Buruh Bangunan di Hanoi Alami Gagal Ginjal Akut Usai 11 Jam di Bawah Terik

Jaka M. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Buruh Bangunan di Hanoi Alami Gagal Ginjal Akut Usai 11 Jam di Bawah Terik

Gambar atau konten salah?

Cuaca panas yang ekstrem belakangan ini bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Paparan suhu tinggi dalam waktu yang lama, terutama saat melakukan aktivitas fisik berat di luar ruangan, bisa memicu gangguan kesehatan serius hingga menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital dalam tubuh.

Seorang pria berusia 25 tahun asal Son La, Vietnam, mengalami hal ini. Ia bekerja sebagai buruh bangunan di Hanoi. Setelah terbiasa bekerja hingga 11 jam setiap hari di bawah terik matahari, pria tersebut harus menjalani perawatan intensif di E Hospital karena mengalami kondisi yang mengancam nyawa.

Sepulang bekerja, pria tersebut awalnya merasakan kelelahan berat, rasa haus yang berlebihan, dan nyeri di sekujur tubuh. Namun, gejalanya berkembang dengan cepat menjadi lebih serius. Tubuhnya mendadak kaku, mengalami nyeri otot hebat, dan kehilangan tenaga hingga tidak mampu bergerak. Rekan-rekannya kemudian segera membawanya ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan medis.

Saat diperiksa di Departemen Nefrologi, Urologi, dan Hemodialisis, tim medis menemukan sejumlah tanda yang menunjukkan kondisi serius. Pasien mengalami oliguria, yaitu penurunan volume urine secara drastis, serta urine berwarna gelap pekat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa pasien mengalami cedera ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI) yang dipicu oleh dehidrasi berat.

Tak hanya itu, ia juga didiagnosis mengalami Streptomialisis atau rhabdomyolysis, yakni kondisi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan. Dokter yang menangani kasus tersebut, Nguyen Van Lap, menjelaskan bahwa kombinasi aktivitas fisik berat dan suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada otot sekaligus ginjal.

"Ketika tubuh aktif dengan intensitas tinggi di lingkungan bersuhu tinggi, jumlah air dan elektrolit yang hilang melalui keringat sangat besar. Jika tidak segera diganti, tubuh akan mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit," analisis Dr Nguyen Van Lap.

"Selain itu, kelelahan yang berlebihan dapat merusak sel otot, menyebabkan streptomialisis. Produk dari proses penghancuran otot (mioglobin) dilepaskan ke dalam darah, menyebabkan ginjal kelebihan beban (overload) untuk mengeluarkannya, sehingga meningkatkan risiko kerusakan ginjal akut," tambahnya.

Belajar dari kasus tersebut, Dr Nguyen Van Lap mengingatkan masyarakat, khususnya pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, agar lebih bijak mengatur jam kerja dan menghindari paparan panas berlebihan pada waktu-waktu puncak. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh dengan minum air secara rutin serta mengganti elektrolit yang hilang akibat produksi keringat berlebih.

Masyarakat dianjurkan segera menghentikan aktivitas dan mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala-gejala berikut:

  • Kelelahan ekstrem yang tidak membaik meski sudah beristirahat.
  • Nyeri otot hebat disertai kekakuan.
  • Kram berat pada tangan atau kaki.
  • Rasa haus yang terus-menerus.
  • Urine berwarna gelap atau jumlahnya jauh lebih sedikit dari biasanya.

Gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda awal dehidrasi berat maupun gangguan fungsi ginjal yang memerlukan penanganan medis segera.

Kasus di Vietnam ini menjadi pengingat bahwa cuaca panas ekstrem bukan sekadar ketidaknyamanan. Bagi mereka yang bekerja di luar ruangan, paparan panas yang berkepanjangan bisa berakibat fatal. Dehidrasi berat dan kerusakan otot adalah dua ancaman yang saling terkait, dan keduanya bisa berujung pada gagal ginjal akut jika tidak ditangani dengan cepat. Menjaga asupan cairan dan elektrolit, serta mengenali tanda-tanda awal kelelahan akibat panas, adalah langkah-langkah yang tidak boleh diabaikan.

cuaca panas ekstremdehidrasi beratcedera ginjal akutrhabdomyolysisaktivitas fisik beratkelelahan ekstremnyeri otot hebat

Komentar

Memuat komentar...