Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Dimulai
Gambar atau konten salah?
Pemerintah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah-sekolah. Tujuannya sederhana: mendeteksi masalah kesehatan pada siswa sedini mungkin. Program ini menyasar semua jenjang pendidikan, dari SD, SMP, hingga SMA. Semakin dini gangguan kesehatan ditemukan, semakin cepat penanganan bisa dilakukan.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan CKG di sekolah? Program ini adalah kegiatan skrining kesehatan bagi peserta didik. Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional. Jenis pemeriksaannya pun disesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikan siswa. Bukan hanya kesehatan fisik yang diperiksa. Program ini juga mencakup skrining kesehatan mental, status gizi, kesehatan indra, hingga deteksi penyakit tertentu. Hasil dari pemeriksaan ini diharapkan bisa menjadi acuan bagi sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan. Tujuannya untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Jenis pemeriksaan tidak sama untuk semua siswa. Semakin tinggi jenjang sekolah, semakin banyak aspek kesehatan yang diperiksa. Hal ini karena risiko penyakit dan gangguan kesehatan berbeda pada setiap kelompok usia.
Untuk jenjang SD (usia 7-12 tahun), pemeriksaan meliputi: status gizi, skrining merokok (khusus kelas 4-6), tingkat aktivitas fisik (kelas 4-6), tekanan darah, tuberkulosis, pemeriksaan telinga, mata, dan gigi. Ada juga kesehatan jiwa, skrining hepatitis B, kesehatan reproduksi (kelas 4-6), dan riwayat imunisasi (kelas 1). Untuk wilayah endemis, ada skrining malaria dan frambusia. Pemeriksaan juga mencakup skrining kusta dan skabies.
Untuk jenjang SMP (usia 13-15 tahun), pemeriksaannya lebih luas. Selain status gizi, skrining merokok, aktivitas fisik, tekanan darah, dan tuberkulosis, ada tambahan pemeriksaan gula darah, talasemia, dan anemia (khusus kelas 7). Pemeriksaan telinga, mata, gigi, kesehatan jiwa, skrining hepatitis B dan C, serta kesehatan reproduksi tetap dilakukan. Khusus siswi kelas 9, ada skrining riwayat imunisasi HPV. Skrining malaria, frambusia, kusta, dan skabies juga dilakukan di wilayah endemis.
Untuk jenjang SMA (usia 16-17 tahun), daftar pemeriksaannya mirip dengan jenjang SMP. Perbedaannya, anemia diperiksa pada remaja putri kelas 10. Pemeriksaan gula darah, talasemia, dan skrining hepatitis B dan C tetap ada. Semua pemeriksaan indra dan skrining penyakit menular juga dilakukan.
Melalui program ini, berbagai masalah bisa terdeteksi lebih awal. Gangguan penglihatan, pendengaran, anemia, gizi buruk atau berlebih, hingga risiko penyakit menular bisa diketahui. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat. Hasilnya, siswa bisa belajar dengan lebih sehat dan nyaman.
Lalu, bagaimana pelaksanaan CKG di sekolah? Program ini adalah hasil kerja sama antara sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas. Alurnya cukup jelas. Pertama, sekolah berkoordinasi dengan puskesmas untuk menentukan jadwal pemeriksaan. Kedua, murid melakukan registrasi dan mengisi skrining kesehatan melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Ketiga, sekolah memverifikasi data peserta yang sudah mendaftar. Keempat, tenaga kesehatan datang ke sekolah dan melakukan pemeriksaan sesuai jadwal. Terakhir, hasil pemeriksaan menjadi bahan tindak lanjut. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan akan berkoordinasi.
Pendaftaran dilakukan melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Aplikasi ini bisa diunduh dari Google Play Store atau App Store. Cara pendaftarannya berbeda untuk setiap jenjang. Untuk siswa TK hingga SMP, pendaftaran didampingi orang tua. Sementara siswa SMA dan SMK bisa mendaftar secara mandiri.
Langkah-langkah pendaftarannya sebagai berikut. Pertama, masuk ke aplikasi menggunakan akun SATUSEHAT. Kedua, tambahkan profil peserta didik melalui menu Profil Tertaut, lalu pilih anak yang akan diperiksa. Ketiga, isi data penerbitan tiket pemeriksaan. Data yang perlu diisi meliputi identitas peserta, jenjang sekolah, lokasi sekolah, data BPJS Kesehatan (jika ada), alamat, riwayat kesehatan, dan data orang tua atau wali. Keempat, periksa kembali data yang sudah diisi, centang formulir persetujuan, lalu simpan. Tiket pemeriksaan akan terbit secara otomatis. Terakhir, isi skrining kesehatan mandiri pada menu yang tersedia hingga semua pertanyaan selesai dijawab.
Program CKG di sekolah adalah upaya preventif yang sistematis. Dengan skrining yang disesuaikan usia, pemerintah berusaha menjaring masalah kesehatan sejak dini. Ini bukan sekadar pemeriksaan rutin, melainkan langkah awal untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan bisa belajar dengan optimal. Keterlibatan orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Top Assist Piala Dunia 2026: Olise Puncaki Klasemen
Rutinitas Kulit Sehat di Tengah Panas Surabaya
Mahasiswa Australia Ajar Bahasa Inggris di MI Lamongan
Kumpulan Doa Belajar Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Gapasdap Desak Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Masuk PSN
SDN Gunungsari 4 Hanya Terima 8 Siswa Baru
Berita Terbaru