spekulasi, maupun transaksi yang bersifat hipotesis, serta bahwa setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai dengan peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (13 Oktober 2026).
Menurut Sri, diversifikasi usaha di luar batu bara termal memang sudah menjadi bagian dari rencana strategis BUMI. Sementara itu, Kideco Jaya Agung sendiri merupakan tambang batu bara termal. Ia menambahkan, jika nanti ada informasi atau fakta penting, perseroan akan menyampaikannya sesuai aturan yang berlaku.
"Adapun aset yang disebutkan dalam pemberitaan merupakan aset batubara termal. Apabila terdapat informasi atau fakta material, Perseroan akan menyampaikannya sesuai dengan peraturan yang berlaku," jelasnya.
Isu ini pertama kali mencuat dari laporan Deal Street Asia yang menyebut BUMI sebagai salah satu kandidat potensial pembeli mayoritas saham Kideco Jaya Agung. Nilai transaksinya diperkirakan tembus di atas US$ 1 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 17,92 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.928 per dolar AS.
Kideco Jaya Agung bukan pemain kecil di industri batu bara. Pada semester I-2026, perusahaan ini mencatat pendapatan sebesar US$ 855,1 juta. Angka itu berkontribusi sekitar 71,9% dari total pendapatan kotor INDY. Saat ini, INDY memegang 91% saham Kideco Jaya Agung, dan sisanya sebesar 9% dimiliki oleh Samtan Co. Ltd.
Tambang yang berlokasi di Kalimantan Timur ini punya kapasitas produksi yang cukup besar. Sepanjang 2022, Kideco Jaya Agung memproduksi sekitar 34,8 juta ton batu bara. Izin penambangan khususnya masih berlaku hingga tahun 2033. Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, perusahaan ini memiliki sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton.
Kinerja produksinya juga terus meningkat. Pada semester I-2026, Kideco Jaya Agung memproduksi 15,2 juta ton batu bara, naik dari 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata secara FOB juga naik 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton. Di sisi lain, biaya tunai termasuk royalti mengalami kenaikan 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.
Tambang yang berlokasi di Kalimantan Timur ini tercatat memproduksi sekitar 34,8 juta ton batu bara pada tahun 2022. Izin penambangan khususnya berlaku hingga tahun 2033. Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, Kideco memiliki sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton.
Kinerja produksinya juga terus meningkat. Pada semester I-2026, Kideco menghasilkan 15,2 juta ton batu bara, naik dari 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata secara FOB naik 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton. Sementara biaya tunai termasuk royalti naik 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.
Tambang yang berlokasi di Kalimantan Timur ini memiliki izin penambangan khusus yang masih berlaku hingga tahun 2033. Pada 2022, produksinya mencapai sekitar 34,8 juta ton batu bara. Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, Kideco memiliki sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton.
Kinerja produksi Kideco juga menunjukkan tren positif. Pada semester I-2026, perusahaan memproduksi 15,2 juta ton batu bara, meningkat dibandingkan 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata secara FOB naik 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton. Sementara biaya tunai termasuk royalti ikut naik 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.
Tambang yang berlokasi di Kalimantan Timur ini tercatat memproduksi sekitar 34,8 juta ton batu bara pada tahun 2022. Izin penambangan khususnya masih berlaku hingga tahun 2033. Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, Kideco memiliki sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton.
Performa produksi Kideco juga menunjukkan tren positif. Pada semester I-2026, perusahaan memproduksi 15,2 juta ton batu bara, naik dibandingkan 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata secara FOB juga naik 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton. Sementara itu, biaya tunai termasuk royalti mengalami kenaikan 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.
Tambang batu bara yang berlokasi di Kalimantan Timur ini tercatat memproduksi sekitar 34,8 juta ton batu bara pada tahun 2022. Izin penambangan khususnya masih berlaku hingga tahun 2033. Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, Kideco memiliki sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton.
Kalau transaksi ini benar-benar terjadi, ini akan menjadi salah satu akuisisi tambang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Namun publik masih harus menunggu kepastian dari kedua perusahaan. Yang jelas, BUMI belum memberikan sinyal kuat soal keterlibatannya dalam pembelian saham Kideco. Semua masih sebatas spekulasi pasar yang beredar di kalangan pelaku industri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
BCA Digital Luncurkan Buku Rekor MURI dari 50 Karya Jurnalis
IHSG Ditutup Melemah ke 5.925, Tekanan Jual Masih Mendominasi
BTPN Syariah Siap Buyback Saham Rp1 Triliun
Arsjad: Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup, Rakyat Harus Rasakan Manfaatnya
Berita Terbaru
Target PLTS 100 GWp 2029: Pengamat Sebut Kunci Ada di Eksekusi
Pertamina Percepat Pemulihan Pasokan BBM di Bali, Kirim 24 Jam
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
PLN Dukung Kopdes Merah Putih Jadi Titik Bayar Listrik
Pelatihan Brevet Pajak AB Siap Bekali Praktik Perpajakan
IHSG Terjun Bebas, Jauhi Level 6.000 di Awal Perdagangan
Dolar AS Menguat ke Rp 17.948 Pagi Ini
