Cimory Ungkap Standar Ketat Produksi Sosis Kanzler
Gambar atau konten salah?
Di balik perdebatan soal makanan olahan—apakah sehat atau tidak—ada satu sisi yang jarang dibahas: proses kontrol ketat yang dijalankan produsen. Bukan hanya soal rasa atau kemasan. Tapi soal bagaimana bahan baku dipilih, bagaimana proses produksi berlangsung, dan bagaimana produk dijaga sampai ke tangan konsumen.
Sederhananya, mengolah pangan itu mengubah bahan mentah jadi sesuatu yang lebih aman, lebih tahan lama, lebih praktis, atau siap santap. Memasak, membekukan, fermentasi, pasteurisasi—semua itu bentuk pengolahan. Dan semua itu sudah jadi bagian keseharian kita sejak lama.
Jadi, menilai sebuah produk pangan tidak bisa cuma dari label "olahan" atau "bukan olahan". Ada faktor lain: bahan baku, proses produksi, kandungan gizi, cara menyimpan, sampai cara mengonsumsinya. Semua itu ikut menentukan.
Di industri pangan modern, urusan kualitas dimulai jauh sebelum produk sampai ke tangan konsumen. Bahan baku dipilih dengan standar tertentu. Proses produksi dirancang untuk menjaga keamanan dan konsistensi. Ini bukan sekadar jargon.
Pendekatan itulah yang dipakai dalam produksi makanan konsumen di Cimory Group. Axel Sutantio, CEO Consumer Food Cimory Group, memimpin bisnis ini—termasuk sosis merek Kanzler. Menurut dia, semuanya berawal dari bahan baku.
"Bahan bakunya harus benar, kemudian prosesnya harus benar, baru bisa menghasilkan produk yang baik," kata Axel dalam keterangan tertulis, Senin 21 September 2026.
Bagi Axel, titik awal adalah memastikan bahan baku sesuai standar produk yang ingin dihasilkan. Untuk produk berbasis daging, jenis dan kualitas daging menentukan karakter produk akhir.
Daging yang dipakai untuk sosis Kanzler, jelasnya, adalah 100% fillet ayam tanpa tulang dan kulit. Bukan daging yang dipisahkan secara mekanis atau mechanically deboned meat (MDM).
"Untuk daging, kami benar-benar memakai 100% daging fillet, boneless, dan skinless," ujarnya.
Setelah bahan baku, proses produksi jadi tahap krusial berikutnya. Teknologi pangan modern, kata Axel, memungkinkan produsen menjaga keamanan dan kualitas lewat pengendalian suhu, proses pemasakan, pembekuan, dan penyimpanan yang presisi. Salah satu teknologi yang dipakai adalah individual quick freezing (IQF).
Setelah matang, produk dibekukan dengan cepat. Suhu produk turun dalam waktu singkat—jauh lebih cepat dibanding metode pembekuan biasa. Pembekuan cepat ini membantu produk melewati rentang suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri. Jadi aspek higienis dan kesehatan tetap terjaga.
Di saat yang sama, pembekuan cepat menghasilkan kristal es yang lebih kecil. Ini membantu menjaga tekstur produk. Berbeda dengan pembekuan lambat yang bisa merusak struktur.
Teknologi seperti ini menunjukkan bahwa daya simpan makanan tidak selalu soal bahan pengawet. Pengendalian suhu dan rantai dingin (cold chain) juga berperan besar dalam menjaga produk selama distribusi dan penyimpanan.
"Kita percaya kalau cepat busuk itu lebih baik. Artinya, memang tidak memakai pengawet," ujar Axel, lulusan Food Science & Technology dari Curtin University of Technology, Australia.
Pendekatan ini menempatkan kontrol bahan baku, proses produksi, dan penyimpanan sebagai tiga pilar utama menjaga kualitas produk.
Pada akhirnya, diskusi soal makanan olahan perlu dilihat lebih luas. Konsumen bisa memperhatikan komposisi produk, informasi nilai gizi, porsi konsumsi, dan bagaimana makanan itu cocok dengan pola makan sehari-hari.
Bukan cuma dari sisi produk. Konsumen juga bisa melihat siapa produsennya. Apakah sudah punya izin? Apakah punya sertifikasi yang relevan? Apakah transparan mencantumkan nilai gizi dan petunjuk konsumsi?
Industri pangan olahan itu besar. Apalagi di Indonesia, konsumsi domestik jadi tulang punggung ekonomi. Proses pengolahan makanan melibatkan ilmu dan teknologi yang terus berkembang—untuk mendukung mutu, keamanan, dan kesehatan konsumen.
Pada dasarnya, makanan olahan bukan satu kategori hitam-putih. Ada gradasi. Ada proses. Ada standar. Dan produsen yang serius menjalankan kontrol ketat dari hulu ke hilir. Konsumen punya pilihan—dan informasi adalah alatnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait