Condet: Dari Parfum Olesan Kini Jadi Pusat Wangi Dunia

Tika M. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Condet: Dari Parfum Olesan Kini Jadi Pusat Wangi Dunia

Gambar atau konten salah?

Jakarta memiliki satu kawasan yang sangat khas di bagian timurnya, yaitu Condet. Tempat ini terkenal dengan budaya Betawi yang kuat dan nuansa religius yang kental. Tapi ada satu hal unik yang membuatnya begitu dikenal: julukan Kampung Parfum. Lalu, bagaimana sebenarnya asal-usul nama itu?

Semuanya berawal dari pengaruh budaya Arab yang dibawa oleh masyarakat keturunan Arab yang tinggal di sana. Kisah ini mulai terbentuk pada tahun 1970-an. Saat itu, para pedagang parfum mulai berjajar di sepanjang jalan Condet. Mereka menjual parfum dengan cara yang sangat berbeda dari sekarang. Botol-botol parfum diletakkan begitu saja di atas meja, tanpa etalase atau rak yang rapi.

Dari situlah, jumlah pedagang parfum terus bertambah. Tidak hanya dari kalangan tertentu, semua orang bisa berjualan parfum di Condet. Kini, tempat ini bisa disebut sebagai pusat parfum. Seorang karyawan toko parfum bernama Aldi menceritakan bagaimana awalnya hanya ada beberapa toko pada tahun 1990-an.

"Dari dulu, tahun 97-an dulu tuh di pinggiran bukan toko-toko kayak gini, di pinggir-pinggir jalan gitu jualannya kayak (parfum) roll-on yang oles-oles. Dari situ mulai 1, 2, 3 toko jadi semua rata," kata Aldi. Ia menjelaskan bahwa awalnya parfum dijual dengan cara dioleskan, bukan dalam botol semprot seperti sekarang.

Perkembangan ini juga dipengaruhi oleh kegiatan keagamaan. "Jadi dari waktu ke waktu apalagi ada Masjid Al-Hawi sering ada acara-acara maulid gitu, jadi orang (berfikir) pasar parfum kayaknya bagus di Condet. Jadi lama-lama orang buka toko-toko jadi lebih banyak gitu," kata Aldi. Acara maulid di masjid itu membuat orang melihat peluang bisnis parfum di Condet.

Yang menarik, toko-toko parfum di Condet menawarkan banyak pilihan. Bagi yang ingin parfum dengan merek terkenal, ada banyak koleksi dengan harga yang lebih terjangkau. "Banyak dupe (duplikat) yang dijual di sini, dari brand terkenal kayak Dior, Bulgari, Aigner, Channel, Hugo Boss, banyak lagi itu," ungkap Aldi sambil menyiapkan pilihan parfum.

Harga parfum di Condet bervariasi, tergantung kualitasnya. Rata-rata, harga mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per mililiter. Ukuran botol yang biasa dibeli adalah 30 hingga 50 mililiter. Pembeli tidak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari luar kota. Bahkan, ada yang dari luar negeri.

"Ada dari Malaysia, terus kemarin ada dari Timur Tengah, Oman. Terus terakhir saya ngelayani dia dari Timur Tengah juga sih, Kuwait kalau nggak salah," kata Aldi. Ini menunjukkan bahwa Condet sudah dikenal hingga ke mancanegara.

Selain sebagai Kampung Parfum, Condet juga punya sisi lain. Tempat ini adalah rumah bagi buah-buahan khas seperti salak dan duku. Menurut laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum, lokasi perkebunan salak dan duku Condet berada di Kecamatan Kramat Jati. Kini, area itu disebut Cagar Buah Condet.

"Lokasinya berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya," tulis penjelasan di laman tersebut. Kebun seluas kurang lebih 3,7 hektar itu dulunya milik warga asli Condet. Kemudian, lahan itu diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian.

Di Condet, juga bisa ditemukan berbagai kuliner khas Betawi. Ada dodol betawi, emping condet yang berukuran besar, dan tape uli. Selain itu, ada Padepokan Ciliwung Condet, sebuah komunitas yang fokus pada pelestarian lingkungan, seni, dan budaya Betawi.

Jadi, Condet bukan hanya sekadar tempat jualan parfum. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang tentang budaya, perdagangan, dan pelestarian alam. Dari parfum hingga buah-buahan, semuanya berpadu menjadi satu identitas yang unik.

CondetKampung ParfumBudaya BetawiParfumMasjid Al-HawiSalakDuku

Komentar

Memuat komentar...