Jalanan Putih di Bandung Barat Bukan Salju, Tapi Debu Kapur
Gambar atau konten salah?
Bayangkan Anda sedang berkendara di jalan raya, lalu tiba-tiba semua yang Anda lihat—permukaan jalan, tembok rumah, bahkan daun-daun tanaman di pinggir jalan—berubah menjadi putih. Itulah pemandangan yang ditemui di Jalan Raya Padalarang-Cianjur, tepatnya di Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sekilas, pemandangan itu mengingatkan pada musim dingin di Jepang, Korea Selatan, atau Swiss, di mana salju turun dan menyelimuti segala sesuatu. Namun, warna putih yang menempel di sana bukanlah salju. Ini adalah debu halus dari pabrik-pabrik pengolahan batu kapur yang beroperasi di kawasan tersebut.
Partikel-partikel kecil dari batu kapur ini beterbangan dan menempel di mana-mana. Bodi mobil, kaca depan, hingga helm pengendara motor semuanya terkena lapisan debu putih. Kondisi ini bukan hal baru bagi warga setempat, namun baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah banyak orang membagikan foto dan video pemandangan yang tak biasa ini.
Rizaldi, seorang warga Cimahi yang sering melewati jalan tersebut, menjelaskan bahwa kondisi ini semakin parah saat musim kemarau tiba. "Kebetulan saya agak sering lewat sini, jadi memang kondisinya seperti ini. Apalagi sekarang musim kemarau, jadi lebih nempel. Beda kalau musim hujan, mending bisa kebawa air," ujarnya pada 22 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa saat menggunakan sepeda motor, ia harus memakai helm yang memiliki kaca. Jika tidak, ia akan melengkapi diri dengan masker dan kacamata. "Kalau polos tanpa kacamata atau masker, perih ke mata. Kan debu kapur, ditambah di sini banyak truk batu sama pasir. Kalau lagi pakai mobil ya tenang, enggak enaknya kalau lagi pakai motor," katanya.
Warga lain, Hidayat, menceritakan dampak yang lebih serius. Anaknya, menurut dia, sering mengalami gangguan pernapasan karena kualitas udara yang buruk. "Karena debunya tebal, jadi anak itu sering sesak napas. Namanya anak juga kan main di luar ya, akhirnya saya pesantren kan saja biar lingkungannya bersih dan sehat. Belum lagi saya suka gatal-gatal, karena kan tiap hari kena debunya," kata Hidayat. Ia akhirnya memutuskan untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren, berharap lingkungan yang lebih bersih dan sehat dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Di balik keluhan ini, kawasan Citatah dan Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, telah lama menjadi pusat pengolahan batu kapur, marmer, dan berbagai hasil tambang lainnya. Batu-batu dari sini diolah menjadi bahan baku untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari pakan ternak, pupuk, hingga bahan pembuatan semen. Ada juga batu yang diolah menjadi marmer untuk keperluan rumah tangga. Industri ini telah menjadi sumber penghidupan bagi ribuan orang selama belasan hingga puluhan tahun. Rochyadi, salah satu pekerja di tambang kapur, menceritakan pengalamannya. "Selama ini saya cuma bekerja di tambang kapur. Tahun lalu sempat ditutup operasional sama pemerintah, sekarang sudah berjalan normal," katanya.
Menanggapi viralnya kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat bergerak. Mereka berencana untuk segera turun ke lokasi dan melakukan pengecekan. "Informasi ini akan kami tindak lanjuti sebagai bagian dari proses pengaduan. Sesuai SOP, kami berencana turun ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya dan mencocokkan dengan informasi yang beredar," kata Adhi Setyowibowo, Petugas PPLH pada DLH KBB.
Kampung Pamucatan dan sekitarnya memang menjadi saksi bisu dari dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi, ada industri yang menghidupi ribuan keluarga. Di sisi lain, ada debu yang mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga. Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana menyeimbangkan keduanya?
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
1.015 Sekolah Swasta Jabar Akui Siap Tampung Siswa Gagal Masuk Negeri
Wali Kota Bandung Bubarkan Pedagang Cuanki di Depan Masjid Pusdai
Jadwal SIM Keliling Bandung 22-27 Juni 2026
Jalan Kaki 30 Menit Sehari, Tubuh Rasakan 5 Perubahan Besar Ini
Cuaca Bandung Besok: Kabupaten Cerah, Kota Hujan Ringan
Jabar dan BPS Teken Kerja Sama untuk Sensus Ekonomi 2026
Berita Terbaru
Jalanan Putih di Bandung Barat Bukan Salju, Tapi Debu Kapur
5 Restoran Bersejarah di Jakarta, Sajikan Hidangan dalam Bangunan Kolonial
Veda Ega Start P20, Finis P5 di Moto3 Brno
Survei: Kepercayaan pada AI Anjlok Meski Pemakaian ChatGPT Melonjak
ProGIB Jember Desak MBG Lanjut, Usut Praktik Curang
Stasiun KRL JIS Resmi Beroperasi, Satu Peron Saja
IHSG Anjlok 60 Poin ke 6.116, 445 Saham Melemah
